H. M. Gunther Gemparalam, Ketua Umum DPP HIPMAPI sekaligus pengurus DPP IKAL Lemhannas, berdialog bersama AKP Ma’ruf Suroto, penerima Hoegeng Awards 2023, membahas peran kepolisian dalam pemberdayaan petani, ketahanan pangan, kedekatan aparat dengan masyarakat, serta penguatan ketahanan nasional Indonesia.

Dalam Rangka Menyambut Dirgahayu RI 81th Dialog bersama H. M. Gunther Gemparalam Ketua Umum DPP HIPMAPI dan Pengurus DPP Ikal Lemhannas dengan AKP Ma’ruf Suroto Penerima Hoegeng Award.

SUPERSEMAR NEWS — JAKARTA — Dialog antara H. M. Gunther Gemparalam, pengurus Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (DPP IKAL-Lemhannas), dengan AKP Ma’ruf Suroto, penerima Hoegeng Awards 2023, menghadirkan satu pesan penting yang relevan dengan tantangan Indonesia hari ini: ketahanan nasional tidak hanya dibangun melalui kekuatan pertahanan, keamanan, dan kebijakan negara, tetapi juga melalui kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri.

Dalam dialog tersebut, isu pertanian, kedekatan polisi dengan masyarakat, pemberdayaan petani, ketahanan pangan, dan ketahanan nasional menjadi satu rangkaian pembahasan yang saling berkaitan.

Gagasan tersebut menjadi semakin menarik karena AKP Ma’ruf tidak berbicara tentang masyarakat dari balik meja. Ia menceritakan pengalaman ketika dirinya turun langsung menemui petani, mendatangi rumah warga, memasuki kebun, mendengarkan keluhan, serta berupaya mencari solusi bersama masyarakat.

Sementara itu, H. M. Gunther Gemparalam melihat pengalaman tersebut bukan sekadar praktik pembinaan masyarakat. Menurut perspektif yang disampaikan dalam dialog, pendekatan langsung kepada petani dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional dari tingkat paling bawah.

Polisi yang Hadir di Tengah Petani

Hal paling kuat dari dialog tersebut terletak pada perubahan cara memandang tugas kepolisian.

AKP Ma’ruf Suroto menjelaskan bahwa pola pembinaan masyarakat yang dilakukannya mengutamakan pendekatan langsung. Ia menyebut dirinya bersama jajaran mendatangi masyarakat, termasuk petani, untuk mengetahui secara nyata persoalan yang mereka hadapi.

Pendekatan itu sederhana, tetapi memiliki konsekuensi besar.

Polisi tidak hanya hadir ketika terjadi gangguan keamanan. Polisi juga dapat hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan sosial dan ekonomi yang berpotensi memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Dengan mendatangi petani dari rumah ke rumah dan dari kebun ke kebun, aparat memperoleh informasi langsung mengenai kebutuhan masyarakat. Cara seperti ini sekaligus menciptakan ruang komunikasi yang lebih terbuka.

Di sinilah letak nilai strategis pendekatan AKP Ma’ruf.

Keamanan masyarakat tidak selalu dimulai dari penindakan. Dalam banyak keadaan, keamanan justru dapat dibangun melalui kepercayaan.

Ketika petani merasa didengar, hubungan antara polisi dan masyarakat menjadi lebih dekat. Sebaliknya, ketika masyarakat merasa aparat hanya datang ketika terjadi masalah, jarak psikologis dapat terbentuk.

Karena itu, model pendekatan yang diceritakan AKP Ma’ruf layak dipandang sebagai bentuk community policing yang menempatkan masyarakat sebagai mitra dalam menjaga ketertiban sekaligus membangun kesejahteraan.

Dari Kebun Menuju Ketahanan Nasional

H. M. Gunther Gemparalam, Ketua Umum DPP HIPMAPI sekaligus pengurus DPP IKAL Lemhannas, menyoroti pentingnya pemberdayaan petani, ketahanan pangan, kedekatan aparat dengan masyarakat, dan penguatan ketahanan nasional melalui pembangunan pertanian Indonesia.

H. M. Gunther Gemparalam membawa pembicaraan tersebut ke perspektif yang lebih luas.

Sebagai pengurus DPP IKAL-Lemhannas yang disebut bertugas dalam bidang pembinaan daerah dan luar negeri, Gunther menempatkan persoalan pertanian sebagai bagian dari kepentingan nasional.

