
SUPERSEMAR NEWS – JAKARTA — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak semestinya berhenti pada seremoni, perlombaan, atau kemeriahan lingkungan. Di balik kegiatan yang sederhana, terdapat pesan kebangsaan yang jauh lebih penting: bagaimana masyarakat menjaga persatuan, memperkuat gotong royong, serta meneruskan cita-cita kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut mengemuka dalam wawancara Rifay Marzuki, CEO Faytastic Pro dan Dewan Pembina Supersemar News, bersama ** ****Dwi Rio Ketua DPC PDI Perjuangan Jakarta Timur serta Abdul Rozak Komandan Satgas Cakrabuana Jakarta Timur. ** Wawancara berlangsung di tengah rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 RI yang digelar secara sederhana, tetapi sarat dengan semangat kebersamaan.
Dalam wawancara tersebut, Abdul Rozak menjelaskan bahwa persiapan kegiatan dilakukan hanya sekitar tiga hari. Menariknya, kegiatan itu bukan lahir dari rapat panjang atau perencanaan berbulan-bulan, melainkan dari gagasan dan semangat bersama para anggota serta lingkungan organisasi.
Bagi Abdul Rozak, spontanitas tersebut justru memperlihatkan adanya semangat gotong royong. Para anggota Satgas Cakrabuana Jakarta Timur bersama jajaran DPC PDI Perjuangan Jakarta Timur berkontribusi melalui tenaga, pikiran, tempat, dan dukungan pembiayaan agar kegiatan dapat terlaksana.
Hal itu menjadi gambaran bahwa peringatan kemerdekaan tidak selalu membutuhkan acara mewah. Yang jauh lebih penting adalah keterlibatan masyarakat dan kemampuan menjadikan momentum kemerdekaan sebagai ruang untuk memperkuat hubungan sosial.
Abdul Rozak: Kemerdekaan Harus Dirawat dengan Semangat Kebersamaan

Abdul Rozak menegaskan bahwa kegiatan HUT ke-81 RI merupakan momentum untuk mengingat jasa para pejuang yang telah mendahului generasi sekarang.
Pesan tersebut memiliki relevansi kuat. Kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh secara cuma-cuma. Karena itu, generasi hari ini mempunyai tanggung jawab moral untuk menjaga nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu bangsa.
Dalam konteks tersebut, kegiatan sederhana seperti perlombaan warga dapat memiliki nilai pendidikan sosial. Perlombaan bukan sekadar mencari pemenang, tetapi menjadi sarana mempertemukan masyarakat, menciptakan interaksi, dan membangun suasana kekeluargaan.
Menurut penjelasan Abdul Rozak, sejumlah perlombaan yang digelar antara lain balap kelereng, permainan pukul air dalam balon, joget berpasangan, serta permainan memasukkan sesuatu ke dalam botol. Beberapa perlombaan juga dilakukan secara berkelompok.
Jika dilihat lebih jauh, format kegiatan tersebut menunjukkan satu hal penting: masyarakat membutuhkan ruang bersama untuk berinteraksi tanpa sekat.
Di tengah kehidupan perkotaan Jakarta yang dinamis, ruang kebersamaan semacam itu menjadi semakin penting. Masyarakat tidak cukup hanya hidup berdampingan secara geografis. Mereka juga harus membangun komunikasi, solidaritas, dan kepedulian.
Dengan demikian, lomba kemerdekaan dapat dibaca sebagai bentuk kecil dari pendidikan sosial. Anak-anak belajar sportif, orang dewasa belajar bekerja sama, sementara masyarakat belajar menghargai perbedaan.
Dwi Rio: HUT RI Bukan Sekadar Seremoni
Sementara itu, Dwi Rio memberikan perspektif yang lebih luas mengenai makna peringatan HUT Kemerdekaan RI.
Menurut Rio, kegiatan peringatan kemerdekaan secara rutin dilaksanakan dalam berbagai tingkatan organisasi, mulai dari DPP, DPD, DPC hingga Satgas. Bentuk kegiatannya pun beragam, mulai dari diskusi, monolog, pentas seni dan tari, hingga perlombaan.
Namun, menurut Rio, substansi utama dari seluruh kegiatan tersebut tidak boleh hilang.
Peringatan kemerdekaan harus menjadi momentum untuk mengobarkan kembali nilai-nilai dan cita-cita Indonesia Merdeka, khususnya persatuan dan keadilan bagi seluruh rakyat.
Pandangan tersebut penting karena kemerdekaan tidak hanya berkaitan dengan terbebasnya bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga memiliki dimensi sosial dan politik: bagaimana negara memastikan seluruh rakyat memperoleh kesempatan yang adil untuk hidup, berkembang, dan berkontribusi.
Konstitusi sendiri menempatkan keadilan sosial sebagai salah satu tujuan penting kehidupan bernegara. Karena itu, peringatan HUT RI seharusnya menjadi momentum evaluasi bersama mengenai sejauh mana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Persatuan Menjadi Kata Kunci
Jika seluruh pernyataan Dwi Rio dan Abdul Rozak ditarik pada satu garis besar, terdapat satu kata kunci yang sangat menonjol, yakni persatuan.
Persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan. Sebaliknya, persatuan membutuhkan kemampuan untuk hidup bersama dalam perbedaan.
Indonesia dibangun dari keberagaman suku, agama, bahasa, budaya, daerah, serta latar belakang sosial. Karena itu, tantangan terbesar bangsa bukan semata-mata bagaimana menyatukan orang-orang yang memiliki pandangan sama, melainkan bagaimana menjaga kebersamaan ketika masyarakat mempunyai kepentingan dan pandangan yang berbeda.
Dalam konteks ini, pernyataan Rio mengenai dinamika kehidupan berbangsa menjadi relevan. Ia menggambarkan bahwa kehidupan berbangsa tidak selalu berjalan harmonis tanpa gesekan. Perbedaan dan riak merupakan bagian dari dinamika demokrasi dan kehidupan sosial.
Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berubah menjadi konflik yang menghancurkan persatuan.
Pemikiran tentang persatuan bangsa juga mempunyai akar sejarah yang kuat. Dalam pidato 1 Juni 1945, Soekarno menempatkan gagasan kebangsaan dan persatuan sebagai bagian penting dari fondasi negara Indonesia.
Karena itu, pesan persatuan dalam peringatan HUT RI bukanlah slogan baru. Ia merupakan bagian dari persoalan fundamental bangsa sejak proses pembentukan negara.
Ancaman Disintegrasi dan Kemiskinan Harus Dijawab dengan Kebijakan
Dalam wawancara, Rio juga menyinggung berbagai tantangan yang masih dihadapi Indonesia, antara lain ancaman disintegrasi, kemiskinan, serta persoalan dalam sistem ketatanegaraan.
Pernyataan tersebut perlu dibaca sebagai refleksi politik, bukan sekadar kritik.
Sebuah negara demokrasi memang menghadapi tantangan yang kompleks. Ketimpangan ekonomi, rendahnya akses terhadap pendidikan, persoalan sosial, polarisasi politik, serta melemahnya kepercayaan publik dapat menjadi persoalan yang menguji ketahanan nasional.
Oleh karena itu, menjaga persatuan tidak cukup dilakukan melalui slogan. Persatuan harus mempunyai fondasi material berupa keadilan.
Masyarakat yang merasa memperoleh kesempatan yang adil akan mempunyai alasan lebih kuat untuk mempertahankan kebersamaan. Sebaliknya, ketidakadilan yang dibiarkan dapat memperbesar rasa frustrasi dan memperlemah kepercayaan terhadap institusi.
Inilah titik penting yang dapat ditarik dari wawancara tersebut: persatuan dan keadilan merupakan dua hal yang saling berkaitan.
Persatuan membutuhkan keadilan, sedangkan keadilan membutuhkan persatuan dan stabilitas sosial.
Pendidikan Politik Rakyat Menjadi Agenda Penting
Salah satu pesan Rio yang menarik adalah pentingnya membangun pendidikan politik rakyat.
Gagasan tersebut relevan dalam kehidupan demokrasi modern. Politik tidak semestinya hanya dipahami sebagai urusan partai, pemilu, parlemen, atau perebutan kekuasaan.
Politik juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Pendidikan politik yang sehat dapat membantu masyarakat membedakan informasi, propaganda, kritik, dan fakta. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan tersebut semakin penting.
Masyarakat harus mempunyai kemampuan untuk memeriksa informasi sebelum mempercayainya, memahami konteks sebelum memberikan penilaian, serta menyampaikan kritik tanpa menghilangkan penghormatan terhadap perbedaan.
Dalam perspektif tersebut, pendidikan politik bukan hanya tanggung jawab partai politik. Media massa, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, keluarga, dan masyarakat sipil juga memiliki peran.
Bagi media arus utama, pendidikan politik berarti menghadirkan informasi yang faktual, berimbang, dan mudah dipahami publik.
Satgas dan Organisasi Harus Menjaga Soliditas
Abdul Rozak dalam wawancara juga menyampaikan pesan internal agar anggota tetap solid.
Soliditas organisasi memiliki arti penting, terutama ketika sebuah organisasi menjalankan fungsi sosial di tengah masyarakat.
Namun, soliditas tidak seharusnya dipahami sebagai kepatuhan tanpa kritik. Organisasi yang sehat justru membutuhkan komunikasi terbuka, evaluasi, dan kemampuan memperbaiki kekurangan.
Dalam konteks Satgas Cakrabuana Jakarta Timur, semangat membantu pelaksanaan kegiatan HUT RI menunjukkan bahwa organisasi dapat berperan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan.
Abdul Rozak juga menyampaikan bahwa kegiatan donor darah telah menjadi aktivitas rutin. Dari perspektif sosial, kegiatan semacam itu memiliki nilai kemanusiaan yang langsung dirasakan masyarakat.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan sebuah organisasi tidak hanya dapat dilihat dari seberapa besar struktur yang dimiliki, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Pesan Megawati dan Tantangan Politik Kebangsaan

Dalam wawancara, Rio juga mengaitkan peringatan kemerdekaan dengan pesan yang menurutnya terus ditekankan oleh Megawati Soekarnoputri, terutama mengenai persatuan dan keadilan.
Secara organisasi, informasi mengenai PDI Perjuangan dapat diverifikasi melalui data kepartaian yang tercatat di Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU mencatat PDI Perjuangan sebagai partai politik yang terdaftar dalam sistem informasi kepartaian.
Sementara itu, materi kebudayaan dan pemikiran Bung Karno yang dipublikasikan oleh badan kebudayaan yang berafiliasi dengan PDI Perjuangan juga banyak menempatkan persatuan, nasionalisme, kebudayaan, dan pendidikan sebagai bagian dari pembahasan kebangsaan.
Namun, secara jurnalistik, pesan politik tersebut perlu ditempatkan sebagai pandangan narasumber. Media tetap harus memberikan ruang bagi publik untuk menilai dan menguji gagasan tersebut secara kritis.
Di sinilah fungsi media menjadi penting: bukan menjadi corong politik, melainkan menjadi ruang pertukaran informasi dan gagasan.
Membaca Makna HUT RI dari Jakarta Timur
Wawancara Rifay Marzuki bersama Dwi Rio dan Abdul Rozak memberikan gambaran bahwa peringatan HUT ke-81 RI dapat dibaca dari dua lapisan.
Lapisan pertama adalah kegembiraan masyarakat melalui kegiatan perlombaan, hiburan, dan interaksi sosial.
Lapisan kedua adalah refleksi mengenai perjalanan bangsa.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Justru melalui kegembiraan, masyarakat dapat kembali mengingat bahwa kemerdekaan merupakan milik seluruh rakyat. Sementara melalui refleksi, masyarakat dapat bertanya apakah cita-cita kemerdekaan telah benar-benar dirasakan secara adil.
Dari perspektif ini, peringatan HUT RI menjadi lebih bermakna ketika masyarakat tidak hanya mengibarkan bendera, tetapi juga menghidupkan nilai gotong royong.
Merdeka Bukan Sekadar Mengenang
Pesan yang muncul dari wawancara Dwi Rio dan Abdul Rozak pada akhirnya membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar: apa arti kemerdekaan bagi masyarakat hari ini?
Jawabannya tidak cukup ditemukan dalam seremoni.
Kemerdekaan harus hadir dalam kesempatan memperoleh pendidikan, akses terhadap ekonomi, pelayanan publik yang adil, kebebasan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab, serta kehidupan sosial yang saling menghormati.
Karena itu, semangat HUT ke-81 RI harus diterjemahkan menjadi tindakan.
Bagi masyarakat, tindakan tersebut dapat dimulai dari hal sederhana: menjaga kerukunan, membantu tetangga, menghormati perbedaan, aktif dalam kegiatan sosial, serta tidak mudah terprovokasi informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Bagi organisasi politik, tantangannya lebih besar: bagaimana gagasan tentang persatuan, keadilan, keberpihakan kepada rakyat, dan pendidikan politik benar-benar diwujudkan dalam kerja nyata.
Sementara bagi media, tanggung jawabnya adalah menghadirkan informasi yang akurat, kritis, edukatif, dan berimbang.
Dengan demikian, pesan HUT ke-81 RI tidak berhenti ketika perlombaan selesai atau bendera diturunkan.
Kemerdekaan harus terus dirawat. Persatuan harus terus dijaga. Keadilan harus terus diperjuangkan. Dan pendidikan politik harus terus dibangun agar rakyat semakin sadar terhadap hak, kewajiban, serta masa depan bangsanya.
Itulah makna yang dapat dibaca dari pertemuan dan wawancara Rifay Marzuki bersama Dwi Rio dan Abdul Rozak: bahwa di tengah kemeriahan peringatan kemerdekaan, terdapat pekerjaan besar yang tidak boleh dilupakan, yakni menjaga Indonesia tetap bersatu dan memastikan cita-cita kemerdekaan terus hidup dalam kehidupan rakyat.
Supersemar News — Tegas, Lugas, Informatif.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
Editor : Supersemar News — Wawancara Rifay Marzuki bersama Dwi Rio dan Abdul Rojak dalam rangkaian kegiatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
