Supersemar News – Sebagai anak Betawi, dari kecil gue diajarin satu hal penting: pukulan yang paling keras bukan yang bikin orang jatuh, tapi yang bikin orang mikir. Jawara Betawi itu bukan tukang rusuh. Jawara Betawi itu penjaga keseimbangan. Tau kapan maju, tau kapan nahan diri. Tau kapan becanda, tau kapan serius.

Maka waktu gue nonton Mens Rea-nya Pandji Pragiwaksono, gue nggak cuma denger tawa. Gue denger suara kegelisahan rakyat yang selama ini kependem. Di balik canda, ada kritik. Di balik ketawa, ada sindiran yang nyentil langsung ke urat saraf kekuasaan.

Dan terbukti: lebih dari seratus juta interaksi di jagat digital. Artinya apa? Artinya rakyat lagi haus. Haus kejujuran. Haus kritik yang berani, tapi nggak ngotot. Haus omongan yang jujur tapi masih punya akhlak.

Pandji ngomongin soal politik balas budi, konflik kepentingan, sampai isu sensitif soal konsesi tambang ke ormas besar. Ini bukan gosip warung kopi. Ini isu publik. Dan di negara demokrasi, isu publik wajib boleh dikritik, mau lewat tulisan, diskusi, atau bahkan lewat komedi.

Masalahnya, ketika tawa itu nyentil yang lagi duduk empuk di kursi kekuasaan, langsung deh rame. Laporan hukum melayang. Komika ditarik ke ranah pidana. Seolah-olah kritik itu dosa, satire itu makar.

Sebagai orang Betawi yang cinta damai, gue terus terang sedih. Orang tua kita dulu selalu bilang:

“Kalo ada yang kagak sreg, duduk bareng. Ngopi. Ngobrol. Bukan langsung ribut.”

Pertanyaannya sekarang:
Sejak kapan kita jadi bangsa yang dikit-dikit lapor polisi cuma karena tersinggung?
Sejak kapan demokrasi kita berubah jadi demokrasi baper?

Gus Dur—ulama, negarawan, sekaligus guru bangsa—dulu justru pake humor buat merangkul, bukan memukul. Satire itu alat diplomasi paling halus. Kritik yang disampaikan dengan tawa justru sering lebih ngena daripada pidato berjam-jam.

Gue sepakat: kebebasan berekspresi itu bukan kebebasan liar. Ada etika. Ada batas. Pasal hukum ada untuk mencegah fitnah dan penghinaan yang merusak martabat. Tapi jangan juga hukum dijadiin pentungan buat mukulin pikiran yang beda.

Kalau kritik dibalas pasal,
kalau satire dibalas borgol,
yang lahir bukan ketertiban —
tapi ketakutan.

Seniman jadi takut ngomong.
Rakyat jadi males mikir.
Ruang publik jadi sunyi.

Padahal kritik itu oksigen kekuasaan. Tanpa kritik, kekuasaan mabok. Dan kekuasaan yang mabok itu berbahaya.

Sebagai Betawi, gue paham betul makna jaga kampung. Demokrasi ini kampung kita bersama. Jangan karena tersinggung dikit, kampung dibakar. Jangan karena malu dikritik, suara rakyat dibungkam.

Kalau ada kritik, jawab pake argumen.
Kalau ada sindiran, bales pake data.
Kalau ada tawa yang nyentil, introspeksi, bukan kriminalisasi.

Dalam silat Betawi, kuda-kuda itu penting. Salah kuda-kuda, sekali dorong bisa jatuh. Demokrasi juga begitu. Harus kuat, lentur, dan dewasa.

Satire Pandji mungkin nyentuh “saraf keramat” sebagian pihak. Tapi jawaban yang beradab bukanlah pukulan balik yang ngawur. Jawabannya adalah diskusi yang jujur, dialog yang setara, dan sikap kenegarawanan.

Bangsa besar bukan bangsa yang anti-kritik.
Bangsa besar adalah bangsa yang punya nyali buat denger, mencerna, dan berbenah.

Kalau kritik dimatikan, yang tersisa cuma lagu nina-bobo buat nalar rakyat.
Dan sebagai anak Betawi, gue bilang terus terang:

Kita kagak boleh ketiduran di negeri sendiri.

Oleh: Bang David Darmawan
Anak Betawi | Rais Laskar Suku Betawi | Ketum Ormas Betawi Bangkit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *