
Desa Rengasjajar Raup Rp43 Miliar Setahun dari Tambang Parung Panjang
SUPERSEMAR NEWS – JABODETABEK – Desa Rengasjajar, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, menjadi sorotan publik setelah terungkap mampu meraup pemasukan hingga Rp43 miliar per tahun dari aktivitas tambang di Parung Panjang dan sekitarnya.
Fakta tersebut terungkap saat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) bertemu langsung dengan Kepala Desa Rengasjajar, Rusli, serta Ahmad Sayani, warga yang sempat viral karena hanya makan kelapa setelah tambang ditutup.
Pendapatan Desa Rengasjajar Capai Puluhan Miliar
Dalam pertemuan itu, Rusli membeberkan bahwa pemerintah desa memungut biaya sebesar Rp100 ribu per truk tronton yang melintas dari area tambang. Setiap harinya, sekitar 500 truk melewati wilayah tersebut.
“Rp100 ribu pungutan dilakukan pemerintahan desa dari setiap tronton di tiap gunung,” ujar Rusli kepada Dedi.
Mendengar hal tersebut, KDM langsung menghitung potensi pendapatan desa.
Dengan 500 truk per hari, desa berpotensi memperoleh Rp50 juta per hari atau sekitar Rp1,5 miliar per bulan.
Selain itu, setiap perusahaan tambang menyetor Rp5 juta per bulan ke kas desa berdasarkan Peraturan Desa (Perdes) tentang iuran.
“Dari transporter saja setahun Rp18 miliar. Kemudian dari perusahaan tambang dan lainnya bisa mencapai Rp25 miliar. Totalnya Rp43 miliar setahun,” kata Dedi.
Menurutnya, dana sebesar itu seharusnya sudah cukup membangun infrastruktur yang baik di Rengasjajar.
Dana Tambang untuk Bangun 9 Masjid
Menanggapi pernyataan tersebut, Rusli mengaku dana dari pungutan desa sebagian besar telah digunakan untuk pembangunan fasilitas ibadah.
“Kami sudah membangun sembilan masjid sampai saat ini dari dana desa,” ujarnya.
Namun, pernyataan itu justru memunculkan pertanyaan publik tentang transparansi dana dan dasar hukum pungutan tambang di tingkat desa.
KDM Bekukan Sementara Aktivitas Tambang
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi telah membekukan sementara seluruh perusahaan tambang di Parung Panjang, Cigudeg, dan Rumpin.
Langkah itu diambil setelah truk-truk tambang mengabaikan aturan jam operasional sesuai Surat Edaran Gubernur Jabar tertanggal 19 September 2025.
KDM menegaskan bahwa nasib perusahaan tambang akan ditentukan berdasarkan hasil audit ilmiah oleh tim investigatif Pemprov Jabar yang melibatkan ITB dan IPB University.
“Kami akan mengambil keputusan berdasarkan pendekatan ilmiah, bukan politik,” tegas Dedi.
Audit tersebut meliputi aspek lingkungan, ketenagakerjaan, dan tata kelola pertambangan.
KDM Siapkan Bantuan untuk Pekerja Terdampak
Akibat penutupan tambang, ribuan warga kehilangan pekerjaan. Dedi Mulyadi memastikan akan bertanggung jawab penuh terhadap para pekerja terdampak.
Ia menyiapkan dua opsi:
- Bantuan tunai sebesar Rp2 juta–Rp3 juta, atau
- Penempatan kerja baru di lingkungan Pemprov Jawa Barat.
“Saat ini kami sedang mendata warga terdampak, termasuk dari Desa Rengasjajar,” ujar Diyan Adi Tinggal, pejabat desa setempat.
Pendataan itu menjadi langkah awal Pemprov Jabar dalam menyalurkan bantuan yang tepat sasaran.
Parung Panjang Akan Disulap Jadi Jalan Idaman
Selain membekukan tambang, KDM juga berkomitmen memperbaiki total infrastruktur jalan di Parung Panjang yang selama ini dikenal sebagai “jalur neraka truk tambang”.
“Kami akan bongkar jalan rusak dan bangun kembali agar Parung Panjang menjadi jalan idaman,” ujar Dedi dalam unggahan di Instagram resminya.
Ia berjanji jalan di Parung Panjang akan menjadi jalan yang nyaman dan aman untuk semua pengguna, bukan hanya truk tambang.
“Saya ingin menciptakan Jawa Barat yang nyaman untuk semua orang,” tambahnya.
Warga Parung Panjang Tak Pernah Menyerah
Selama bertahun-tahun, warga Parung Panjang dan sekitarnya terus berjuang melawan dampak buruk tambang: debu, kemacetan, jalan rusak, dan kecelakaan maut.
Saeful Anwar, Ketua Gerakan Masyarakat Parung Panjang untuk Perubahan (Gampar), mengungkapkan perjuangan warga sudah dilakukan sejak 2009.
“Kami sudah audiensi ke DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, hingga DPR RI. Tapi belum ada solusi nyata,” katanya.
Bahkan, warga sempat memblokade dan memutarbalikkan truk tambang yang melanggar jam operasional, meski tindakan itu sering berujung bentrok dengan sopir.
Kini, mereka mulai melihat secercah harapan setelah KDM turun tangan dan menghentikan aktivitas tambang sementara.
“Terima kasih kepada semua pihak, terutama media dan netizen, yang terus menyuarakan penderitaan kami,” ujar Saeful.
“Semoga perjuangan panjang ini berbuah keadilan untuk warga Parung Panjang.”
SupersemarNewsTeam
Reporter: R/Rifay Marzuki
