Diskusi kebangsaan di Pantai Sakawayana, Cikakak, Palabuhanratu, Sukabumi, Jumat (5/6/2026), membahas arah geopolitik Indonesia, implementasi Trisakti Bung Karno, serta strategi kedaulatan ekonomi dan pangan pada era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Forum refleksi yang digelar menjelang Hari Lahir Bung Karno ini menyoroti pentingnya persatuan nasional dalam menghadapi dinamika geopolitik global dan mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, serta berdaya saing.

Refleksi Hari Lahir Bung Karno dari Pantai Sakawayana

Oleh Redaksi Supersemar News

PELABUHANRATU — Debur ombak Pantai Sakawayana, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, pada Jumat malam (5/6/2026) menghadirkan suasana yang berbeda. Angin laut yang berembus perlahan seakan menjadi saksi lahirnya sebuah refleksi kebangsaan yang mendalam menjelang peringatan Hari Lahir Presiden Pertama Republik Indonesia, Bung Karno, pada 6 Juni.

Di sebuah bale-bale sederhana yang menghadap langsung ke bentangan Samudra Hindia, sejumlah tokoh masyarakat, aktivis, akademisi, dan insan media berkumpul dalam forum diskusi santai yang digagas melalui lingkaran pemikiran Majelis Pencerahan Sukabumi.

Pertemuan tersebut dihadiri Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih, Siti Ratna Maymunah dari Wartain.com dan SMSI Sukabumi Raya, HM Fikri dari Majelis Sholawat Cahaya Nusantara, Asep Sugianto dari HMI Cabang Sukabumi, M. Rafi Asyam dari Bisnisnews.net, Yosep Maulana selaku aktivis mahasiswa dan jurnalis, serta Aam Abdul Salam, Aktivis 98 yang juga menjabat Sekjen PPJNA 98 dan Presidium MD KAHMI Sukabumi.

Diskusi yang berlangsung hingga larut malam tersebut tidak sekadar membahas dinamika politik nasional. Lebih dari itu, forum tersebut mencoba membaca arah perjalanan Indonesia melalui perspektif sejarah, geopolitik global, dan warisan pemikiran para pendiri bangsa.

Menyambung Benang Merah Sejarah Bangsa

Indonesia bukanlah negara yang lahir secara kebetulan. Negara ini dibangun melalui gagasan besar yang diperjuangkan oleh para pendiri bangsa dengan pengorbanan yang luar biasa.

Dalam diskusi tersebut, muncul pandangan bahwa perjalanan Indonesia hari ini tidak dapat dilepaskan dari warisan pemikiran Bung Karno dan Bung Hatta sebagai dwitunggal proklamator.

Bung Karno memberikan fondasi ideologis dan keberanian politik yang kuat. Sementara Bung Hatta menghadirkan rasionalitas ekonomi dan tata kelola negara yang modern.

Namun sejarah juga mencatat peran besar Prof. Sumitro Djojohadikusumo, salah satu arsitek ekonomi Indonesia yang memiliki kontribusi penting dalam membangun fondasi ekonomi nasional pada masa awal kemerdekaan.

Menurut para peserta diskusi, keberhasilan Indonesia bertahan selama lebih dari delapan dekade tidak terlepas dari kombinasi tiga kekuatan utama, yakni keberanian politik, kemandirian ekonomi, dan identitas kebudayaan yang kokoh.

Ketiga unsur tersebut sejatinya merupakan substansi dari konsep Trisakti yang diperkenalkan Bung Karno.

Konsep tersebut menegaskan bahwa Indonesia harus:

  • Berdaulat dalam politik.
  • Berdikari dalam ekonomi.
  • Berkepribadian dalam kebudayaan.

Hingga hari ini, konsep tersebut masih relevan di tengah perubahan geopolitik dunia yang berlangsung sangat cepat.

Dunia Sedang Berubah Drastis

Tahun 2026 menjadi periode yang penuh ketidakpastian global.

Perang dagang antarnegara besar masih berlangsung. Persaingan teknologi semakin tajam. Krisis energi dan pangan masih menghantui berbagai kawasan dunia. Konflik geopolitik di sejumlah wilayah juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Dalam situasi tersebut, negara-negara berkembang menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan kedaulatannya.

Banyak negara terjebak dalam ketergantungan ekonomi, utang luar negeri, hingga dominasi kepentingan korporasi global.

Indonesia pun tidak luput dari tekanan tersebut.

Karena itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah Indonesia akan terus menjadi pasar bagi kepentingan global atau justru mampu menjadi pemain utama dalam percaturan internasional?

Diskusi di Pantai Sakawayana mencoba menjawab pertanyaan tersebut melalui pembacaan terhadap arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

Membaca Geopolitik Prabowo Subianto

Dalam perspektif geopolitik, kepemimpinan Presiden Prabowo dinilai sedang memasuki fase konsolidasi nasional yang bertujuan memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.

Langkah tersebut terlihat dari berbagai kebijakan strategis yang menempatkan kepentingan nasional sebagai prioritas utama.

Peserta diskusi menilai terdapat tiga agenda besar yang menjadi fokus utama pemerintahan saat ini.

1. Pengamanan Aset Strategis Nasional

Pemerintah dinilai mulai menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga aset-aset strategis negara agar tidak kehilangan fungsi utamanya sebagai instrumen kesejahteraan rakyat.

