LAMPUNG TIMUR, Supersemar News – Pembangunan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) terus dikebut. TNWK didorong tidak hanya menjadi kawasan konservasi gajah Sumatra, tetapi juga contoh pengelolaan satwa dan pariwisata berbasis konservasi di tingkat dunia.
Dorongan itu disampaikan saat Tim Elephant Nature Park (ENP) Thailand dan Tim Wilderness saat meninjau perkembangan pembangunan di TNWK, Lampung Timur.

Peninjauan dilakukan bersama Kapoksahli Pangdam XXI/Radin Inten Brigjen TNI Sriyanto yang juga menjabat Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TN Way Kambas.

Sriyanto mengatakan peninjauan dilakukan untuk memastikan pembangunan sarana dan prasarana di TNWK berjalan sesuai rencana. Pemantauan juga diperlukan untuk mendeteksi kendala yang dapat menghambat proses pembangunan.

“Monitoring dan koordinasi secara berkelanjutan antara pihak-pihak terkait diperlukan, khususnya dalam mengantisipasi adanya hambatan yang dapat memperlambat progres pekerjaan,” katanya, Minggu (16/8/2026).

Dia menegaskan percepatan pembangunan tidak boleh mengabaikan fungsi TNWK sebagai kawasan konservasi.

“Percepatan pembangunan di kawasan TNWK perlu tetap dilaksanakan dengan memperhatikan aspek pengamanan, kelestarian lingkungan dan ekosistem kawasan konservasi serta kondisi sosial masyarakat sekitar,” ujarnya.

Di sisi lain, penggiat pariwisata dan budayawan Lampung Anshori Djausal menilai Way Kambas memiliki modal besar untuk dikembangkan sebagai kawasan konservasi sekaligus destinasi wisata.

Anshori yang juga Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Lampung berharap Way Kambas bisa menjadi percontohan dunia dalam pelestarian satwa, khususnya gajah Sumatra.

“Saya mendukung upaya konservasi, terlebih jika Way Kambas bisa menjadi percontohan dunia yang berada di Indonesia dalam pengembangan dan pelestarian satwa seperti gajah Sumatra,” kata Anshori.

Menurut Anshori, keberhasilan konservasi harus diukur bukan hanya dari terjaganya populasi gajah, tetapi juga dari berkurangnya konflik antara satwa dan manusia.

“Gajah Sumatra terus lestari dan tidak ada lagi konflik dengan manusia,” ujarnya.

Dia juga berharap pengembangan pariwisata dapat memberikan dampak ekonomi bagi warga di desa-desa penyangga TNWK.

“Semoga pariwisata bisa tumbuh membantu ekonomi masyarakat desa penyangga,” katanya.

Anshori mengatakan konservasi dan pariwisata seharusnya tidak dipertentangkan. Keduanya bisa berjalan beriringan dengan tetap menempatkan kelestarian satwa dan kawasan sebagai prioritas.

“Jadi konservasi dan pariwisata bisa berjalan bersama. Satwanya terlindungi, masyarakat di desa penyangga juga mendapatkan manfaat ekonomi,” jelasnya.

Ia menyebut Way Kambas memiliki sejarah panjang dalam upaya konservasi satwa di Indonesia. Kawasan tersebut kini menjadi lokasi Pusat Konservasi Badak dan konservasi gajah pertama di Indonesia.

Menurut dia, status Way Kambas sebagai kawasan konservasi berawal dari perubahan kawasan bekas hak pengusahaan hutan (HPH) menjadi kawasan konservasi hingga kemudian ditetapkan sebagai taman nasional pada awal 1980-an.

Upaya penyelamatan gajah Sumatra juga menjadi bagian penting dari sejarah kawasan tersebut. Pada pertengahan 1980-an, dilakukan kegiatan untuk menyelamatkan gajah-gajah dari wilayah perbatasan Sumatra Selatan dan memindahkannya ke Way Kambas. Kegiatan tersebut dikenal dengan nama Tata Liman.

“Way Kambas sekarang telah menjadi kawasan konservasi yang penting dengan Pusat Konservasi Badak dan konservasi gajah pertama di Indonesia,” ujar Anshori.

Sumber : detik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *