
Mahasiswa Turun Langsung ke Lapangan, IKN Tak Lagi Sekadar Narasi
SUPERSEMAR NEWS – JAKARTA – Pemerintah kembali menegaskan keseriusannya membangun Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan membuka akses langsung kepada generasi muda. Sebanyak 124 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia diajak meninjau secara langsung progres pembangunan IKN pada Selasa (2/12/2025).
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Pemerintah secara sadar membawa mahasiswa ke lapangan agar publik, khususnya kalangan akademik, dapat menilai sendiri fakta pembangunan yang selama ini kerap menjadi polemik di ruang publik dan media sosial. Transparansi menjadi kata kunci utama.
Melalui pendampingan Tim Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres), kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari edukasi publik berbasis data dan kondisi riil di lapangan, sejalan dengan visi pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Nusantara.
(https://ikn.go.id)
Didampingi Basuki, Mahasiswa Diajak Menyentuh Jantung IKN

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, rombongan mahasiswa didampingi langsung oleh Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, bersama Staf Khusus Wakil Presiden RI Nico Harjanto dan Suwardi. Kehadiran para pejabat kunci ini mempertegas bahwa pemerintah tidak menutup diri dari kritik maupun penilaian objektif publik.
Sejak pagi hari, kegiatan diawali dengan jalan pagi dan penanaman ratusan pohon di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP). Aktivitas ini sekaligus menjadi simbol implementasi konsep forest city yang menjadi fondasi pembangunan IKN.
Menurut Basuki, pendekatan ekologis bukan sekadar jargon, melainkan telah dijalankan secara terukur dan berkelanjutan.
“Otorita IKN telah melakukan penanaman seluas 7,7 hektare sejak Maret, dengan frekuensi dua minggu sekali. Tingkat hidup tanaman di atas 90 persen,” tegas Basuki.
Pernyataan ini sekaligus menepis anggapan bahwa pembangunan IKN mengabaikan aspek lingkungan hidup.
Masjid Negara hingga Basilika, Simbol Toleransi Dibangun Bersamaan
Setelah kegiatan lingkungan, mahasiswa meninjau Masjid Negara IKN yang progres pembangunannya telah mencapai 92,41 persen. Masjid ini dirancang bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai plaza edukasi keagamaan yang inklusif dan terbuka.
Selanjutnya, rombongan mengunjungi bangunan Basilika dengan progres pembangunan 80,01 persen. Bangunan ini diproyeksikan mampu menampung 1.600 jemaat, sekaligus menjadi simbol kuat toleransi dan keberagaman di ibu kota baru Indonesia.
Pembangunan rumah ibadah lintas agama secara paralel menegaskan bahwa IKN tidak hanya dibangun sebagai pusat administrasi, tetapi juga sebagai ruang hidup kebangsaan.
Istana Wapres dan Istana Negara, Infrastruktur Kekuasaan Mulai Terbentuk
Rangkaian kunjungan berlanjut ke kawasan Istana Wakil Presiden yang progresnya telah mencapai 92,87 persen. Tahap pertama pembangunan mencakup Istana Wapres, Kediaman Wapres, Plaza Demokrasi, serta sejumlah fasilitas pendukung lainnya.
Mahasiswa juga diajak melihat langsung Istana Negara dan Istana Garuda, yang menjadi simbol utama pusat pemerintahan nasional di masa depan. Dari sini, mahasiswa memperoleh gambaran konkret mengenai tata kelola kawasan pemerintahan modern yang dirancang secara bertahap dan terintegrasi.
Kunjungan lapangan ini sekaligus membantah narasi yang menyebut pembangunan IKN stagnan atau hanya berhenti pada konsep di atas kertas.
Respons Mahasiswa: Fakta Lapangan Ubah Persepsi
Menariknya, kunjungan ini justru memunculkan respons tak terduga dari para peserta. Sejumlah mahasiswa mengaku bahwa realitas di lapangan jauh berbeda dari ekspektasi yang dibentuk oleh pemberitaan negatif.
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Nur Amalia, secara terbuka menyampaikan perubahan pandangannya.
“Apa yang kami lihat langsung ini jauh dari ekspektasi sebelumnya. Saya melihat inovasi nyata dari kemajuan infrastruktur Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa kunjungan lapangan memiliki dampak signifikan dalam membangun pemahaman yang lebih objektif dan berbasis fakta.
Hal senada disampaikan oleh mahasiswa Universitas Hasanuddin, Meisha Ulul Asmi, yang menilai pembangunan IKN berjalan sistematis dan terukur.
“Ini bukan proyek simbolik, melainkan proses nyata membangun sistem pemerintahan baru,” ungkapnya.
IKN sebagai Laboratorium Kebijakan Publik
Lebih jauh, kunjungan ini memperlihatkan bahwa IKN telah bertransformasi menjadi laboratorium kebijakan publik. Mahasiswa tidak hanya melihat bangunan fisik, tetapi juga mempelajari pendekatan perencanaan, tata ruang, keberlanjutan lingkungan, hingga integrasi sosial.
Dengan melibatkan mahasiswa, pemerintah secara strategis membangun legitimasi sosial sekaligus membuka ruang dialog kritis berbasis data. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga kesinambungan pembangunan lintas pemerintahan hingga target pemindahan ibu kota pada 2028.
Transparansi dan Akuntabilitas Jadi Pesan Utama
Melalui agenda ini, pemerintah ingin menyampaikan pesan tegas bahwa pembangunan IKN tidak dilakukan secara tertutup. Seluruh progres dapat diakses, diawasi, dan dikritisi oleh publik, termasuk generasi muda dan kalangan akademisi.
Pendekatan ini sekaligus memperkuat prinsip akuntabilitas, transparansi, dan partisipasi publik dalam proyek strategis nasional berskala besar.
Dengan kata lain, mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga saksi sejarah lahirnya ibu kota baru Indonesia.
Penegasan Akhir: IKN Bergerak, Bukan Wacana
Pada akhirnya, kunjungan 124 mahasiswa ini menjadi bukti bahwa IKN terus bergerak. Pembangunan tidak berhenti pada janji politik atau narasi elite, melainkan berjalan di atas fondasi kerja nyata, data progres, dan keterlibatan publik.
Bagi generasi muda, pengalaman ini membuka ruang refleksi kritis sekaligus optimisme bahwa Indonesia tengah menyiapkan masa depan pemerintahannya secara serius, terukur, dan berkelanjutan.***(SB)
SupersemarNewsTeam
