
SAMPIT, Supersemar News – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, memfokuskan langkah antisipasi saat musim kemarau untuk mengamankan masa tanam berikutnya, khususnya di wilayah selatan yang rawan kekeringan.
”Kami kemarin sudah ada pengajuan ke pusat untuk pengadaan irigasi pipa dan irigasi pompa. Pengajuannya itu sudah sejak Januari lalu dan saat ini masih dalam proses di pusat. Untuk irigasi pompa ada enam unit dan irigasi pipa empat unit,” kata Kepala DPKP Kotim Yephi Hartady Periyanto di Sampit, Kalteng, Selasa.
Dia menjelaskan pengajuan bantuan irigasi pompa dan irigasi pipa kepada pemerintah pusat guna mendukung kebutuhan air pertanian saat musim kemarau.
Bantuan tersebut direncanakan dipasang di wilayah selatan Kotim, terutama di Kecamatan Teluk Sampit dan Pulau Hanaut yang selama ini memiliki kondisi lahan lebih kering dibanding wilayah lainnya.
Menurutnya, keberadaan pompa dan jaringan pipa penting bukan hanya sebagai langkah penanggulangan jangka pendek saat kemarau, tetapi juga sebagai sarana penunjang pertanian berkelanjutan.
Ia berharap bantuan yang nantinya diterima dapat dikelola langsung oleh kelompok tani agar pemanfaatannya lebih optimal dan tidak terbengkalai setelah musim kemarau berakhir.
”Harapan kami bantuan itu bisa dalam bentuk hibah supaya dikelola kelompok tani dan dipakai terus untuk mendukung pertanian, bukan hanya saat penanggulangan kemarau saja,” ujarnya.
Ia melanjutkan meski musim kemarau mulai berlangsung, hingga kini DPKP Kotim belum menerima laporan adanya kekeringan yang berdampak langsung pada lahan pertanian di wilayah selatan.
”Kalau sampai saat ini keluhan terkait kekurangan air di daerah pertanian masih belum ada. Namun berdasarkan estimasi, akhir Juli sampai Agustus kemungkinan mulai ada dampak,” ungkapnya.
Yephi mengakui musim kemarau berpotensi mempengaruhi hasil produksi pertanian apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Oleh sebab itu, pihaknya mendorong percepatan panen pada Juli agar petani dapat bersiap memasuki masa tanam ketiga pada Agustus.
Irigasi pompa dan irigasi pipa yang diajukan tersebut diproyeksikan mendukung kelancaran masa tanam ketiga, bukan untuk menyelamatkan musim tanam kedua yang diperkirakan selesai panen pada Juli ini.
”Strategi kami memang mendorong panen selesai di Juli. Setelah itu kita siapkan sarana pendukung supaya Agustus tetap bisa tanam dan saat memasuki musim hujan di September atau Oktober produktivitas tetap terjaga,” jelasnya.
Ia menambahkan hasil kajian Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan Kotim tidak termasuk daerah dengan dampak kemarau paling parah, sehingga potensi gangguan terhadap produktivitas pertanian diyakini masih dapat diantisipasi.
Sumber : ANTARA News
