Dalam momen Milangkala ke-10, jajaran LSM Pakuan Padjadjaran tampak menyerahkan Kujang Ciung bermata 9 secara langsung kepada Bupati Bogor sebagai simbol amanah dan penghormatan budaya, sebagaimana tergambar dalam prosesi penyerahan pada foto tersebut.

Acara Milangkala yang Sarat Makna

SUPERSEMAR NEWS – BOGOR – Peringatan Milangkala ke-10 LSM Pakuan Padjadjaran menjadi momentum yang bukan hanya bersejarah, tetapi juga bernilai strategis bagi perjalanan gerakan masyarakat sipil di Kabupaten Bogor. Acara yang berlangsung pada Selasa, 9 Desember 2025 itu digelar bertepatan dengan Hari Anti Korupsi Sedunia, sehingga menghadirkan rangkaian prosesi yang kental dengan nilai budaya, moral publik, dan spirit perubahan.

Perayaan ini tidak sekadar menandai usia organisasi, melainkan memperkuat jati diri LSM sebagai lembaga yang konsisten mengawal pemerintahan daerah, menjaga warisan budaya Sunda, serta menyuarakan gerakan antikorupsi sebagai bagian dari komitmen bersama dalam menjaga marwah birokrasi.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua LSM Pakuan Padjadjaran, Yudi MA Danumihardja Diponegoro, memimpin langsung proses penyerahan Kujang Ciung bermata 9 kepada Bupati Bogor Rudy Susmanto, sebuah prosesi simbolik yang menyimpan makna mendalam bagi masyarakat adat dan pemangku kebijakan di wilayah Bogor.

Sejarah Singkat LSM Pakuan Padjadjaran

Komitmen Budaya dan Peran Advokasi Publik

Sejak berdiri sepuluh tahun lalu, LSM Pakuan Padjadjaran menempatkan diri sebagai organisasi yang memadukan nilai-nilai budaya Padjadjaran dengan gerakan sosial modern. Selama satu dekade, lembaga ini aktif dalam bidang:

  • Pendampingan masyarakat
  • Advokasi kebijakan publik
  • Pengawasan layanan pemerintah
  • Edukasi budaya
  • Pelestarian adat Sunda
  • Pemantauan kinerja pejabat publik
  • Aktivisme lingkungan dan hukum adat

Yudi MA Danumihardja, selaku ketua umum yang dikenal tegas dan visioner, menyampaikan bahwa perjalanan LSM tidak pernah lepas dari dinamika pergerakan masyarakat sipil di tingkat lokal. Tantangan semakin kompleks, tetapi arah perjuangan tetap sama: menegakkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan amanah leluhur.

Prosesi Penyerahan Kujang: Simbol, Filosofi, dan Pesan Moral

Kujang Ciung Bermata 9, Sebuah Pusaka dengan Nilai Filsafat Mendalam

Simbol utama dalam perayaan ini adalah pemberian Kujang Ciung bermata 9, sebuah pusaka yang diyakini masyarakat Sunda sebagai lambang kemuliaan, keberanian, kehormatan, dan kepemimpinan yang berlandaskan amanah. Kujang jenis ini memiliki ciri khas:

  • Bentuk menyerupai burung Ciung
  • Sembilan mata simbol batin dan penjaga spiritual
  • Representasi angka sakral dalam tradisi Sunda
  • Makna kepemimpinan luhur

Penyerahan pusaka ini kepada Bupati Bogor Rudy Susmanto bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bentuk legitimasi moral dari masyarakat adat kepada seorang pemimpin daerah. Prosesi tersebut, menurut Yudi, merupakan pesan bahwa seorang pemimpin harus:

  • Tegak dalam nilai kebaikan
  • Menjaga amanah rakyat
  • Menolak segala bentuk penyimpangan, termasuk korupsi
  • Mengedepankan keadilan sosial

Hari Antikorupsi Sedunia dan Relevansinya di Bogor

Membangun Sinergi Gerakan Sipil dan Pemerintah Daerah

Momentum Hari Anti Korupsi Sedunia dipilih bukan tanpa alasan. LSM Pakuan Padjadjaran ingin mempertegas bahwa korupsi merupakan ancaman utama pembangunan daerah. Sinergi antara masyarakat sipil, tokoh budaya, dan pemerintah menjadi kunci untuk mengatasi masalah tersebut.

Selama satu dekade, LSM ini konsisten memberikan rekomendasi publik mengenai:

  • Transparansi anggaran
  • Pengawasan proyek infrastruktur
  • Akuntabilitas jalannya pemerintahan
  • Pendampingan masyarakat terkait hak layanan publik
  • Pemetaan indikasi fraud di tingkat desa dan kecamatan

Menurut LSM, korupsi bukan sekadar kejahatan luar biasa, tetapi juga tindakan yang merusak harmoni sosial dan mengingkari nilai-nilai budaya Sunda, terutama pesan Karuhun mengenai kejujuran dan amanah.

