
SOLO, Supersemar News – Dinamika menjelang Muktamar NU 2026 terus bergerak. Munculnya berbagai usulan komposisi kepengurusan PBNU periode mendatang, termasuk wacana yang menempatkan KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf sebagai Sekretaris Jenderal PBNU, dipandang sebagai bagian dari dinamika biasa dalam tubuh Nahdlatul Ulama.
”Bagi kami, Gus Yusuf bukan sekadar figur yang layak ditempatkan dalam struktur. Beliau adalah sosok yang kami harapkan memimpin langsung PBNU. Aspirasi ratusan PCNU tetap jelas: Gus Yusuf Ketua Umum PBNU,” ujar juru bicara perwakilan PCNU pendukung Gus Yusuf, Gus Furqon, dalam keterangan tertulis yang diterima detikJateng, Kamis (18/6/2026).
Gus Furqon menyebut dukungan kepada Gus Yusuf muncul dari pembacaan nyata dengan kebutuhan NU hari ini. Menurutnya, NU membutuhkan sosok pemimpin yang berakar kuat di pesantren, memahami tata kelola jam’iyyah, memiliki pengalaman membangun lembaga, serta mampu menyambungkan tradisi keulamaan dengan tantangan zaman.
Gus Yusuf dinilai memiliki kombinasi tersebut. Gus Yusuf sebagai pengasuh pesantren, memahami denyut kehidupan santri dan kiai. Sebagai organisator, ia memiliki pengalaman panjang dalam mengelola jaringan, lembaga pendidikan, layanan kesehatan, ekonomi umat, serta komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
”NU ke depan tidak cukup hanya dikelola dengan simbol. NU membutuhkan kepemimpinan yang bekerja, mendengar, merangkul, dan mampu mengeksekusi program. Dalam pandangan kami, Gus Yusuf memiliki kapasitas itu,” tegasnya.
Ia menegaskan dukungan kepada Gus Yusuf bukan berarti menutup ruang bagi tokoh-tokoh lain. Nama-nama yang muncul dalam berbagai wacana, termasuk para kiai, akademisi, dan tokoh nasional, tetap harus dihormati sebagai bagian dari khazanah besar NU. Namun, Muktamar NU harus tetap dikembalikan kepada mandat organisasi dan suara sah para pemilik hak suara.
”Semua tokoh NU adalah aset. Tetapi keputusan kepemimpinan PBNU tidak bisa ditentukan oleh bocoran, simulasi, atau opini satu-dua kelompok. Keputusan itu harus lahir dari mekanisme muktamar, dari suara PWNU dan PCNU, serta dari pertimbangan para masyayikh,” ujarnya.
Barisan PCNU pendukung Gus Yusuf juga mengingatkan agar dinamika pencalonan tidak diarahkan pada politik pecah belah. Perbedaan aspirasi harus dikelola dengan akhlak jam’iyyah, saling menghormati, dan tetap menempatkan persatuan NU di atas kepentingan kelompok.
Menurut mereka, NU saat ini membutuhkan kepemimpinan yang mampu memulihkan suasana, memperkuat konsolidasi organisasi, dan mengembalikan orientasi PBNU pada khidmah kepada umat. Oleh karena itu, Gus Yusuf dipandang sebagai figur yang tepat untuk menjahit kembali kekuatan NU dari pesantren, cabang, wilayah hingga pusat.
”Yang kami perjuangkan bukan sekadar posisi. Yang kami perjuangkan adalah arah NU ke depan. Kami ingin PBNU kembali menjadi rumah besar yang teduh, terbuka, kuat secara organisasi, dan nyata manfaatnya bagi umat,” katanya.
Barisan PCNU pendukung Gus Yusuf menegaskan akan terus melakukan konsolidasi secara santun, terukur, dan sesuai mekanisme organisasi. Mereka berharap Muktamar NU 2026 menjadi forum permusyawaratan yang bermartabat, bukan arena saling menegasikan.
”Kami menghormati semua wacana. Tetapi aspirasi kami tetap: Gus Yusuf Ketua Umum PBNU. Bukan karena ambisi personal, melainkan karena kami melihat NU membutuhkan kepemimpinan yang membumi, matang, dan mampu bekerja nyata,” pungkas Gus Furqon.
Sumber : detikNews