Pandangan ini memiliki dasar strategis. Ketahanan pangan berkaitan langsung dengan kemampuan suatu negara memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

Apabila kebutuhan pangan terlalu bergantung pada pasokan luar negeri, perubahan harga global, gangguan rantai pasok, konflik geopolitik, perubahan iklim, maupun kebijakan negara lain dapat memberikan tekanan terhadap kehidupan masyarakat dalam negeri.

Karena itu, pertanian bukan semata-mata persoalan ekonomi desa.

Pertanian juga menyentuh persoalan kedaulatan, stabilitas sosial, kesejahteraan, dan ketahanan nasional.

Dalam konteks inilah dialog Gunther dan AKP Ma’ruf menemukan titik temu.

AKP Ma’ruf menunjukkan praktik di lapangan. Gunther memberikan perspektif strategis. Keduanya bertemu pada satu gagasan: masyarakat harus diperkuat agar mampu berdiri di atas kemampuan sendiri.

Ketahanan Nasional Tidak Boleh Berjarak dari Rakyat

Lemhannas RI dalam berbagai kegiatannya menekankan pentingnya kontribusi alumni terhadap pembangunan bangsa. IKAL-Lemhannas sendiri merupakan wadah alumni Lemhannas yang diarahkan untuk tetap berkontribusi bagi negara.

Dalam konteks tersebut, gagasan yang muncul dalam dialog ini menjadi relevan.

Ketahanan nasional tidak boleh berhenti sebagai konsep yang hanya dibahas dalam ruang akademik atau forum strategis. Ketahanan nasional harus terlihat dalam kehidupan masyarakat.

Petani yang mampu berproduksi merupakan bagian dari ketahanan pangan.

Masyarakat yang merasa aman merupakan bagian dari stabilitas sosial.

Polisi yang dipercaya masyarakat merupakan bagian dari kekuatan institusi negara.

Daerah perbatasan yang berkembang merupakan bagian dari keutuhan wilayah.

Dengan demikian, ketahanan nasional sesungguhnya memiliki wajah yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ketahanan nasional dapat terlihat dari seorang petani yang mampu mengolah lahannya. Ketahanan nasional juga dapat terlihat dari aparat yang bersedia mendengarkan masyarakat di pelosok.

Karena itu, gagasan Gunther mengenai hubungan antara kegembiraan masyarakat, kesejahteraan, pertanian, dan ketahanan nasional patut dibaca dalam perspektif yang lebih luas.

Negara yang kuat bukan hanya negara yang memiliki institusi keamanan yang kuat. Negara yang kuat juga harus memiliki masyarakat yang produktif, percaya kepada institusi negara, dan memiliki akses terhadap kebutuhan dasar.

Pelajaran dari Merauke dan Perbatasan

AKP Ma’ruf Suroto, penerima Hoegeng Awards 2023 kategori Polisi Tapal Batas dan Pedalaman, menegaskan pentingnya pendekatan langsung kepada masyarakat, khususnya petani, untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat, ketahanan pangan, dan ketahanan nasional Indonesia.

Pengalaman AKP Ma’ruf Suroto di Merauke memberikan dimensi lain dalam dialog tersebut.

AKP Ma’ruf dikenal sebagai penerima Hoegeng Awards 2023 kategori Polisi Tapal Batas dan Pedalaman. Penghargaan tersebut diberikan atas kiprahnya di wilayah Sota, Merauke, termasuk dalam pembinaan masyarakat melalui sektor pertanian.

Sumber penghargaan tersebut juga mencatat bahwa AKP Makruf membangun masyarakat melalui kegiatan pertanian dengan melibatkan masyarakat transmigrasi maupun masyarakat asli Papua.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa pendekatan keamanan di wilayah perbatasan dapat berjalan berdampingan dengan pendekatan pemberdayaan.

Ini penting.

Perbatasan bukan hanya garis geografis yang memisahkan dua negara. Perbatasan juga merupakan ruang kehidupan masyarakat.

Ketika masyarakat perbatasan memperoleh perhatian, akses pembangunan, pendampingan, dan rasa aman, maka negara hadir bukan hanya secara simbolik, melainkan secara nyata.

Karena itu, pengalaman AKP Ma’ruf memiliki nilai edukatif bagi daerah lain.

Pendekatan yang dilakukan tidak harus disalin secara mentah. Namun, prinsipnya dapat dikembangkan sesuai dengan karakter masing-masing daerah: datang, dengarkan, pahami, dampingi, dan cari solusi bersama masyarakat.

Penghargaan Bukan Tujuan Akhir

Dalam dialog, penghargaan yang diterima AKP Ma’ruf juga menjadi bagian pembicaraan.

Namun, pesan yang lebih penting bukanlah mengenai trofi atau penghargaan tersebut.

Penghargaan seharusnya menjadi alat untuk memperluas inspirasi.

Hoegeng Awards memberikan pengakuan terhadap sosok polisi yang memiliki pengabdian dan integritas. Dalam kasus AKP Ma’ruf, penghargaan tersebut berkaitan dengan pengabdiannya di wilayah tapal batas dan pedalaman.

Dengan demikian, penghargaan tidak semestinya berhenti pada seremoni.

Justru setelah penghargaan diberikan, muncul pertanyaan yang lebih besar: bagaimana praktik baik tersebut dapat ditularkan kepada anggota kepolisian lainnya?

Pertanyaan itu juga berlaku bagi seluruh unsur pemerintahan.

Jika seorang aparat mampu membangun hubungan dekat dengan petani di wilayah perbatasan, maka prinsip pelayanan publik tersebut dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain.

Artinya, keberhasilan individu harus dikembangkan menjadi budaya kelembagaan.

Pesan untuk Babinsa dan Bhabinkamtibmas

Salah satu bagian penting dalam dialog adalah ajakan AKP Ma’ruf kepada para Babinsa dan Bhabinkamtibmas agar tidak ragu turun langsung ke tengah masyarakat.

Pesan tersebut memperlihatkan bahwa sinergi antara unsur keamanan dan masyarakat memiliki peranan penting dalam pembangunan daerah.

Babinsa dan Bhabinkamtibmas berada dekat dengan masyarakat. Posisi tersebut memberikan peluang untuk mengetahui persoalan sejak dini.

Namun, kedekatan itu harus dibangun dengan pendekatan yang manusiawi.

Masyarakat bukan sekadar objek pembinaan.

Masyarakat adalah mitra.

Ketika aparat datang untuk mendengar, bukan hanya memerintah, maka komunikasi menjadi lebih produktif. Selanjutnya, informasi dari masyarakat dapat menjadi bahan untuk menyusun langkah penyelesaian masalah yang lebih tepat.

Di sinilah pendekatan preventif memiliki arti penting.

Mencegah masalah tentu lebih baik daripada hanya bertindak setelah masalah membesar.

Pertanian sebagai Instrumen Pemberdayaan

Dialog Gunther dan AKP Ma’ruf juga membuka perspektif bahwa pertanian dapat menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat.

Petani membutuhkan lebih dari sekadar lahan.

Mereka membutuhkan pengetahuan, akses pasar, sarana produksi, teknologi, infrastruktur, pendampingan, dan kepastian kebijakan.

Oleh sebab itu, keberhasilan program pertanian tidak dapat hanya diukur dari jumlah lahan yang ditanami.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah petani mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatannya secara berkelanjutan.

Di sinilah kolaborasi menjadi penting.

Polisi dapat berperan dalam membangun keamanan dan kepercayaan sosial. Pemerintah daerah dapat memperkuat kebijakan dan infrastruktur. Penyuluh pertanian dapat memberikan pendampingan teknis. Dunia pendidikan dapat memperkenalkan inovasi. Pelaku usaha dapat membuka akses pasar.

Dengan pola tersebut, pertanian tidak berjalan sendiri.

Pertanian menjadi bagian dari ekosistem pembangunan.

Dari Sota untuk Indonesia

Kisah AKP Ma’ruf seharusnya tidak berhenti sebagai cerita seorang polisi yang mendapatkan penghargaan.

Lebih jauh, kisah tersebut dapat dibaca sebagai studi mengenai bagaimana aparat negara membangun kepercayaan melalui kerja nyata.

Pendekatan itu sangat relevan bagi Indonesia yang memiliki wilayah luas, karakter geografis beragam, serta masyarakat dengan kebutuhan berbeda-beda.

Apa yang berhasil di Merauke tentu tidak otomatis berhasil di daerah lain. Namun, prinsip pelayanan yang mendasarinya dapat diterapkan secara adaptif.

Datang kepada masyarakat.

Mendengarkan keluhan.

Memahami kebutuhan.

Membangun komunikasi.

Mencari solusi.

Kemudian memastikan masyarakat tidak merasa sendirian menghadapi persoalannya.