Pernyataan Ketua LSM: Suara Lantang untuk Masa Depan Bogor

“Kujang Ciung adalah simbol amanah”

Dalam pidatonya, Yudi MA Danumihardja menyampaikan pernyataan tegas:

“Penyerahan Kujang Ciung bermata 9 merupakan simbol amanah dan harapan bagi Bapak Bupati dalam menjalankan tugas untuk masyarakat Kabupaten Bogor. Semoga kepemimpinan beliau selalu dijaga nilai adat, dijauhkan dari godaan penyimpangan, dan membawa kesejahteraan bagi rakyat.”

Lebih lanjut, Yudi menjelaskan bahwa pemberian pusaka ini adalah bentuk dukungan moral, sekaligus pengingat agar pemerintah tetap berjalan di bawah garis kebenaran.

Respon Bupati: Komitmen Kepemimpinan dan Penguatan Integritas

Meskipun pernyataan resmi Bupati tidak disampaikan panjang, tetapi kehadiran Bupati Bogor Rudy Susmanto dalam acara tersebut menjadi bukti kedekatan pemimpin daerah dengan komunitas budaya dan tokoh adat.

Rudy sebelumnya dikenal sebagai sosok yang kerap menggencarkan:

  • Program birokrasi bersih
  • Transparansi layanan publik
  • Reformasi administrasi daerah
  • Tata kelola pembangunan yang berbasis data
  • Kolaborasi dengan organisasi masyarakat

Dalam konteks Hari Antikorupsi, pesan yang disampaikan LSM kepada Bupati memiliki bobot simbolik yang kuat. Kolaborasi pemerintah dan LSM diharapkan mampu menekan potensi korupsi di berbagai sektor.

Nilai Budaya Sunda sebagai Fondasi Moral Kepemimpinan

Kearifan Lokal sebagai Kontrol Sosial

Adat Padjadjaran mengajarkan prinsip kepemimpinan yang harus melekat pada seorang pejabat daerah, di antaranya:

  • Ngaraksa lembur (menjaga wilayah)
  • Ngayomi rakyat (melindungi masyarakat)
  • Teler dina amanah (taat pada mandat)
  • Nyaur kudu diukur, nyabda kudu diungang (Setiap keputusan harus terukur dan tidak merugikan rakyat)

Melalui acara Milangkala, LSM ingin menegaskan bahwa nilai budaya bukan hanya aspek seremonial, tetapi merupakan pedoman moral untuk menuntun pemerintahan bersih.

Investigasi: Tantangan Antikorupsi di Bogor

Pohon Masalah Korupsi di Level Lokal

Dalam laporan investigatif internalnya, LSM Pakuan Padjadjaran menyoroti beberapa potensi persoalan yang sering muncul di daerah:

  1. Proyek infrastruktur rawan mark-up
  2. Pengelolaan dana desa kurang diawasi
  3. Perizinan usaha rawan eksploitasi jabatan
  4. Belanja daerah tidak seluruhnya transparan
  5. Mutasi jabatan sering dikaitkan dengan kepentingan tertentu

Namun, laporan tersebut juga mengapresiasi kerja pemerintah yang sudah mulai mengembangkan sistem digitalisasi layanan, sehingga peluang penyimpangan dapat ditekan secara bertahap.

Makna Filosofis Angka 9 dalam Tradisi Sunda

Angka sembilan pada Kujang Ciung bermata 9 bukan angka sembarang. Angka ini diyakini sebagai:

  • Simbol kesempurnaan
  • Puncak derajat kepemimpinan
  • Lambang penjaga wilayah
  • Penanda kekuatan spiritual

LSM berharap bahwa angka tersebut menjadi pengingat bagi pemimpin daerah untuk selalu memprioritaskan kejujuran dan pengabdian.

Penutupan Acara dan Harapan Ke Depan

Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama, penghormatan kepada leluhur, dan refleksi perjalanan selama sepuluh tahun. Para tokoh adat, sesepuh, aktivis sosial, dan masyarakat Bogor turut menyampaikan harapan agar:

  • Pemerintah tetap bersih
  • Birokrasi semakin transparan
  • Budaya Sunda tetap dijunjung
  • Sinergi masyarakat dan pemimpin semakin erat
  • Korupsi diberantas sampai akar

Milangkala ini bukan puncak, tetapi titik awal perjuangan baru dalam memperkuat integritas, budaya, dan pemerintahan daerah.***(SB)

SupersemarNewsTeam