
BATI-BATI, Supersemar news – Ketua DPP Barisan Pertahanan Adat Suku Asli Kalimantan (BAPASAK), Ahmad Royyani, mengimbau anggota organisasi untuk tetap menggunakan senjata ciri khas Kalimantan dalam acara-acara budaya, Kamis (22/05/2025).
Imbauan ini disampaikan sebagai respons atas gencarnya aksi pemberantasan premanisme yang mungkin berdampak pada persepsi negatif terhadap ormas kesukuan di Kalimantan.
Ahmad Royyani menekankan bahwa penggunaan senjata tajam seperti mandau, tombak, parang lantik, dan parang lais dalam acara budaya adalah bagian dari tradisi dan bukan premanisme.
“Ini bukan alat kriminalitas, ini adalah alat atribut, alat peraga yang memang harus kita tampilkan kepada orang-orang Kalimantan, biar dikenal luas,” jelas Royyani.
Penggunaan senjata ciri khas Kalimantan dalam acara budaya bertujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya Kalimantan kepada generasi muda dan masyarakat luas.
“Ada beberapa senjata tajam khas Kalimantan yang harus diperkenalkan kepada penerus kita, agar senjata kita terus menerus bisa dikenal banyak orang, khususnya orang Kalimantan,” tambah Royyani.
BAPASAK berharap dapat menjaga keseimbangan antara melestarikan budaya dan menghindari persepsi negatif dari masyarakat terkait penggunaan senjata ciri khas dalam acara budaya.
(Fauji)