Jika prinsip tersebut diterapkan secara konsisten, maka hubungan antara negara dan masyarakat dapat semakin kuat.

IKAL-Lemhannas dan Tantangan Kontribusi Alumni

Perspektif Gunther juga menarik karena muncul dari lingkungan alumni Lemhannas.

Secara kelembagaan, IKAL-Lemhannas memiliki sejarah panjang sebagai wadah para alumni. Lemhannas RI mencatat bahwa IKAL dibentuk pada 1978 karena alumni Lemhannas tersebar di berbagai wilayah dan bidang pengabdian.

Dalam perkembangan berikutnya, Lemhannas juga menekankan agar alumni memiliki watak pejuang dan wawasan negarawan.

Karena itu, dialog mengenai pertanian dan pemberdayaan masyarakat sebenarnya sejalan dengan gagasan kontribusi alumni bagi bangsa.

Tantangannya adalah memastikan gagasan strategis tidak berhenti sebagai wacana.

Alumni dengan pengalaman dan jejaring luas dapat berperan sebagai penghubung antara gagasan kebangsaan dan kebutuhan masyarakat.

Dalam konteks pertanian, kontribusi itu dapat diarahkan pada penguatan ekosistem pangan, pengembangan teknologi pertanian, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan konektivitas antara petani dan pasar.

Dengan demikian, ketahanan nasional dapat diterjemahkan menjadi agenda pembangunan yang konkret.

Jangan Biarkan Petani Berjuang Sendiri

Inti dialog Gunther dan AKP Ma’ruf pada akhirnya kembali kepada masyarakat.

Petani tidak boleh dipandang hanya sebagai produsen pangan. Petani adalah bagian penting dari struktur ketahanan nasional.

Karena itu, persoalan petani harus mendapatkan perhatian serius.

Ketika harga produksi meningkat, hasil panen menurun, akses pasar terbatas, atau regenerasi petani melemah, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani.

Dampaknya dapat menjalar ke konsumen dan perekonomian nasional.

Maka, membangun pertanian berarti membangun fondasi masyarakat.

Pada titik ini, pesan Gunther mengenai pentingnya mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali memperkuat sektor pertanian menjadi relevan.

Namun, ajakan tersebut harus diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata.

Petani membutuhkan keberpihakan yang terukur, bukan sekadar slogan.

Mereka membutuhkan produktivitas yang meningkat, biaya produksi yang terkendali, pasar yang sehat, teknologi yang mudah digunakan, serta pendampingan yang berkelanjutan.

Kesimpulan: Negara Hadir Ketika Rakyat Merasakan Manfaatnya

Dialog H. M. Gunther Gemparalam dengan AKP Ma’ruf Suroto memberikan satu pelajaran penting: ketahanan nasional dimulai dari masyarakat yang merasa aman, produktif, dihargai, dan didengar.

AKP Ma’ruf menunjukkan bahwa tugas kepolisian dapat memiliki dimensi sosial yang luas ketika aparat membangun kedekatan dengan masyarakat.

Sementara itu, Gunther menempatkan pengalaman tersebut dalam perspektif ketahanan nasional dan kemandirian pertanian.

Keduanya memberikan pesan yang saling melengkapi.

Polisi tidak harus menunggu masalah datang untuk hadir di tengah masyarakat.

Petani tidak boleh dibiarkan menghadapi persoalannya seorang diri.

Dan gagasan tentang ketahanan nasional tidak boleh berhenti di atas kertas.

Ketahanan nasional harus tumbuh dari desa, kebun, kampung, wilayah perbatasan, dan seluruh ruang kehidupan masyarakat Indonesia.

Pada akhirnya, negara dikatakan hadir bukan hanya karena aparatnya terlihat, melainkan karena masyarakat benar-benar merasakan manfaat kehadiran negara.

Dari petani yang berdaya, lahir ketahanan pangan. Dari masyarakat yang aman, tumbuh stabilitas. Dari aparat yang dekat dengan rakyat, lahir kepercayaan. Dan dari kepercayaan itulah ketahanan nasional memperoleh fondasi yang kuat.

SUPERSEMAR NEWS — Tajam, Edukatif, Informatif, dan Berpihak pada Kepentingan Publik.***(SB)

SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
Editor : Sangga Buana
Sumber : Supersemar News — Dialog/Wawancara bersama H. M. Gunther Gemparalam dan AKP Ma’ruf Suroto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *