
NEW DELHI, Supersemar News – India menolak tawaran Rusia untuk membeli jet tempur siluman Su-57E dan memilih memusatkan anggaran pertahanan pada modernisasi armada Su-30MKI yang telah dimiliki.
Selain itu, New Delhi juga tengah mempercepat pengembangan pesawat tempur siluman buatan dalam negeri melalui program Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA).
Keputusan tersebut disampaikan Sekretaris Pertahanan India Rajesh Kumar Singh.
Meski tidak secara langsung menyebut Su-57E, ia menegaskan bahwa India tidak berencana mengakuisisi “versi baru pesawat Sukhoi”, sebagaimana dikutip Kyiv Post, Selasa (4/8/2026).
Fokus modernisasi Su-30MKI
Alih-alih membeli jenis pesawat tempur baru dari Rusia, New Delhi memilih meningkatkan kemampuan sekitar 260 unit Su-30MKI yang saat ini menjadi tulang punggung Angkatan Udara India.
Program peningkatan tersebut dikenal sebagai Super Sukhoi, yang mencakup pemasangan avionik baru, sistem peperangan elektronik, persenjataan yang lebih modern, serta perangkat navigasi tambahan.
Selain itu, Kementerian Pertahanan India juga telah memesan 12 unit Su-30MKI tambahan dari perusahaan dirgantara dalam negeri, Hindustan Aeronautics Limited (HAL), dengan nilai kontrak sekitar 135 miliar rupee atau sekitar Rp 25 triliun.
Program jet tempur siluman dalam negeri dilanjutkan
Hubungan India dengan proyek Su-57 sebenarnya telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Pada Desember 2010, HAL dan perusahaan ekspor persenjataan Rusia Rosoboronexport menandatangani kontrak desain senilai 295 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,2 triliun sebagai bagian dari program pengembangan pesawat tempur generasi kelima.
Namun, India menarik diri dari proyek tersebut pada 2018 karena khawatir terhadap kemampuan siluman pesawat, sistem peperangan elektronik, keterbatasan transfer teknologi dari Rusia, serta meningkatnya biaya dan keterlambatan proyek.
Sebagai gantinya, India kini mempercepat pengembangan pesawat tempur siluman AMCA yang dikembangkan secara domestik.
Kerja sama pertahanan dengan Rusia tetap berlanjut

Meski menolak pembelian Su-57E, keputusan tersebut tidak berarti India memutus hubungan pertahanan dengan Rusia.
India masih mengoperasikan berbagai alutsista buatan Rusia, mulai dari pesawat tempur, kapal selam, tank hingga sistem pertahanan udara.
Kedua negara juga tetap menjalankan proyek bersama, termasuk pengembangan rudal jelajah supersonik BrahMos.
Namun, para analis yang dikutip Aerospace Global News menilai meningkatnya ketergantungan ekonomi Rusia terhadap China—yang merupakan rival strategis India—membuat New Delhi semakin berhati-hati untuk bergantung pada Moskwa dalam kebutuhan pertahanan di masa depan.
Selain bidang pertahanan, hubungan India dan Rusia juga tetap erat di sektor energi.
Sebagai importir minyak terbesar ketiga di dunia, India masih terus membeli minyak mentah dari Rusia meskipun Uni Eropa telah menjatuhkan paket sanksi ke-21 terhadap Moskwa.
Laporan sebelumnya juga menyebut Rusia mengimpor sekitar 60.000 metrik ton bensin dari India, yang diduga dikirim menggunakan kapal tanker Agni dan Varg, serta sekitar 50.000 metrik ton bensin AI-92 dari Kazakhstan.
Di sisi lain, kilang-kilang swasta di China dilaporkan terus membeli minyak mentah Rusia dan bernegosiasi dengan Iran untuk menambah pasokan akibat gangguan distribusi energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Sumber : Kompas.com
