SAMPIT, Supersemar News – Sebanyak 1.316 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan total luasan mencapai 2.122 hektare tercatat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, sejak Januari hingga 6 Oktober 2026, dengan ancaman kebakaran masih cukup tinggi hingga memasuki awal Oktober.

Status tanggap darurat karhutla di kabupaten ini telah ditetapkan sejak 30 Juli 2026, kata Koordinator Lapangan Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim Rihel di Sampit, Rabu.

“Artinya, sekarang sudah memasuki bulan ketiga, atau dua bulan lebih sedikit dari penetapan status tersebut. Dan kondisi karhutla saat ini masih relatif sama,” tambah dia.

Adapun data tersebut berdasarkan kejadian karhutla yang dapat ditangani oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) maupun Satgas Penanggulangan Karhutla Kotim. Namun, untuk kondisi riil di lapangan kemungkinan ada perbedaan lantaran untuk lokasi yang tidak tertangani maupun yang dibantu oleh helikopter water bombing belum masuk dalam data tersebut.

Kejadian karhutla mengalami peningkatan signifikan sejak memasuki musim kemarau pada akhir Juli 2026. Kondisi ini sejalan dengan bertambahnya jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau. Untuk detailnya jumlah hotspot di Kotim yang terpantau pada Januari 121 titik, Februari 2 titik, Maret 39 titik, April 22 titik, Mei 9 titik, Juni 34 titik, Juli 290 titik, Agustus 14.529 titik, September 23.686, sedangkan untuk Oktober sejauh ini sudah 2.377 titik.

Rihel menyebut, kondisi di lapangan hingga saat ini belum menunjukkan penurunan signifikan karena kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah, ditambah kabut asap yang cukup tebal.

“Masih ada kebakaran sebagian di wilayah perkotaan, lalu di Kecamatan Seranau, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Utara dan Teluk Sampit. Sebagian lokasi kebakaran berada jauh dari akses jalan, sehingga menyulitkan petugas dalam melakukan pemadaman secara cepat,” ujarnya.

Di Kecamatan Seranau, misalnya, petugas harus berjalan kaki sekitar 4-7 kilometer untuk mencapai lokasi kebakaran. Kondisi itu membuat armada pemadam tidak dapat menjangkau titik api secara langsung, sementara sumber air di sekitar lokasi juga relatif sulit diperoleh.

Upaya pemadaman membutuhkan tenaga dan waktu lebih besar. Kesulitan semakin bertambah karena sebagian besar lahan yang terbakar merupakan gambut yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar agar api benar-benar padam dan tidak kembali menyala.

“Kami harus berjalan kaki cukup jauh, bahkan 4-7 kilometer. Sumber air juga sulit sehingga harus menggunakan embung portabel, sedangkan peralatan pemadaman harus dipikul sambil berjalan,” beber Rihel.

Dia pun menerangkan, berdasarkan pengalaman di lapangan, untuk pemadaman lahan gambut dibutuhkan sekitar 390 liter air untuk setiap satu meter kubik lahan yang terbakar. Sehingga, kekeringan yang terjadi saat ini turut mempengaruhi efektivitas penanggulangan karhutla di lapangan.

Di sisi lain, dukungan pemadaman melalui udara juga belum dapat dimaksimalkan. Helikopter water bombing masih disiagakan di Bandara Haji Asan Sampit, namun kondisi jarak pandang akibat kabut asap membuat pesawat belum dapat beroperasi secara optimal.

Menurutnya, helikopter membutuhkan jarak pandang sekitar 4.500-5.000 meter untuk dapat terbang dengan aman. Sementara kondisi di lapangan saat ini jarak pandang rata-rata berada di bawah 1.000 meter.

“Kalau visibility di bawah itu, mereka tidak mau terbang karena risikonya besar. Sungai atau sumber air juga sulit terlihat jika jarak pandang tidak mendukung,” terangnya.

Meskipun begitu, setiap pagi sekitar pukul 08.00 WIB dilakukan rapat untuk menentukan kemungkinan pengerahan helikopter ke lokasi tertentu. Helikopter akan diterbangkan apabila kondisi jarak pandang dinilai memenuhi persyaratan keselamatan.

Untuk kejadian harian, lanjutnya, jumlah titik kebakaran masih berkisar 18-20 titik per hari dan pada kondisi tertentu dapat mencapai 30 titik. Angka tersebut menunjukkan belum terjadi penurunan berarti dibandingkan kondisi sebelumnya.

Namun, tidak seluruh titik tersebut merupakan kebakaran baru. Sebagian merupakan titik lama yang kembali merembet atau meluas, sementara sebagian lainnya masih dalam proses pendinginan tetapi tetap terdeteksi sebagai titik panas.

“Sebagian memang lokasi lama yang kemudian merembet, ada yang sedang pendinginan tetapi masih terdeteksi, dan sebagian lainnya memang masih menyala,” ujarnya.

Dia menyebutkan sebagian besar luasan kebakaran harian relatif kecil, rata-rata kurang dari satu hektare. Kondisi ini berbeda dengan awal kejadian karhutla yang cukup luas, sehingga petugas harus melakukan pemadaman sejak pagi hingga sore di satu lokasi yang sama.

Namun, ada juga luasan kebakaran di sejumlah lokasi belum dapat dipastikan, seperti di Seranau yang diinformasikan memiliki area kebakaran cukup luas, tetapi kondisi medan dan kabut asap membuat petugas kesulitan melakukan pemetaan menggunakan drone.

“Ancaman karhutla yang cukup tinggi ini masih akan berlangsung hingga musim hujan datang secara,” kata Rihel.

Berdasarkan prakiraan BMKG, musim hujan mulai memasuki wilayah utara Kotim pada dasarian kedua Oktober atau sekitar 11 Oktober ke atas, tetapi intensitasnya diperkirakan masih rendah atau di bawah normal.

Sementara itu, wilayah bagian tengah diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada dasarian ketiga Oktober, sedangkan wilayah selatan diprakirakan baru memasuki musim hujan pada dasarian pertama November.

“Artinya bertahap musim hujan itu, sehingga walaupun wilayah utara sudah musim hujan, tetapi sebagian wilayah Kotim masih memiliki potensi karhutla yang tinggi, sebelum hujan benar-benar merata,” demikian Rihel.

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *