
Supersemar News – David Darmawan dirut termuda perusahaan masuk bursa (PLAS.IDX 2007) dalam sejarah BEI sampai saat ini. Masuk ke daftar Bloomberg sebelum Jokowi sebagai CEO dari PT. Redland Asia Capital Tbk.
Jam 13.43 siang tadi, layar-layar di Bursa Efek Indonesia mendadak berhenti bergerak. Seperti pasar Tanah Abang ditutup mendadak karena ribut besar, IHSG anjlok 8% dan regulator menarik rem darurat: trading halt. Panik? Wajar. Tapi panik bukan strategi.
Kalau hari ini Warren Buffett duduk di pojok lantai bursa, mengunyah permen karet sambil baca laporan keuangan, dan Gordon Gekko berdiri sambil teriak ke pasar, satu hal yang pasti: mereka berdua sepakat ini bukan soal angka semata—ini soal kepercayaan.
Dan kalau Bung Hatta ikut nimbrung, sambil ngopi pahit, beliau mungkin bilang pelan tapi nancep:
“Pasar yang sehat bukan yang paling cepat untung, tapi yang paling jujur dan paling adil bagi banyak orang.”
⸻
Ini Bukan Krisis Ekonomi, Ini Krisis Tata Kelola
Mari jujur, kayak orang Betawi ngomong apa adanya.
Ekonomi Indonesia nggak lagi sakit parah. Pertumbuhan masih di atas 5%, inflasi jinak di 2%. Perusahaan masih produksi, orang masih kerja, UMKM masih jualan.
Tapi pasar hari ini ambruk bukan karena perut kosong—karena kepala investor penuh tanda tanya.

MSCI menekan tombol kuning. Bukan karena benci Indonesia, tapi karena ragu:
• siapa pemilik sebenarnya saham-saham besar,
• seberapa nyata free float yang diperdagangkan,
• dan apakah pasar ini benar-benar fair atau cuma rame tapi diatur segelintir orang.
Ini ibarat lapak di pasar: barangnya bagus, tapi timbangan dicurigai miring. Orang langsung mundur.
⸻
BEI, Dulu BEJ: Pasar Orang Betawi, Semangat Gotong Royong
Jangan lupa sejarah.
Bursa ini dulu namanya BEJ, lahir di tanah Betawi. Filosofinya bukan kasino, tapi pasar rakyat versi modern: tempat orang usaha, bukan tempat orang ngibul.
Masalahnya, kita terlalu lama membiarkan pasar tumbuh seperti gedung tinggi tanpa fondasi transparansi yang kokoh. Akhirnya, begitu diuji global, goyang.
Di sinilah relevansi pemikiran Bung Hatta jadi hidup lagi:
ekonomi harus berbasis koperasi, gotong royong, dan kejujuran struktural.
⸻
Dari Kapitalisme Spekulatif ke Kewirausahaan Sosial (Socentix)
Inilah saatnya Indonesia naik kelas, bukan sekadar bertahan.
Solusinya bukan cuma tambal sulam aturan, tapi ubah arah filosofi pasar:
- Bursa Berbasis Kewirausahaan Sosial
Bursa harus jadi tempat:
• perusahaan untung dan berdampak,
• pemilik modal ketemu penggerak sosial,
• bukan cuma extract value, tapi create shared value.
Inilah roh Socentix:
social entrepreneurship + financial technology + trust system.
- Blockchain untuk Kejujuran, Bukan Gaya-gayaan
Bukan crypto buat spekulasi kosong, tapi:
• pelaporan kepemilikan saham berbasis blockchain,
• data ultimate beneficial owner yang immutable,
• bisa diaudit regulator dan dipercaya indeks global.
Kalau warung Betawi bisa pakai QRIS, masa bursa masih debat soal data kepemilikan?
- Koperasi Digital Masuk Bursa
Bayangkan:
• koperasi sektor pangan, energi, properti rakyat,
• go public lewat skema tokenized cooperative shares,
• rakyat bukan cuma penonton IHSG, tapi pemiliknya.
Ini bukan mimpi. Ini next frontier pasar modal global.
⸻
Wejangan ke Pasar: Jangan Takut, Tapi Jangan Bodoh
Gordon Gekko mungkin akan teriak:
“Panic is not intelligence!”
Buffett akan senyum dan nulis catatan:
“When trust is questioned, price will overreact.”
Dan Bung Hatta akan menutup dengan tenang:
“Pasar harus melayani bangsa, bukan sebaliknya.”
⸻
Penutup: Dari Krisis ke Jalan Pulang
Trading halt hari ini bukan aib.
Justru alarm bangun.
Kalau regulator berani jujur,
kalau pasar berani dibuka terang,
kalau teknologi dipakai buat keadilan, bukan manipulasi,
maka BEI bisa kembali ke khitahnya:
pasar orang banyak, berjiwa Betawi, berakal global.
Pasar boleh berhenti 30 menit.
Tapi akal sehat, etika, dan gotong royong—jangan sampai di-suspend.
