
SAMPIT, Supersemar News – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah menduga kemunculan orang utan di kawasan perkebunan warga di Jalan Jenderal Sudirman Km 15, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sekitar wilayah tersebut.
“Di sekitar lokasi banyak terlihat asap kebakaran. Dugaan kuat kami, orang utan itu menghindari kebakaran dan asap kemudian masuk ke kebun atau ladang warga yang relatif lebih aman,” kata Komandan BKSDA Resort Sampit Muriansyah di Sampit, Senin.
Muriansyah menjelaskan, petugas melakukan observasi di lokasi kemunculan dan gangguan orang utan pada Senin pukul 09.00 hingga 11.30 WIB. Akses menuju lokasi cukup mudah karena kendaraan roda empat dapat mencapai kawasan tersebut.
Lokasi yang dilaporkan merupakan semak belukar yang telah dibuka masyarakat untuk lahan pertanian atau ladang. Di sekitar lahan tersebut juga banyak terdapat tanaman kelapa sawit milik warga.
Petugas bertemu dengan pelapor bernama Fahmi dan sejumlah rekannya. Berdasarkan keterangan mereka, sedikitnya 15 batang kelapa sawit mengalami kerusakan dan diduga menjadi sasaran pakan orang utan.
Petugas kemudian bersama pelapor melakukan pencarian untuk memastikan keberadaan satwa tersebut. Namun, orang utan tidak ditemukan di lokasi saat dilakukan pemantauan.
Meski begitu, petugas menemukan satu sarang orang utan kelas tiga di sekitar kawasan tersebut. Temuan sarang itu memperkuat dugaan bahwa satwa yang merusak tanaman kelapa sawit warga memang orang utan.
“Dari bekas pelepah kelapa sawit yang dimakan dan kondisi bekasnya, kami memperkirakan aktivitas itu terjadi sekitar dua sampai empat minggu lalu. Jadi, orang utannya kemungkinan sudah bergerak ke lokasi lain,” ujar Muriansyah.
Petugas juga menemukan indikasi aktivitas kebakaran di sekitar kawasan tersebut. Asap terlihat membubung dari titik yang diperkirakan berada beberapa kilometer dari lokasi, sehingga memperkuat dugaan bahwa pergerakan satwa berkaitan dengan upaya mencari tempat yang lebih aman dari api dan asap.
Muriansyah mengungkapkan, kejadian serupa sebelumnya juga dilaporkan di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, sekitar sepekan lalu.
Di wilayah tersebut memang terjadi kebakaran sehingga orang utan diduga bergerak keluar dari habitatnya menuju perkebunan warga. Namun, pemantauan lanjutan di Bapanggang Raya belum menemukan kembali keberadaan orang utan tersebut.
Kondisi perkebunan warga yang cukup luas membuat satwa dapat berpindah dengan cepat, terutama karena sebagian lahan berupa kebun karet dan telah beralih menjadi perkebunan kelapa sawit.
“Entah kemana dia (orang utan) bergerak, karena kebun warga di sana itu cukup luas, kebanyakan kebun karet dan diubah sudah sebagian ke kelapa sawit,” ucapnya.
Dengan laporan terbaru di Jalan Jenderal Sudirman Km 15, BKSDA Resort Sampit telah menerima sedikitnya dua laporan kemunculan orang utan yang diduga berkaitan dengan karhutla dalam waktu berdekatan.
Muriansyah memperkirakan masih terdapat lokasi lain yang berpotensi menjadi jalur perpindahan satwa. Salah satunya kawasan Jalan Jaksa atau jalur lurus Jalan Samekto menuju akses baru ke Desa Kandan yang juga dilaporkan mengalami kebakaran.
“Di lokasi itu sebelumnya juga ada orang utan. Jadi, kami menduga masih ada satwa yang bergerak mencari kawasan yang lebih aman setelah terjadi kebakaran,” ungkapnya.
Sebelumnya, BKSDA juga menerima informasi mengenai ular yang ditemukan mati terbakar di kawasan Jalan Mohammad Hatta atau Jalan Lingkar Selatan, Sampit.
BKSDA menduga jumlah satwa yang menjadi korban kebakaran masih lebih banyak karena sebagian kemungkinan mati di dalam sarangnya tanpa diketahui masyarakat.
“Satwa yang masih bisa lari akan berusaha menjauh dari kebakaran. Tetapi yang tidak sempat menyelamatkan diri bisa mati terpanggang, seperti beberapa ular yang ditemukan mati terbakar,” tuturnya.
Ia melanjutkan, ketika karhutla terjadi, satwa liar secara alami akan berusaha menjauh dari api dan asap. Kebun, ladang, maupun kawasan sekitar pemukiman dapat menjadi pilihan karena relatif lebih aman akibat adanya aktivitas dan penjagaan masyarakat.
Selain itu, kawasan perkebunan warga biasanya masih memiliki sumber air, seperti parit pembatas lahan dan sumur di sekitar pondok. Satwa juga dapat menemukan sumber pakan pengganti, seperti umbut kelapa sawit maupun nanas.
Kondisi tersebut sekaligus meningkatkan potensi konflik antara satwa liar dengan manusia. Orang utan misalnya dapat memakan umbut sawit atau nanas, sedangkan beruang dapat masuk ke kebun untuk mencari nanas maupun memangsa ternak seperti ayam dan itik.
Konflik dapat terjadi ketika masyarakat merasa dirugikan oleh keberadaan satwa. Dalam situasi tersebut, satwa liar justru berisiko menjadi pihak yang dirugikan karena dianggap mengganggu aktivitas dan tanaman milik warga.
Mengantisipasi meningkatnya konflik satwa liar akibat karhutla, BKSDA mengimbau masyarakat tidak menggunakan api untuk membersihkan lahan. Masyarakat juga diminta tidak menangkap, melukai, atau membunuh satwa liar yang masuk ke kebun maupun ladang.
“Kalau bertemu satwa liar, jangan berusaha menangkap atau membunuhnya. Segera laporkan kepada petugas BKSDA agar bisa ditangani dengan aman,” katanya.
Muriansyah menambahkan, satwa seperti kukang, bekantan, maupun ular yang tidak mengganggu sebaiknya dibiarkan dan tidak diprovokasi.
Kehadiran satwa tersebut di sekitar kebun atau permukiman dapat menjadi bagian dari upaya mereka menyelamatkan diri dari kebakaran dan asap.
BKSDA juga meminta masyarakat segera memberikan informasi apabila kembali melihat orang utan maupun satwa liar yang dilindungi di sekitar perkebunan, ladang atau permukiman.
“Laporan cepat diperlukan agar petugas dapat melakukan pemantauan dan mengambil langkah penanganan sebelum terjadi konflik antara satwa dan manusia,” demikian Muriansyah.
Sumber : ANTARANews Kalteng
