
SUPERSEMAR NEWS โ JAKARTA โ Penangkapan Dewi Astutik di Sihanoukville, Kamboja, menjadi salah satu operasi narkotika terbesar yang pernah dilakukan kolaborasi Badan Narkotika Nasional (BNN), Interpol, dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI dalam beberapa tahun terakhir. Perempuan berusia 43 tahun itu, yang sebelumnya dikenal sebagai mantan tenaga kerja wanita (TKW), kini ditetapkan sebagai salah satu aktor intelektual dalam penyelundupan narkoba bernilai fantastis: Rp5 triliun.
Menurut data resmi BNN yang dirilis dalam konferensi pers, Dewi bukan hanya pelaku, tetapi otak jaringan, yang mampu menghubungkan berbagai kelompok kriminal dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika, hingga Timur Tengah. Ia juga disebut dekat dengan Fredy Pratama, kingpin narkoba Indonesia yang masuk daftar buronan internasional.
Meski demikian, perjalanan Dewi menuju dunia kriminal kelas global ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang menghubungkannya dengan sosok misterius dari Nigeria yang disebut sebagai โDONโ, tokoh yang akhirnya mengubah hidup Dewi secara total.
Untuk memahami bagaimana seorang perempuan asal Ponorogo bisa berubah menjadi bos narkoba lintas benua, berikut investigasi lengkapnya.
Latar Belakang: Dari Ponorogo Hingga Kamboja
Sumber internal BNN menjelaskan bahwa nama asli Dewi adalah Pariyatin, lahir dan besar di Ponorogo, Jawa Timur. Ia menjalani kehidupan sederhana sebelum memutuskan merantau sebagai TKW. Tujuannya sederhana: mencari nafkah.
Namun, hidupnya berubah drastis ketika ia pindah ke Kamboja pada Februari 2023. Di sana, ia tidak bekerja sebagai TKW, melainkan direkrut masuk ke sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penipuan daring (scamming)โindustri ilegal yang marak di Kamboja dalam beberapa tahun terakhir.
Industri penipuan ini mempertemukan Dewi dengan berbagai jejaring gelap lintas negara. Pertemuan inilah yang menjadi pintu masuk menuju dunia kriminal yang lebih besar.
Pertemuan dengan โDONโ: Titik Balik Dewi Astutik
Menurut laporan Detik dan pernyataan resmi Kepala BNN, Komjen Suyudi Ario Seto, Dewi bertemu dengan seorang pria Nigeria yang berinisial DON. Sosok ini disebut sebagai godfather, pengendali sejumlah operasi narkoba dan penipuan internasional.
โDON inilah yang menjadi caretaker dan godfather PAR alias DA selama di Kamboja,โ kata Komjen Suyudi.
DON memiliki posisi strategis dalam jaringan narkoba global. Ia berhubungan dengan kelompok kriminal Afrika Barat, jaringan golden triangle di kawasan ThailandโLaosโMyanmar, dan bahkan memiliki operasi sampai ke Afrika Utara dan Timur Tengah.
Dalam pernyataan lanjutan, Suyudi menegaskan:
โKarena di Kamboja PAR merasa bisa kendalikan semua jaringan dengan uang.โ
DON melihat Dewi sebagai sosok yang cerdas, berani, dan ambisius. Dari sinilah chemistry kriminal itu terbentuk. Dewi dan DON kemudian menjadi pasangan dalam bisnis gelap sekaligus pasangan secara personal.
Perencanaan Bisnis Narkoba: Januari 2024 Jadi Titik Awal
Meski Dewi baru pindah ke Kamboja pada awal 2023, proses perencanaannya untuk masuk jaringan narkoba baru dimulai pada awal 2024. DON memperkenalkan Dewi ke sejumlah jaringan pemasok di Asia Selatan dan Timur Tengah, termasuk kelompok-kelompok yang dikenal sebagai bagian dari Golden Crescent, kawasan penghasil narkoba di PakistanโIranโAfghanistan.
Kerja sama mereka memiliki pola kerja yang jelas:
- DON bertugas menyediakan barang dan modal.
- Dewi bertanggung jawab mengatur logistik, kurir, dan pengemasan.
- Jaringan Afrika Barat mengatur transaksi dan komunikasi sandi.
- Jaringan Asia Tenggara mengatur distribusi akhir ke Indonesia dan negara-negara lain.
Suyudi menegaskan pola tersebut:
โPola kerja antara DON dan DA, DA yang supply dan atur kurir. DON yang supply barang dan mendanai.โ
Kapasitas Dewi meningkat tajam. Ia tidak lagi sekadar operator, tetapi menjadi central node dalam rantai distribusi narkoba lintas benua.
Dewi dan Jaringan Segitiga Emas (Golden Triangle)
Dalam penyelidikan BNN, Dewi juga tercatat memiliki hubungan dengan jaringan Golden Triangle, sebuah kawasan di perbatasan MyanmarโThailandโLaos yang sejak lama dikenal sebagai wilayah penghasil narkotika terbesar di dunia.
Sebagaimana diketahui melalui laporan The United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), kawasan ini menjadi pusat produksi sabu yang memasok sebagian besar pasar Asia Tenggara.
Dewi memanfaatkan kontak dari DON dan sejumlah gembong lokal untuk mendapatkan akses ke laboratorium dan pemasok besar. Ia juga diduga memiliki jalur sendiri menuju jaringan Fredy Pratama, yang dikenal dengan kartel Escobar Indonesia.
Hal ini menguatkan dugaan bahwa Dewi bukan sekadar kaki tangan, tetapi aktor strategis yang menghubungkan dua dunia narkotika besar: Golden Triangle dan Golden Crescent.
DON Ditangkap dan Diekstradisi ke Amerika Serikat
Operasi internasional yang digerakkan oleh Drug Enforcement Administration (DEA) berhasil menangkap DON lebih dahulu. Ia kemudian diekstradisi ke Amerika Serikat karena masuk daftar buronan operasi anti-narkoba global.
Penangkapan DON membuat jaringan yang dipimpin Dewi sempat melemah. Namun, bukannya menghentikan operasi, Dewi justru mengambil alih penuh kendali jaringan.
Menurut penyidik BNN:
- Dewi menguasai aset jaringan di Kamboja
- Ia mengatur transaksi sabu bernilai miliaran rupiah
- Ia menentukan rute dan jalur penyelundupan ke Indonesia
Dalam periode ini, Dewi menggunakan nama samaran โMamiโ, yang membuat banyak kurir menganggapnya sebagai tokoh sentral jaringan baru.
Masuk Red Notice Interpol
Otoritas Indonesia langsung bergerak ketika menemukan bukti kuat keterlibatan Dewi dalam penyelundupan sabu Rp5 triliun. Pada 3 Oktober 2024, Dewi resmi masuk dalam Red Notice Interpol.
Red Notice adalah sinyal internasional yang meminta seluruh negara anggota Interpol untuk membantu penangkapan seseorang yang menjadi buron negara lain.
Sejak saat itu, Dewi berpindah-pindah tempat di Kamboja. Ia disebut menggunakan safe house yang disediakan jaringan kriminal Pakistan dan Afghanistan.
Penangkapan Spektakuler di Sihanoukville
Pada akhirnya, operasi gabungan BNN โ Interpol โ BAIS TNI berhasil mendeteksi aktivitas Dewi. Ia ditangkap di sebuah apartemen mewah di Sihanoukville bersama seorang pria warga negara Pakistan, yang diyakini sebagai kekasih sekaligus rekan bisnisnya.
Operasi itu berlangsung cepat, terkoordinasi, dan tanpa tembakan.
BNN menyebut penangkapan ini sebagai prestasi penting dalam perang melawan narkoba internasional.
Nilai Kerugian Negara dan Dampak Jaringan Dewi
BNN menyebut nilai transaksi sabu yang dikelola Dewi mencapai Rp5 triliun hanya dalam beberapa pengiriman. Selain Indonesia, jaringan Dewi juga memasok ke:
- Malaysia
- Korea Selatan
- Jepang
- Timur Tengah
Bahkan, seorang pejabat dari Korea Selatan dilaporkan sudah datang ke Jakarta untuk membantu investigasi, sebab Dewi juga masuk daftar pencarian di Seoul.
Motivasi Dewi: Uang, Kekuasaan, dan Kendali
Dalam interogasi awal, Dewi mengaku bahwa ia masuk jaringan narkoba karena melihat uang yang mengalir cepat.
Namun, menurut investigasi BNN, motivasinya berkembang. Dewi merasa memiliki kendali atas jaringan besar. Ia memperoleh:
- Akses ke uang miliaran rupiah
- Hidup mewah dengan apartemen dan fasilitas premium
- Pengaruh dalam kelompok kriminal transnasional
Dewi berubah dari korban scamming menjadi queenpin yang mengendalikan sindikat lintas negara.
Mengapa Dewi Bisa Naik Kelas Begitu Cepat?
Ada beberapa faktor yang membuat Dewi bisa melesat menjadi pemimpin jaringan:
- Bekal pengalaman di industri scamming Kamboja
Ia terbiasa menggunakan teknologi komunikasi terenkripsi. - Koneksi langsung ke DON
Memberinya akses ke pemasok besar. - Kemampuannya merekrut kurir dan operator lokal
Termasuk orang Indonesia dan Pakistan. - Kemampuan mengatur logistik dari banyak negara
Seamless dan cepat. - Memanfaatkan negara-negara yang longgar aturan imigrasinya
Seperti Laos dan Kamboja.
Analisis: Kerapuhan Pengawasan Wilayah Asia Tenggara
Kasus Dewi mengungkap kelemahan keamanan di kawasan Asia Tenggara, terutama:
- Perdagangan manusia ke pusat scamming
- Minimnya pengawasan terhadap ekspatriat ilegal
- Jaringan narkotika yang memanfaatkan negara-negara transit
Kawasan seperti Sihanoukville, Phnom Penh, dan Vientiane sering disebut sebagai โzona abu-abu kriminalโ.
Penangkapan Dewi Baru Langkah Awal
Kasus Dewi Astutik mengajarkan bahwa:
- Kelompok kriminal internasional sangat adaptif
- Orang biasa pun bisa berubah menjadi gembong narkoba ketika berada dalam lingkungan kriminal terorganisir
- Kerja sama internasional sangat penting untuk memutus rantai narkotika
Meskipun Dewi telah ditangkap, BNN menegaskan bahwa investigasi masih berjalan. Ada banyak pihak lain yang terlibat dalam jaringannya.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki