
SUPERSEMAR NEWS | OPINI & ANALISIS STRATEGIS
Oleh Nasruddin Tueka Alumni Lemhannas 52
JAKARTA – Memasuki era persaingan ekonomi global yang semakin kompetitif, Indonesia memerlukan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan lembaga riset. Dalam konteks tersebut, kelompok pengusaha nasional dan konglomerasi Indonesia memiliki posisi strategis sebagai mitra pembangunan yang mampu mempercepat transformasi industri nasional.
Tokoh-tokoh dunia usaha nasional, seperti Boy G Thohir dan James F. Riady, merupakan bagian dari ekosistem bisnis Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan investasi, industri, dan penguatan sektor usaha. Di samping itu, organisasi dunia usaha seperti Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga memiliki peran penting dalam menjembatani kepentingan pemerintah dan pelaku usaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dalam perspektif pembangunan nasional, saatnya pemerintah bersama dunia usaha menyusun agenda besar “Indonesia Maju 2026” melalui penguatan industri nasional yang modern, inovatif, dan berbasis teknologi tinggi. Gagasan ini bukan hanya mengenai peningkatan investasi, tetapi juga membangun ekosistem industri yang mampu menghasilkan nilai tambah tinggi, memperkuat rantai pasok domestik, serta meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Meningkatkan TKDN sebagai Pilar Industrialisasi
Salah satu indikator keberhasilan modernisasi industri adalah meningkatnya Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Semakin tinggi kandungan lokal suatu produk, semakin besar nilai tambah yang dinikmati oleh industri nasional, semakin luas lapangan kerja yang tercipta, dan semakin kuat pula ketahanan ekonomi Indonesia terhadap gejolak global.
Sebagai visi jangka panjang, Indonesia dapat menargetkan TKDN mencapai sekitar 80 persen pada sektor-sektor industri strategis yang memungkinkan, melalui penguatan industri komponen, pengembangan riset nasional, peningkatan kapasitas manufaktur, serta transfer teknologi. Pencapaian target tersebut memerlukan perencanaan bertahap sesuai kesiapan masing-masing sektor industri dan tetap memperhatikan komitmen perdagangan internasional.
Membangun Neraca Perdagangan yang Lebih Produktif
Selain memperkuat TKDN, Indonesia perlu terus meningkatkan kapasitas ekspor produk manufaktur bernilai tambah. Orientasi pembangunan industri harus diarahkan agar produk Indonesia semakin mampu bersaing di pasar internasional melalui kualitas, inovasi, dan efisiensi.
Sebagai aspirasi pembangunan, peningkatan kontribusi ekspor hingga sekitar 60 persen dibandingkan impor sekitar 40 persen dalam struktur perdagangan tertentu dapat menjadi arah kebijakan untuk memperkuat devisa negara dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Pencapaiannya memerlukan peningkatan produktivitas industri, diversifikasi pasar ekspor, serta penguatan daya saing nasional.

Saatnya Dunia Usaha Menjadi Penjuru Kebangkitan Industri Indonesia
Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu kekuatan industri dunia. Yang dibutuhkan saat ini adalah kepemimpinan kolektif yang mampu menyatukan visi pemerintah, BUMN, dunia usaha, akademisi, lembaga riset, dan masyarakat.
Dalam kerangka tersebut, para pelaku usaha nasional, termasuk tokoh-tokoh konglomerasi Indonesia seperti Boy Thohir dan James F. Riady, bersama organisasi dunia usaha seperti Kadin Indonesia, berpotensi menjadi bagian penting dari penguatan ekosistem investasi, industrialisasi, inovasi teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia. Dengan sinergi yang baik, Indonesia memiliki peluang untuk mempercepat transformasi menuju negara industri maju yang mandiri, berdaya saing global, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
Editor : Sangga Buana
Sumber : Nasruddin Tueka (Lemhannas RI Angkatan 52
