
JAKARTA, Supersemar News – Dalam kehidupan militer, pangkat dan jabatan memang penting. Keduanya merupakan bagian dari sistem komando, tanggung jawab, sekaligus ukuran kepercayaan institusi kepada seorang prajurit. Namun, ada ukuran lain yang jauh lebih panjang umurnya daripada sekadar pangkat dan jabatan: legacy pengabdian.
Apa yang ditinggalkan seorang prajurit setelah sebuah jabatan selesai? Fasilitas apa yang tetap digunakan? Tradisi apa yang terus hidup? Dan berapa banyak orang yang kemudian tumbuh karena keputusan serta pemikirannya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menarik untuk digunakan ketika melihat perjalanan Brigadir Jenderal TNI (Mar) Suliono, S.E., salah satu perwira tinggi Korps Marinir lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) Angkatan ke-39 tahun 1993.
Kariernya memperlihatkan bahwa pengabdian militer tidak selalu harus dibaca dari deretan jabatan yang pernah diemban, tetapi juga dari karya yang ditinggalkan dan terus memberikan manfaat bagi institusi.
Salah satu fase penting dalam perjalanan tersebut terjadi ketika Brigjen TNI (Mar) Suliono dipercaya menjadi Komandan Komando Latih Korps Marinir pada 2020. Pada periode itu, kebutuhan terhadap medan latihan yang representatif menjadi persoalan penting, terutama di tengah semakin kompleksnya tantangan operasional dan kebutuhan menjaga kesiapan prajurit.
Di titik inilah kepemimpinan diuji. Seorang komandan tidak cukup hanya memberikan perintah dari ruang kerja. Ia harus mampu membaca kebutuhan organisasi, melihat persoalan di lapangan, kemudian mengubah gagasan menjadi sesuatu yang konkret.
Pembukaan daerah latihan tempur di Pantai Baruna, Kondang Iwak, Malang Selatan, menjadi salah satu contoh menarik. Langkah tersebut bukan pekerjaan sederhana. Ada medan yang harus dibuka, kondisi geografis yang harus dipelajari, aspek strategis yang perlu diperhitungkan, hingga persoalan regulasi dan tata ruang yang harus diselesaikan. Dalam bahasa sederhana, pekerjaan itu membutuhkan keberanian untuk memulai sesuatu yang sebelumnya belum tersedia.
Kini, kawasan tersebut menjadi bagian penting dari pembentukan kesiapan prajurit Korps Marinir. Tempat latihan bukan sekadar hamparan tanah tempat prajurit bergerak dan berlatih. Ia merupakan ruang pendidikan karakter, tempat disiplin ditempa, keberanian diuji, dan tradisi keprajuritan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menariknya, jejak kepemimpinan tersebut tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Di kawasan Pantai Baruna berdiri tulisan besar “MARINIR” di atas tebing batu karang yang berhadapan dengan laut lepas Samudra Hindia.
Bagi orang yang hanya melihatnya sebagai tulisan, mungkin tidak ada yang terlalu istimewa. Namun dalam perspektif tradisi militer, simbol semacam itu dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Tebing yang kokoh, laut selatan yang terus bergelombang, dan tulisan MARINIR yang berdiri di tengah lanskap tersebut dapat dibaca sebagai metafora tentang karakter prajurit: teguh, berani, disiplin, dan tidak mudah goyah ketika menghadapi tekanan.
Simbol tidak memenangkan pertempuran. Tetapi simbol dapat menanamkan ingatan, identitas, dan kebanggaan yang kemudian membentuk mentalitas. Di sinilah sebuah fasilitas berubah menjadi warisan nilai.
Kepemimpinan Brigjen TNI (Mar) Suliono juga menarik karena tidak berhenti pada pengalaman komando lapangan. Ia memiliki pengalaman di berbagai level organisasi, termasuk ketika memimpin satuan seperti Batalyon Infanteri 1 dan Brigade Infanteri 1 Marinir.
