Emma Rivilla mengenakan masker saat menyampaikan keprihatinannya terhadap kabut asap Kalsel yang berdampak pada kesehatan masyarakat, anak-anak, relawan, dan petugas pemadam kebakaran.

Ketika Kabut Asap Menjadi Ancaman, Kepedulian Negara Harus Menjadi Prioritas

SUPERSEMAR NEWS – Musibah kabut asap yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan kembali mengetuk kesadaran publik tentang pentingnya keberpihakan terhadap warga yang terdampak bencana lingkungan. Ketika udara berubah menjadi ancaman bagi kesehatan, aktivitas masyarakat terganggu, dan anak-anak harus menjalani kegiatan belajar dalam kondisi tidak ideal, perhatian pemerintah terhadap penanganan dampak di lapangan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.

Keprihatinan tersebut disampaikan oleh Emma Rivilla, yang secara langsung menyuarakan kondisi masyarakat di wilayah yang terdampak kabut asap, khususnya saat berada di SMP 1 Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.

Dalam pernyataannya, Emma Rivilla menggambarkan situasi yang menurut kesaksiannya telah berlangsung lebih dari satu bulan. Kabut asap tidak hanya terlihat di ruang terbuka, tetapi juga meninggalkan bau menyengat yang masih dirasakan masyarakat hingga ke dalam rumah.

Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak, persoalan kabut asap bukan sekadar isu lingkungan yang dibahas melalui laporan dan statistik. Kabut asap telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang memengaruhi kesehatan, pendidikan, aktivitas ekonomi, dan rasa aman warga.

Atas dasar itulah, pernyataan Emma Rivilla patut dipandang sebagai suara keprihatinan sekaligus kritik konstruktif terhadap pentingnya menentukan skala prioritas penggunaan anggaran negara ketika masyarakat sedang menghadapi situasi darurat.

Kabut Asap Bukan Sekadar Gangguan, Tetapi Ancaman Nyata

Lahan terbakar dan sisa titik api di Kalimantan Selatan menjadi gambaran dampak Karhutla yang memicu kabut asap Kalsel dan mengancam kesehatan masyarakat.

Emma Rivilla menyampaikan bahwa masyarakat di lokasi yang dikunjunginya merasakan dampak kabut asap cukup parah. Menurut keterangannya, kondisi tersebut telah berlangsung dalam waktu yang panjang dan masyarakat masih menemukan titik-titik api yang mengeluarkan asap.

Situasi seperti ini, apabila berlangsung terus-menerus, tentu tidak dapat dianggap sebagai gangguan biasa.

Kabut asap membawa konsekuensi yang jauh lebih luas daripada sekadar berkurangnya jarak pandang. Masyarakat harus menghadapi risiko paparan polusi udara, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan.

Lebih dari itu, dampak kabut asap juga menyentuh kehidupan sosial. Anak-anak tetap harus belajar, sementara orang tua menghadapi kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan keluarga. Para petugas di lapangan harus bekerja menghadapi panas, asap, keterbatasan perlengkapan, serta risiko keselamatan yang tinggi.

Dalam konteks inilah, pernyataan Emma Rivilla memiliki pesan yang tegas: ketika masyarakat sedang menghadapi musibah, negara dan seluruh unsur pemerintahan perlu memperlihatkan kepekaan melalui kebijakan yang benar-benar berpihak kepada kebutuhan mendesak rakyat.

Kabut asap Kalsel menyelimuti jalan dan permukiman warga akibat Karhutla, mengganggu aktivitas masyarakat serta meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan.

Keprihatinan Emma Rivilla terhadap Anak-Anak

Salah satu bagian paling kuat dari pernyataan Emma Rivilla adalah perhatiannya terhadap anak-anak yang tetap menjalani proses belajar di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap.

Kasihan anak-anak yang sedang belajar harus menghirup asap,” menjadi inti keprihatinan yang disampaikan dalam pandangannya.

Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa dampak bencana tidak selalu terlihat secara langsung dalam bentuk kerusakan bangunan atau infrastruktur. Ada dampak lain yang juga harus diperhitungkan, yaitu ancaman terhadap generasi muda.

Anak-anak memiliki hak untuk belajar dalam lingkungan yang aman. Oleh karena itu, ketika kualitas udara berada dalam kondisi yang berpotensi membahayakan, semua pihak perlu menempatkan keselamatan dan kesehatan peserta didik sebagai prioritas.

Pemerintah daerah, pemerintah pusat, satuan pendidikan, tenaga kesehatan, dan masyarakat harus mampu membangun koordinasi yang cepat. Informasi mengenai kondisi udara harus disampaikan secara terbuka. Langkah perlindungan harus dilakukan berdasarkan situasi di lapangan.

Dengan demikian, keprihatinan Emma Rivilla tidak hanya berbicara tentang kabut asap. Ia juga mengangkat pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa cepat negara bergerak ketika anak-anak berada di tengah kondisi lingkungan yang mengancam kesehatan?

Saran untuk Presiden Prabowo Subianto

Dalam pernyataannya, Emma Rivilla secara khusus menyampaikan permohonan perhatian kepada Presiden Prabowo Subianto.

Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar kepada masyarakat Kalimantan Selatan yang merasakan dampak kabut asap. Namun, lebih jauh dari sekadar permohonan, Emma juga menyampaikan sebuah gagasan mengenai pentingnya meninjau kembali prioritas penggunaan anggaran.

Gagasannya sederhana, tetapi memiliki pesan yang kuat.

Ketika suatu daerah sedang menghadapi kondisi darurat akibat kabut asap, penggunaan uang negara untuk kegiatan yang tidak bersifat mendesak, seperti sebagian perjalanan dinas atau kegiatan seremonial, menurut pandangan Emma Rivilla layak dievaluasi.

Dana yang dapat dihemat, menurut gagasan tersebut, seharusnya dapat dipertimbangkan untuk memperkuat kebutuhan penanganan di daerah terdampak.

Tentu, perubahan dan pengalihan anggaran harus mengikuti aturan, mekanisme, serta ketentuan hukum yang berlaku. Namun, substansi dari pernyataan Emma Rivilla tidak dapat diabaikan: ketika rakyat sedang menghadapi ancaman nyata, prioritas anggaran harus mencerminkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap keadaan rakyat.

Perjalanan Dinas dan Seremonial Perlu Memperhatikan Situasi Daerah

Kritik terhadap penggunaan anggaran perjalanan dinas bukan berarti seluruh perjalanan dinas tidak diperlukan. Dalam banyak kondisi, perjalanan dinas dapat menjadi bagian dari pelaksanaan tugas pemerintahan.

Namun, Emma Rivilla menyoroti persoalan prioritas.

Ketika sebuah daerah berada dalam situasi yang berat akibat kabut asap, pertanyaan yang muncul adalah apakah seluruh kegiatan yang menggunakan anggaran negara tetap harus berjalan seperti biasa.

Pertanyaan tersebut sangat relevan dalam perspektif kepentingan publik.

Pejabat dan penyelenggara pemerintahan harus mampu membaca situasi. Tidak semua kegiatan memiliki tingkat urgensi yang sama. Ada kegiatan yang dapat ditunda. Ada agenda yang dapat dilakukan dengan metode lain. Ada pula kegiatan seremonial yang mungkin tidak mendesak ketika masyarakat sedang membutuhkan bantuan.

Dalam kondisi seperti ini, pemerintah perlu menunjukkan empati yang tidak berhenti pada pernyataan.

Empati harus terlihat dalam keputusan.

Jika masyarakat kekurangan masker, maka kebutuhan masker harus menjadi perhatian. Jika petugas pemadam menghadapi keterbatasan alat, maka pengadaan perlengkapan keselamatan harus dipercepat sesuai prosedur. Jika relawan membutuhkan dukungan logistik, maka koordinasi bantuan harus diperkuat.

Inilah pesan utama yang tersirat dalam keprihatinan Emma Rivilla.

Petugas dan Relawan Berada di Garis Depan

Emma Rivilla juga menyoroti kondisi para petugas dan relawan yang bekerja menghadapi kebakaran dan asap.

Menurut pernyataannya, masih terdapat kebutuhan terhadap perlengkapan pendukung, air, peralatan, serta perlindungan keselamatan bagi petugas pemadam kebakaran.

Persoalan ini sangat penting.

Petugas pemadam kebakaran dan relawan bekerja di garis depan. Mereka menghadapi risiko secara langsung. Mereka tidak hanya menghadapi api, tetapi juga asap, cuaca, kelelahan, dan kondisi medan yang tidak selalu mudah.

Karena itu, perlindungan terhadap mereka tidak boleh menjadi urusan nomor dua.

Pemerintah harus memastikan bahwa setiap personel yang menjalankan tugas penanganan bencana memperoleh perlengkapan keselamatan yang memadai. Koordinasi antarinstansi juga harus berjalan cepat agar kebutuhan lapangan tidak terlambat dipenuhi.

Bantuan yang datang setelah kondisi memburuk sering kali kehilangan sebagian nilai strategisnya.

Sebaliknya, kesiapsiagaan yang baik dapat mencegah dampak menjadi lebih luas.

Oleh sebab itu, gagasan Emma Rivilla mengenai penguatan dukungan bagi relawan dan petugas pemadam harus dilihat sebagai dorongan agar negara lebih responsif terhadap kebutuhan nyata di lapangan.

Anggaran Negara Harus Mengikuti Prioritas Kemanusiaan

Pada dasarnya, anggaran negara merupakan instrumen untuk memenuhi kepentingan masyarakat.

Karena itu, dalam kondisi tertentu, pemerintah perlu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan prioritas berdasarkan tingkat kedaruratan.

Bencana dan ancaman lingkungan menuntut pemerintah bekerja dengan prinsip cepat, tepat, terukur, dan akuntabel.

Setiap rupiah yang digunakan tetap harus dipertanggungjawabkan. Namun, prosedur administrasi tidak boleh membuat penanganan kebutuhan mendesak menjadi lambat.

Di sinilah diperlukan inovasi kebijakan.

Pemerintah dapat memperkuat sistem penyesuaian anggaran dalam situasi darurat sesuai ketentuan yang berlaku. Kegiatan yang tidak mendesak dapat dievaluasi. Sementara itu, kebutuhan perlindungan masyarakat dapat ditempatkan pada posisi prioritas.

Pernyataan Emma Rivilla sesungguhnya mengajak publik untuk memikirkan kembali satu prinsip sederhana: jangan sampai kegiatan pemerintahan berjalan normal secara administratif ketika masyarakat sedang menghadapi keadaan yang tidak normal.

Pemerintahan harus mampu merasakan denyut persoalan masyarakat.

Dari Kritik Menjadi Solusi

Keprihatinan yang disampaikan Emma Rivilla tidak seharusnya berhenti sebagai kritik.

Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dapat menjadikannya sebagai bahan evaluasi.

Pertama, kebutuhan masker dan perlindungan kesehatan bagi masyarakat terdampak harus menjadi perhatian.

Kedua, perlindungan terhadap anak-anak dan kegiatan pendidikan perlu diperkuat dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan serta keselamatan.

Ketiga, kebutuhan peralatan dan keselamatan bagi petugas serta relawan harus dipetakan secara terbuka dan cepat.

Keempat, pemerintah perlu mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang menggunakan anggaran publik, terutama ketika daerah sedang menghadapi situasi yang membutuhkan konsentrasi sumber daya.

Kelima, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat terkait, relawan, sekolah, dan masyarakat harus berjalan secara terpadu.

Selain itu, transparansi juga sangat penting.

Masyarakat berhak mengetahui bagaimana penanganan dilakukan, apa kebutuhan utama di lapangan, dan bagaimana dukungan pemerintah disalurkan.

Dengan keterbukaan, masyarakat dapat ikut berpartisipasi sekaligus mengawasi.

Kalimantan Membutuhkan Perhatian Bersama

Emma Rivilla menutup keprihatinannya dengan harapan agar kabut asap segera teratasi dan masyarakat Kalimantan dapat kembali hidup dengan kondisi udara yang sehat.

Harapan tersebut merupakan harapan yang sederhana, tetapi sangat mendasar.

Udara bersih bukan kemewahan. Udara bersih merupakan kebutuhan dasar.

Masyarakat tidak seharusnya terus-menerus dipaksa hidup dalam kekhawatiran terhadap asap yang masuk ke lingkungan tempat tinggal. Anak-anak tidak seharusnya belajar dalam kondisi yang mengancam kesehatan. Petugas tidak seharusnya menghadapi risiko tanpa perlengkapan yang memadai.

Karena itu, perhatian terhadap musibah kabut asap harus melampaui kepentingan administratif dan politik.

Persoalan ini adalah persoalan kemanusiaan.

Pernyataan Emma Rivilla kepada Presiden Prabowo Subianto menjadi pengingat bahwa suara dari lapangan harus didengar.

Ketika masyarakat menyampaikan bahwa mereka membutuhkan perhatian, pemerintah harus hadir. Ketika petugas membutuhkan perlengkapan, dukungan harus disiapkan. Ketika anak-anak terancam oleh kondisi lingkungan, keselamatan mereka harus menjadi prioritas.

Negara Harus Hadir Ketika Rakyat Menghirup Asap

Keprihatinan Emma Rivilla terhadap musibah kabut asap di Kalimantan Selatan membawa pesan yang jelas dan lugas.

Pemerintah harus mampu menentukan prioritas.

Dalam situasi ketika masyarakat telah merasakan dampak kabut asap dalam waktu yang panjang, perhatian negara harus lebih kuat diarahkan kepada keselamatan, kesehatan, perlindungan anak-anak, dukungan kepada petugas, dan penanganan titik-titik kebakaran.

Saran Emma Rivilla agar penggunaan anggaran untuk perjalanan dinas dan kegiatan seremonial dievaluasi pada daerah terdampak merupakan kritik konstruktif yang patut dipertimbangkan dalam kerangka hukum dan tata kelola anggaran yang berlaku.

Pesan tersebut bukan semata-mata tentang menghentikan kegiatan pemerintahan.

Pesan itu berbicara tentang keberpihakan terhadap prioritas kemanusiaan.

Saat rakyat menghadapi asap, negara harus hadir dengan tindakan.

Saat petugas menghadapi api, negara harus memastikan perlindungan.

Saat anak-anak belajar dalam kondisi yang mengkhawatirkan, negara harus menjamin keselamatan mereka.

Dan ketika masyarakat Kalimantan meminta perhatian, suara mereka tidak boleh tenggelam oleh agenda-agenda yang jauh dari kebutuhan nyata di lapangan.

Kabut asap harus segera diatasi. Kesehatan masyarakat harus dilindungi. Petugas dan relawan harus diperkuat.

Sebagaimana keprihatinan yang disampaikan Emma Rivilla, sudah saatnya seluruh pihak melihat musibah ini dengan keseriusan penuh.

Kalimantan tidak hanya membutuhkan simpati. Kalimantan membutuhkan perhatian, perlindungan, tindakan nyata, dan keberpihakan terhadap keselamatan masyarakat.***(SB)

SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
Editor : Sangga Buana
Sumber : Pernyataan Emma Rivilla di SMP 1 Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *