
WASHINGTON DC, Supersemar News – Badan intelijen Amerika Serikat (AS) menyelidiki kemungkinan keterlibatan Rusia di balik serangan drone Iran terhadap sejumlah fasilitas CIA di kawasan Teluk.
Dugaan itu mencuat setelah para analis menilai serangan tersebut berlangsung efektif dan presisi tinggi.
Hal tersebut dianggap tidak lazim jika hanya mengandalkan kemampuan Iran sendiri, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (22/7/2026).
Informasi ini diungkapkan empat sumber yang memahami isu intelijen AS kepada Reuters.
Mereka enggan disebutkan namanya karena membicarakan hal yang menyangkut keamanan nasional.
Kecurigaan terhadap keterlibatan Rusia semakin menguat menyusul serangan akhir pekan lalu terhadap sebuah pangkalan udara AS di Yordania.
Dalam serangan itu, Iran menembakkan rudal balistik ke barak militer dan menewaskan dua tentara AS.
2 fasilitas CIA jadi sasaran
Menurut sumber-sumber tersebut, setidaknya ada dua fasilitas CIA yang diserang pada Maret lalu.
Satu di antaranya adalah kantor CIA di Arab Saudi yang berlokasi di dalam kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh, sementara fasilitas lainnya berada di wilayah timur Irak.
Beberapa sumber bahkan menyebut ada fasilitas CIA lain yang turut menjadi sasaran, meski rinciannya tidak diungkap.
Dua pejabat Barat di kawasan Teluk yang menerima pengarahan intelijen mengatakan, serangan di Riyadh diduga melibatkan dua unit drone Shahed buatan Iran yang telah ditingkatkan kemampuannya dengan bantuan Rusia.
Satu drone disebut melubangi bagian rentan dinding luar gedung kedutaan, kemudian drone kedua terbang menembus lubang tersebut sebelum meledak.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam insiden itu.
Fasilitas CIA di luar negeri sendiri mencakup kantor utama yang lazim disebut “stasiun”.
Fasilitas tersebut biasanya berada di dalam kompleks kedutaan, di samping sejumlah kantor tambahan, rumah aman, pusat logistik, hingga lokasi yang digunakan untuk kegiatan pengawasan maupun operasi lain.
Lokasi-lokasi tersebut termasuk informasi yang dijaga ketat kerahasiaannya, sehingga sumber-sumber Reuters menolak membeberkan jumlah pasti maupun lokasi fasilitas yang diserang.
Salah satu sumber hanya menyebut jumlahnya lebih dari satu tapi kurang dari 12, sementara sumber lain menyebut ada beberapa fasilitas yang terkena dampak.
Peran Rusia
Sebuah memo internal milik lembaga intelijen negara Barat, yang isinya diketahui oleh seorang pejabat di kawasan tersebut, menyimpulkan bahwa Rusia kemungkinan besar berperan dalam membantu penargetan fasilitas-fasilitas CIA di kawasan itu.
Pejabat yang membocorkan isi memo tersebut meminta agar lembaga penerbitnya tidak diungkap secara spesifik.
Sumber lain menambahkan, Rusia diketahui telah membantu Iran meningkatkan akurasi drone Shahed-136 dengan memasok sistem navigasi satelit bernama Kometa-M.
Sistem ini disebut jauh lebih akurat dan lebih sulit diganggu sinyalnya dibandingkan sistem navigasi buatan Iran sendiri.
The Wall Street Journal sebelumnya sempat melaporkan pada Maret lalu bahwa Rusia telah memasok Kometa-M kepada Iran, meski Kremlin membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai berita bohong.
Gedung Putih mengarahkan permintaan komentar ke CIA, namun badan intelijen tersebut memilih tidak memberikan pernyataan apa pun.
Misi Iran untuk PBB, Kementerian Pertahanan Rusia, serta pemerintah Arab Saudi juga tidak merespons permintaan komentar dari Reuters.
Daniel Hoffman, mantan kepala stasiun CIA sekaligus mantan petugas operasi rahasia, menilai wajar jika Moskwa turut membantu Teheran menargetkan fasilitas CIA.
Hal tersebut mengingat kemitraan strategis erat yang selama ini terjalin di antara keduanya.
“Mereka punya kepentingan yang sama untuk mengurangi, bahkan menghilangkan sama sekali pengaruh AS di wilayah yang mereka anggap sebagai wilayah pengaruh mereka,” kata Hoffman.
Sumber : Kompas.com
