Keteladanan Pemimpin: Guru Kencing Berdiri, Murid Berlari


Nasruddin Tueka Lemhannas 52 saat menghadiri kegiatan nasional, menyampaikan pandangan tentang keteladanan pemimpin, integritas, dan pentingnya membangun karakter bangsa menuju Indonesia Maju. Foto dokumen pribadi/ Supersemar News.
Oleh: Nasruddin Tueka, Lemhannas RI Angkatan 52

Fokus Studi Ekonomi dan Isu-Isu Strategis

SUPERSEMAR NEWS | OPINI

Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi, kemajuan teknologi, atau kekayaan sumber daya alam. Lebih dari itu, bangsa yang kuat lahir dari keteladanan para pemimpinnya. Dalam perjalanan sejarah peradaban dunia, kualitas kepemimpinan selalu menjadi faktor utama yang menentukan arah, karakter, dan masa depan sebuah negara.

Pepatah lama yang berbunyi “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” bukan sekadar ungkapan sederhana. Kalimat tersebut mengandung makna yang sangat mendalam mengenai pentingnya keteladanan. Apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin akan ditiru, bahkan sering kali dilebihkan oleh para pengikutnya. Oleh karena itu, ketika seorang pemimpin menunjukkan perilaku yang baik, maka masyarakat akan terdorong mengikuti kebaikan tersebut. Sebaliknya, ketika seorang pemimpin memperlihatkan sikap yang buruk, dampaknya dapat meluas dan merusak tatanan sosial secara sistematis.

Keteladanan Adalah Fondasi Kepemimpinan

Pada hakikatnya, kepemimpinan bukan hanya tentang kekuasaan. Kepemimpinan adalah amanah yang melekat dengan tanggung jawab moral. Publik tidak hanya menilai kebijakan yang dihasilkan seorang pemimpin, tetapi juga memperhatikan setiap ucapan, sikap, keputusan, hingga gaya hidup yang ditampilkan dalam ruang publik.

Dalam konteks demokrasi modern, masyarakat memiliki akses luas terhadap informasi. Media massa, media sosial, serta perkembangan teknologi digital membuat seluruh aktivitas pemimpin menjadi konsumsi publik. Tidak ada lagi ruang yang benar-benar tertutup bagi seorang pejabat publik. Oleh sebab itu, integritas dan konsistensi menjadi syarat mutlak bagi setiap pemimpin yang ingin memperoleh kepercayaan rakyat.

Keteladanan yang kuat akan melahirkan kepercayaan. Sebaliknya, inkonsistensi antara ucapan dan tindakan akan memunculkan skeptisisme publik. Ketika rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya, maka legitimasi moral kepemimpinan akan mengalami kemerosotan yang sangat berbahaya bagi stabilitas bangsa.

Krisis Keteladanan dan Dampaknya

Saat ini, salah satu tantangan terbesar bangsa Indonesia bukan hanya persoalan ekonomi atau politik, melainkan krisis keteladanan. Fenomena tersebut terlihat dari semakin menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap figur-figur publik yang seharusnya menjadi panutan.

Ironisnya, dalam beberapa kasus, pelaku korupsi masih dapat memperoleh penghormatan sosial karena memiliki kekuatan ekonomi yang besar. Fenomena ini menunjukkan adanya distorsi nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ukuran kehormatan tidak lagi didasarkan pada integritas dan pengabdian, melainkan pada kemampuan finansial semata.

Akibatnya, generasi muda menghadapi kebingungan dalam menentukan figur teladan. Mereka menyaksikan adanya kontradiksi antara nilai-nilai moral yang diajarkan dengan realitas yang dipertontonkan oleh sebagian elite. Kondisi tersebut berpotensi melahirkan sikap pragmatis yang menganggap bahwa keberhasilan dapat dicapai dengan menghalalkan berbagai cara.

Lebih jauh lagi, krisis keteladanan dapat merusak karakter bangsa secara perlahan. Ketika perilaku menyimpang dianggap sebagai sesuatu yang lumrah, maka standar moral masyarakat akan terus mengalami penurunan.

Divide et Impera Modern dalam Politik

Sejarah mencatat bahwa pemerintah kolonial Belanda pernah menerapkan strategi “Divide et Impera” atau politik adu domba untuk melemahkan persatuan bangsa Indonesia. Strategi tersebut terbukti efektif karena mampu memecah kekuatan rakyat melalui konflik horizontal.

Sayangnya, dalam perkembangan politik modern, pola serupa terkadang muncul dalam bentuk yang berbeda. Polarisasi politik, penyebaran informasi yang menyesatkan, propaganda digital, hingga eksploitasi sentimen identitas menjadi instrumen yang dapat memecah belah masyarakat.

Ketika elite politik lebih mengutamakan kepentingan kelompok dibandingkan kepentingan nasional, maka benih-benih perpecahan akan semakin mudah tumbuh. Akibatnya, energi bangsa habis untuk konflik internal yang tidak produktif.

Padahal, Indonesia membutuhkan persatuan untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Persaingan ekonomi internasional, transformasi digital, ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga geopolitik kawasan memerlukan konsolidasi nasional yang kuat.

Karena itu, para pemimpin harus menjadi perekat persatuan, bukan justru menjadi sumber perpecahan. Kepemimpinan yang mencerahkan harus mampu menghadirkan narasi kebangsaan yang menyejukkan dan membangun optimisme kolektif.

Pemimpin Sebagai Soko Guru Bangsa

Dalam budaya Indonesia dikenal istilah soko guru, yaitu tiang utama yang menopang bangunan. Dalam kehidupan bernegara, pemimpin merupakan soko guru yang menentukan arah perjalanan bangsa.

Oleh sebab itu, setiap pemimpin wajib menjaga perilaku, ucapan, dan tindakannya. Keteladanan tidak dapat dibangun melalui pencitraan semata. Keteladanan lahir dari konsistensi antara nilai yang diucapkan dan tindakan yang dilakukan.

Rakyat dapat menerima kekurangan seorang pemimpin. Namun rakyat sulit menerima kemunafikan. Kejujuran, keberanian mengambil keputusan, kesederhanaan, serta keberpihakan kepada kepentingan rakyat merupakan karakter yang selalu dirindukan masyarakat.

Pemimpin yang baik tidak hanya meninggalkan proyek fisik. Pemimpin yang baik meninggalkan warisan nilai. Infrastruktur dapat rusak dimakan waktu, tetapi keteladanan akan terus hidup dalam ingatan generasi berikutnya.

Momentum Berbenah Demi Indonesia Maju

Indonesia saat ini sedang berada pada fase penting pembangunan nasional. Bonus demografi, transformasi ekonomi, serta perkembangan teknologi memberikan peluang besar untuk menjadi negara maju.

Namun peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila bangsa ini memiliki fondasi moral yang kuat. Di sinilah pentingnya keteladanan para pemimpin di seluruh tingkatan, mulai dari pusat hingga daerah.

Pemimpin harus menjadi contoh dalam kejujuran, disiplin, tanggung jawab, serta komitmen terhadap kepentingan rakyat. Ketika para pemimpin menunjukkan integritas yang tinggi, maka masyarakat akan terdorong untuk melakukan hal yang sama.

Sebaliknya, apabila keteladanan diabaikan, maka berbagai program pembangunan berisiko kehilangan makna karena tidak didukung oleh karakter bangsa yang kuat.

Penegasan

Pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” harus menjadi refleksi bersama bagi seluruh pemimpin bangsa. Setiap tindakan pemimpin akan ditiru oleh masyarakat. Oleh karena itu, keteladanan bukan pilihan, melainkan kewajiban moral yang melekat pada setiap jabatan publik.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan berkarakter kuat. Pemimpin yang mampu menjadi panutan, menjaga persatuan, mengedepankan keadilan, serta menghadirkan harapan bagi rakyat.

Keteladanan adalah investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Ketika para pemimpin mampu menjadi soko guru yang kokoh, maka Indonesia akan memiliki fondasi yang kuat untuk mewujudkan cita-cita menuju Indonesia Maju, berdaulat, adil, dan bermartabat di mata dunia.***(SB)

SupersemarNewsTeam

Reporter: R. Rifay Marzuki

Sumber: Nasruddin Tueka, Alumni Lemhannas RI Angkatan 52.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *