JAKARTA, Supersemar News – Tokoh Betawi, David Darmawan, menilai kritik yang disampaikan melalui komedi dan satire merupakan bagian sah dari praktik demokrasi. Ia mengingatkan agar respons terhadap kritik tidak berujung pada kriminalisasi yang justru berpotensi mempersempit ruang kebebasan berekspresi.

Pernyataan tersebut disampaikan David menanggapi polemik atas materi komedi yang dibawakan komika Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan Mens Rea, yang belakangan menuai perdebatan publik dan respons hukum dari sejumlah pihak.

Menurut David, komedi tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga medium kritik sosial yang mencerminkan kegelisahan masyarakat.

Tingginya atensi publik terhadap pertunjukan tersebut, yang tercermin dari jutaan interaksi di ruang digital, dinilainya sebagai sinyal kuat adanya kebutuhan akan kritik yang jujur dan terbuka.
“Di balik tawa, ada pesan. Komedi sering kali menyampaikan kritik yang mungkin sulit disampaikan lewat jalur formal,” kata David dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, isu-isu yang disinggung dalam materi komedi tersebut mulai dari konflik kepentingan, relasi kekuasaan, hingga kebijakan publik—merupakan isu publik yang secara demokratis boleh dikritik dan didiskusikan.

Namun, David menyayangkan ketika kritik tersebut kemudian dibalas dengan laporan hukum. Menurutnya, langkah semacam itu berisiko menciptakan iklim ketakutan di ruang publik, terutama bagi seniman dan masyarakat sipil.
“Kalau setiap sindiran atau kritik langsung dibawa ke ranah pidana, demokrasi bisa kehilangan ruang dialognya,” ujarnya.

Meski demikian, David menegaskan kebebasan berekspresi bukan tanpa batas. Ia mengakui adanya rambu hukum dan etika untuk mencegah fitnah maupun penghinaan yang merusak martabat individu atau kelompok.

Ia menekankan, hukum seharusnya menjadi instrumen terakhir, bukan alat utama untuk merespons kritik. Dalam demokrasi yang sehat, perbedaan pandangan semestinya dijawab dengan argumentasi dan data, bukan dengan represi.
“Kritik itu oksigen kekuasaan. Tanpa kritik, kekuasaan bisa kehilangan keseimbangan,” kata David.

Dia juga menyinggung tradisi dialog dan humor yang pernah digunakan tokoh-tokoh bangsa sebagai sarana meredakan ketegangan politik. Menurutnya, pendekatan tersebut mencerminkan kedewasaan berdemokrasi.

Menutup pernyataannya, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga ruang demokrasi agar tetap kuat, lentur, dan beradab.
“Bangsa besar bukan bangsa yang anti-kritik, tetapi bangsa yang punya keberanian untuk mendengar, mencerna, dan berbenah,” pungkasnya.

(red)

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *