
Peta zona seismik dan vulkanik di sepanjang Cincin Api Pasifik, menunjukkan konsentrasi aktivitas geologis tinggi seperti gempa dan letusan gunung api di wilayah Alaska, Amerika Serikat, hingga kawasan Pasifik Selatan.
SUPERSEMAR NEWS — Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire adalah zona geologis aktif berbentuk tapal kuda sepanjang 40.000 km yang mengelilingi Samudra Pasifik. Kawasan ini mencakup 75% gunung api aktif dunia dan 90% gempa bumi global.
Indonesia berada di pusat zona rawan ini. Berikut rangkuman 15 negara yang dilalui Cincin Api Pasifik dan tingkat kerawanannya.
Indonesia: Pusat Aktivitas Vulkanik Dunia
Indonesia berdiri di atas tiga lempeng tektonik besar: Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Negara ini memiliki lebih dari 130 gunung api aktif termasuk Merapi, Sinabung, dan Anak Krakatau.
Letusan Tambora (1815) dan Krakatau (1883) mencatatkan sejarah bencana vulkanik dunia. Indonesia menjadi negara dengan aktivitas geologis tertinggi secara global.
Jepang: Teknologi Canggih di Negeri Rawan Gempa
Jepang memiliki 110 gunung api aktif dan sering dilanda gempa. Gunung Fuji dan gempa Tohoku 2011 menjadi bukti nyata risiko tinggi kawasan ini. Jepang aktif mengembangkan sistem peringatan dini dan teknologi tahan gempa.
Amerika Serikat: Fokus di Alaska dan Hawaii
AS memiliki sekitar 130 gunung api, terutama di Alaska dan Hawaii. Letusan besar seperti Gunung St Helens (1980) dan aktivitas di Aleutian Arc mencerminkan tingginya potensi bahaya di wilayah ini.
Chile: Andes Jadi Zona Letusan dan Gempa
Chile memiliki 90 gunung api aktif, dengan risiko tinggi akibat subduksi Lempeng Nazca. Gempa Valdivia (1960) yang mencapai M 9,5 menjadi gempa terbesar dalam catatan sejarah.
Filipina: Risiko Letusan Gunung dan Gempa
Filipina memiliki 24 gunung api aktif. Letusan Gunung Pinatubo (1991) dan aktivitas Gunung Mayon menunjukkan ancaman yang terus mengintai negara ini.
Rusia (Kamchatka): Titik Panas di Timur Jauh
Semenanjung Kamchatka menjadi pusat aktivitas vulkanik di Rusia. Wilayah ini memiliki 30 gunung api aktif dan baru saja diguncang gempa M 8,8 pada Juli 2025.
Meksiko: Ancaman Popocatépetl
Meksiko memiliki 48 gunung api, dengan Popocatépetl sebagai yang paling aktif dan dekat dengan Mexico City. Subduksi Lempeng Cocos memicu potensi letusan berulang.
Papua Nugini: Gunung Api dan Gempa di Kepulauan
Papua Nugini memiliki 16 gunung api aktif. Letusan Rabaul (1994) menyebabkan kerusakan besar dan menjadi peringatan akan potensi bencana yang terus berulang.
Selandia Baru: Letusan dan Gempa di Zona Taupo
Selandia Baru berada di zona subduksi Indo-Australia dan Pasifik. Letusan White Island (2019) menewaskan wisatawan dan mengungkap perlunya mitigasi serius di wilayah ini.
Peru: Gunung Sabancaya Tetap Aktif
Peru memiliki 16 gunung api aktif, dengan Sabancaya sebagai yang paling sering meletus. Andes bagian selatan menjadi wilayah pengawasan utama.
Kanada (British Columbia): Risiko Rendah, Tetap Waspada
Kanada mencatat sekitar 5 gunung api aktif. Gunung Meager di British Columbia adalah yang paling dipantau meskipun letusan tergolong jarang.
Guatemala: Gunung Fuego Jadi Ancaman Utama
Guatemala memiliki 30 gunung api. Fuego meletus besar pada 2018 dan menewaskan ratusan. Negara ini berada di zona subduksi Lempeng Cocos.
Nikaragua: Gunung Masaya dan Momotombo
Nikaragua memiliki 19 gunung api. Dua di antaranya sangat aktif dan kerap mengeluarkan abu. Zona ini juga rawan gempa besar.
El Salvador: Negara 170 Gunung Api
El Salvador mencatat sekitar 20 gunung api aktif. Ilamatepec dan Izalco tercatat sering meletus dalam sejarah modern.
Tonga: Gunung Api Bawah Laut Berbahaya
Tonga menjadi sorotan setelah letusan Hunga Tonga–Hunga Ha’apai (2022) memicu tsunami hingga ke Jepang dan AS. Aktivitas bawah laut di kawasan ini sangat tinggi.
Cincin Api Pasifik bukan sekadar fenomena alam, melainkan ujian nyata bagi ketahanan negara-negara di jalurnya. Pemantauan, mitigasi, dan edukasi publik menjadi kunci untuk menghadapi risiko bencana di kawasan paling aktif secara geologi ini.
Reporter: R/Rifay Marzuki
SanggaBuana