Aset negara tidak boleh hanya menjadi objek komersialisasi yang menguntungkan kelompok tertentu.

Sebaliknya, aset tersebut harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas sesuai amanat konstitusi.

2. Penguatan Kedaulatan Sumber Daya Alam

Indonesia merupakan salah satu negara terkaya di dunia dalam hal sumber daya alam.

Namun selama puluhan tahun, paradoks kemiskinan di tengah kekayaan sumber daya masih menjadi persoalan serius.

Karena itu, langkah pemerintah untuk meningkatkan kontrol negara terhadap pengelolaan sumber daya alam dipandang sebagai bagian dari upaya mengembalikan amanat Pasal 33 UUD 1945.

Tujuannya jelas, yakni memastikan bahwa kekayaan alam Indonesia benar-benar digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

3. Pemberantasan Mafia Ekonomi dan Oligarki Hitam

Salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan nasional adalah keberadaan kelompok-kelompok kepentingan yang selama ini memperoleh keuntungan dari kelemahan sistem.

Mafia pangan, mafia impor, mafia energi, dan berbagai bentuk praktik rente ekonomi telah lama menjadi hambatan bagi pertumbuhan nasional.

Dalam pandangan para peserta diskusi, keberanian pemerintah untuk menghadapi persoalan tersebut menjadi indikator penting keseriusan negara dalam menjalankan agenda reformasi ekonomi.

Kemandirian Pangan sebagai Pilar Kedaulatan

Salah satu isu yang mendapat perhatian besar dalam diskusi adalah soal ketahanan pangan.

Dunia saat ini menghadapi ancaman krisis pangan global yang dipicu oleh perubahan iklim, konflik geopolitik, dan gangguan rantai pasok internasional.

Dalam kondisi tersebut, ketergantungan terhadap impor menjadi risiko yang sangat besar.

Karena itu, program swasembada pangan yang sedang didorong pemerintah dinilai memiliki nilai strategis yang sangat penting.

Kemandirian pangan bukan hanya persoalan ekonomi.

Lebih dari itu, kemandirian pangan merupakan bagian dari pertahanan negara.

Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri akan memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat dibandingkan negara yang bergantung pada pasokan luar negeri.

Di sinilah konsep Trisakti menemukan relevansinya kembali.

Berdikari dalam ekonomi tidak mungkin terwujud tanpa kedaulatan pangan yang kuat.

Manunggaling Rakyat dan Pemimpin

Diskusi di Pantai Sakawayana juga menyoroti pentingnya hubungan harmonis antara rakyat dan pemimpin.

Dalam khazanah budaya Nusantara dikenal konsep Manunggaling Kawula Gusti, yaitu kesatuan visi antara pemimpin dan rakyat.

Dalam konteks negara modern, konsep tersebut dapat dimaknai sebagai sinkronisasi tujuan pembangunan nasional.

Tantangan global yang semakin kompleks tidak dapat dihadapi hanya oleh pemerintah.

Diperlukan partisipasi aktif seluruh elemen bangsa.

Persatuan nasional menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas dan mempercepat pembangunan.

Karena itu, momentum Hari Lahir Bung Karno dinilai penting untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong sebagai kekuatan utama bangsa Indonesia.

Indonesia Menuju Kekuatan Global Baru

Jika agenda kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi, hilirisasi industri, dan penguatan sumber daya manusia berhasil diwujudkan secara konsisten, Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu kekuatan utama dunia pada dekade mendatang.

Potensi tersebut didukung oleh berbagai faktor strategis.

Indonesia memiliki populasi besar, sumber daya alam melimpah, posisi geografis yang strategis, serta bonus demografi yang dapat menjadi modal pembangunan.

Namun seluruh potensi itu hanya akan menjadi angka statistik jika tidak dikelola dengan visi kebangsaan yang kuat.

Karena itu, arah pembangunan nasional harus tetap berpijak pada cita-cita para pendiri bangsa.

Indonesia tidak boleh kehilangan jati dirinya di tengah arus globalisasi.

Sebaliknya, Indonesia harus tampil sebagai bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian sebagaimana yang dicita-citakan Bung Karno melalui Trisakti.

Sakawayana dan Pesan untuk Masa Depan Indonesia

Malam panjang di Pantai Sakawayana akhirnya berakhir ketika fajar mulai menyingsing di ufuk timur.

Namun refleksi yang lahir dari pertemuan tersebut menyisakan pesan yang mendalam.

Indonesia saat ini sedang berada di persimpangan sejarah.

Pilihan yang diambil hari ini akan menentukan posisi bangsa ini dalam beberapa dekade mendatang.

Di tengah ketidakpastian global, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang berani, rakyat yang bersatu, dan arah pembangunan yang jelas.

Warisan pemikiran Bung Karno, Bung Hatta, dan Sumitro Djojohadikusumo memberikan pelajaran bahwa bangsa besar hanya dapat berdiri tegak apabila memiliki kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepercayaan diri terhadap identitas budayanya sendiri.

Dari bale-bale sederhana di Pantai Sakawayana, Sukabumi, refleksi itu kembali mengingatkan bahwa perjuangan menjaga Indonesia bukanlah tugas satu generasi semata. Ia adalah amanah sejarah yang harus terus dilanjutkan demi mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, berdaulat, dan disegani dunia.***(SB)

Redakasi Supersemar News. Sangga Buana