KARANGANYAR, Supersemar News – Pihak produsen Minyakita memastikan bahwa minyak goreng bantuan pangan yang disalurkan ke empat kabupaten di wilayah Jawa Tengah sudah ditarik dan diganti dengan yang baru usai adanya keluhan bau solar.

‎Sebelumnya muncul keluhan dari para penerima bantuan pangan yang disalurkan oleh Bulog mengenai minyak goreng yang berbau solar di beberapa wilayah seperti Kabupaten Karanganyar, Klaten dan Wonogiri. Masing-masing penerima mendapatkan bantuan pangan berupa minyak goreng ukuran 4 liter.

‎Adapun jumlah penerima bantuan pangan di wilayah Kabupaten Karanganyar ada 42.644 penerima.
‎​Kemudian di wilayah Klaten ada 71.648 penerima, dan di wilayah Wonogiri ada 78.288 penerima.

‎​PT Kusuma Mukti Remaja merupakan perusahaan yang memasok minyak goreng untuk bantuan pangan tersebut.

‎​Kasus serupa di Tegal juga ditarik

‎​Setelah adanya keluhan dari para penerima, pihak produsen lantas menarik semua minyak goreng yang telah disalurkan baik itu yang bermasalah maupun tidak untuk ditukar dengan yang baru.

‎​”Per hari ini kita sudah menarik 100 persen dan mengembalikan minyak goreng yang mungkin bermasalah di tiga kabupaten, Karanganyar, Klaten dan Wonogiri,” kata Direktur PT Kusuma Mukti Remaja, Joko Mukti Wijaya kepada wartawan di pabrik yang berlokasi di Jetis, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jumat (26/6/2026).

‎​Selain tiga kabupaten itu, terangnya, sebelumnya keluhan juga ada di wilayah Kabupaten Tegal.

‎​Penarikan dan penukaran minyak goreng juga telah diselesaikan di wilayah tersebut.

‎​”Yang (minyak goreng) indikasi bermasalah sekitar 100 ton tapi yang kita tarik sampai 300 ton,” jelasnya.

‎​Menurutnya, proses penarikan dan penukaran minyak goreng di beberapa wilayah tersebut berjalan lancar berkat adanya dukungan dari perangkat desa atau kelurahan serta Bulog.

‎​Saat ditanya mengenai temuan minyak goreng berbau solar, terang Joko, belum bisa memastikan karena masih dalam proses investigasi.

‎​”Kemungkinan ada terkontaminasi di penyimpanan atau pengangkutan. Kita masih investigasi sambil menunggu hasil lab (laboratorium). Hasil lab itu mungkin (keluar) satu, dua minggu,” terangnya.

‎​Sementara itu mengenai adanya temuan hasil sidak Tim Satgas Pangan bahwa tidak adanya kode produksi, dia menegaskan setiap produk minyak goreng yang diproduksi di tempatnya pasti ada kode produksi.

‎Produk di pasaran dipastikan aman

‎​Adapun minyak goreng yang disalurkan dalam bantuan pangan itu merupakan produksi pada 2-5 Juni 2026.

‎​Joko mengungkapkan, pihaknya akan bertanggung jawab apabila ada dari penerima bantuan minyak goreng yang mengalami keluhan medis.

‎​Kendati demikian belum ada laporan adanya penerima bantuan yang mengalami keluhan tersebut hingga saat ini.

‎​Mengenai barang yang ditarik, jelasnya, akan dijual sebagai minyak jelantah yang biasanya digunakan untuk keperluan produksi bio solar.

‎​Adanya minyak goreng bermasalah merupakan produk yang disalurkan untuk bantuan pangan. Dia memastikan bahwa produk yang dipasarkan di pasaran dalam kondisi aman.

Sumber : kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *