
SLEMAN, Supersemar News – Tiga puluh lima tahun bukan waktu yang singkat untuk mengabdikan diri pada satu pekerjaan. Bagi Bernadus Edy Nugroho, perjalanan panjang di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Sembada justru menjadi bekal untuk menghadirkan layanan air hingga ke pelosok Sleman. Kini, sebagai direktur, dia masih menghadapi satu pekerjaan besar. Yakni memperluas jaringan perpipaan agar semakin banyak warga bisa menikmati layanan air minum.
Pria kelahiran 1971 itu mengaku, menjalankan tanggung jawab tersebut bukan hal mudah. Apalagi, belum semua wilayah di Bumi Sembada tersambung jaringan perpipaan air minum. Wilayah yang cukup terakomodasi baru bagian Sleman tengah, sementara bagian barat dan timur masih banyak yang belum terjangkau.
“Jadi bagaimana agar kami bisa membangun jaringan perpipaan sampai pelosok-pelosok Sleman tercinta ini,” katanya, Jumat (14/8).
Edy memastikan, pembangunan jaringan baru akan terus dilakukan setiap tahun. Saat ini, PDAM Tirta Sembada telah melayani 46.000 sambungan. Mencakup rumah tangga, sektor hotel, hingga niaga.
Tak hanya memperluas jaringan, PDAM Tirta Sembada juga mulai mencoba cara baru untuk menjaga keandalan layanan. Salah satunya dengan menguji teknologi satelit untuk mendeteksi kebocoran pipa bawah tanah.
Inovasi tersebut dilakukan bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan perusahaan riset asal Korea Selatan, Stellarvision. Teknologi itu diharapkan mampu menemukan titik kebocoran lebih cepat dan akurat dibandingkan metode konvensional yang membutuhkan waktu lama serta biaya besar. “Saat ini kami masih dalam taraf uji coba alat itu,” katanya.
Edy mengatakan, hasil pengujian belum dapat diperoleh karena pihaknya masih mencari performa terbaik alat tersebut. Tantangannya, kondisi permukaan tanah di Kabupaten Sleman cukup beragam. Mulai tanah, cor, hingga aspal.
Meski begitu, pengalaman puluhan tahun membuat Edy tetap optimistis. Sebelum menduduki posisi direktur, dia telah melewati berbagai bidang pekerjaan di PDAM Tirta Sembada. Lebih dari separo hidup pria asal Kapanewon Mlati itu dihabiskan untuk meniti karier di perusahaan daerah tersebut.
Dia pernah bekerja di bidang administrasi, dan menjadi operator pengoperasian pompa produksi. Dia juga menangani distribusi dan perbaikan pipa bocor, hingga ikut memasang sambungan jaringan ke rumah warga. Perjalanan kariernya berlanjut ke staf umum dan staf keuangan. “Saya juga pernah di bagian baca meteran air, jadi dari rumah ke rumah,” katanya.
Bagi Edy, panjangnya perjalanan tersebut bukan sekadar soal jenjang karier. Ada prinsip yang terus dia pegang dalam bekerja, yakni menjalankan setiap tanggung jawab dengan tulus dan ikhlas.
Menurutnya, bekerja tidak semestinya hanya berorientasi pada uang. Sebab, balasan atas pekerjaan dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai kesehatan hingga keberuntungan. Bahkan, manfaatnya belum tentu dirasakan sendiri karena bisa saja mengalir kepada anak maupun cucu. “Pokoknya bekerja yang tulus dan ikhlas. Jadi yang semeleh,” beber lulusan Universitas Janabadra ini. (del/eno)
Sumber : Radar Jogja