Pengalaman tersebut memperlihatkan dimensi kepemimpinan operasional yang kemudian dilengkapi dengan pengalaman manajerial dan birokrasi.
Ketika dipercaya menjadi Direktur Umum Akademi TNI, misalnya, tantangan yang dihadapi bukan lagi semata bagaimana menggerakkan pasukan di lapangan. Ada aspek tata kelola, administrasi, koordinasi kelembagaan, dan manajemen organisasi yang membutuhkan kemampuan berbeda.
Seorang pemimpin yang baik memang tidak boleh hanya mahir dalam satu ruang. Ia harus mampu memahami bagaimana keputusan lapangan berhubungan dengan kebijakan, bagaimana strategi diterjemahkan menjadi program, dan bagaimana organisasi dapat bekerja secara tertib untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
Kini, ruang pengabdian Brigjen TNI (Mar) Suliono berada di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas RI), sebagai Kepala Biro Kerja Sama dan Hukum Sekretariat Utama. Posisi ini membawa dimensi pengabdian yang berbeda.
Jika sebelumnya medan pengabdian banyak bersentuhan dengan kesiapan pasukan, kini cakupannya berada pada ruang kerja sama, hukum, kelembagaan, dan pembangunan kapasitas kepemimpinan nasional.
Di Lemhannas, penguatan jejaring kerja sama domestik maupun internasional menjadi bagian penting dari pekerjaan kelembagaan. Begitu pula aspek kepastian hukum yang menjadi fondasi agar organisasi dapat menjalankan tugas secara efektif dan akuntabel.
Yang tidak kalah strategis adalah keterlibatan dalam menyiapkan pendidikan bagi para calon pemimpin nasional. Peserta pendidikan Lemhannas berasal dari berbagai latar belakang, termasuk TNI, Polri, dan unsur sipil.
Artinya, pengabdian pada posisi tersebut tidak lagi hanya berhubungan dengan satu korps atau satu institusi. Ada kontribusi terhadap proses pembentukan wawasan dan kapasitas calon pemimpin bangsa. Di sinilah makna legacy menjadi semakin menarik.
Warisan seorang perwira bukan selalu sesuatu yang dapat dipajang sebagai penghargaan. Kadang ia berupa sebuah medan latihan yang tetap digunakan setelah dirinya berpindah tugas. Kadang berupa tradisi yang terus dijalankan oleh generasi berikutnya.
Kadang berupa sistem kerja yang menjadi lebih tertata. Dan kadang berupa manusia-manusia yang tumbuh menjadi pemimpin karena pernah mendapatkan pendidikan, arahan, atau keteladanan dari seorang senior.
Maka, ukuran pengabdian tidak semestinya berhenti pada pertanyaan: “Jabatan apa yang pernah dipegang?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa yang berubah menjadi lebih baik setelah ia menjalankan amanah itu?”
Itulah barangkali esensi kepemimpinan strategis. Jabatan adalah mandat yang memiliki batas waktu. Pangkat memiliki jenjang. Penugasan akan berganti. Tetapi karya yang benar-benar bermanfaat dapat hidup jauh lebih lama daripada masa jabatan seseorang.
Perjalanan Brigjen TNI (Mar) Suliono memberikan refleksi bahwa pengabdian seorang prajurit dapat mengambil banyak bentuk. Dari membuka medan latihan di pesisir selatan Jawa, menanamkan simbol dan tradisi Korps Marinir, memimpin satuan, mengelola organisasi, hingga berkontribusi dalam pembangunan kapasitas calon pemimpin nasional.
Seorang pemimpin tidak dikenang semata karena pernah berada di posisi tinggi. Ia dikenang karena pernah melakukan sesuatu yang membuat institusinya menjadi lebih kuat.
Dan mungkin di situlah makna terdalam dari legacy: bukan tentang seberapa lama nama seseorang disebut, tetapi seberapa lama manfaat dari pengabdiannya terus dirasakan.
Sumber : TIMES Indonesia
