
SUPERSEMAR NEWS – JAKARTA – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya dirayakan melalui upacara, pengibaran bendera, dan berbagai kegiatan kebangsaan. Tahun ini, semangat kemerdekaan juga mendapatkan ruang melalui sastra.
Sebanyak 81 penyair Indonesia akan menyuarakan pandangan, kegelisahan, refleksi, dan kecintaan terhadap Indonesia melalui buku antologi puisi “Merdeka Katamu”.
Peluncuran buku tersebut akan menjadi bagian dari sebuah acara sastra berskala nasional yang digagas dan dilaksanakan Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI). Kegiatan dijadwalkan berlangsung di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu, 6 September 2026.
Acara dimulai pukul 13.30 WIB hingga 17.30 WIB.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon direncanakan hadir sebagai pembicara utama. Selain diskusi sastra, kegiatan tersebut juga akan menghadirkan parade baca puisi yang melibatkan sejumlah nama penting dalam dunia kesusastraan dan seni Indonesia.
Dengan demikian, “Merdeka Katamu” tidak sekadar menjadi judul sebuah antologi. Buku itu sekaligus menjadi medium bagi para penyair untuk menerjemahkan makna kemerdekaan dari perspektif masing-masing.
Sastra Menjadi Ruang Refleksi Kemerdekaan
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi momentum yang dipilih TISI untuk menghadirkan perayaan kebangsaan melalui bahasa, puisi, dan gagasan.
Bagi dunia sastra, kemerdekaan tidak berhenti pada peristiwa sejarah 17 Agustus 1945. Kemerdekaan juga dapat dibaca sebagai persoalan kehidupan masyarakat, kebudayaan, kebebasan berpikir, identitas bangsa, hingga tanggung jawab generasi terhadap masa depan Indonesia.
Karena itu, keterlibatan 81 penyair dalam antologi “Merdeka Katamu” memberikan warna tersendiri terhadap perayaan kemerdekaan tahun ini.
Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia Octavianus Masekha mengatakan pihaknya mengundang para seniman dan budayawan di Jakarta untuk hadir dalam peluncuran buku tersebut.
“Kami mengundang para seniman dan budayawan di Jakarta untuk menghadiri peluncuran buku antologi puisi 81 penyair bicara tentang Indonesia ‘Merdeka Katamu’ yang nanti juga akan diikuti diskusi berhadiah buku dan uang tunai,” ujar Octavianus Masekha kepada wartawan di Jakarta, Jumat pagi, 28 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa TISI tidak menempatkan acara ini semata sebagai agenda peluncuran buku.
Sebaliknya, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang perjumpaan antara penyair, seniman, budayawan, akademisi, pemerintah, komunitas sastra, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perkembangan kebudayaan Indonesia.
Fadli Zon Dijadwalkan Menjadi Pembicara Utama
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dijadwalkan menjadi pembicara utama dalam diskusi yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.
Kehadiran Menteri Kebudayaan memberikan dimensi penting terhadap agenda tersebut karena pembicaraan mengenai sastra tidak dapat dipisahkan dari kebijakan kebudayaan nasional.
Dalam sejumlah agenda kebudayaan pada 2026, Fadli Zon juga menyampaikan perhatian pemerintah terhadap pengembangan sastra, seni pertunjukan, seni rupa, serta kebudayaan Indonesia secara lebih luas. Pemerintah bahkan menyatakan terus mendorong pengembangan berbagai sektor kebudayaan sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan nasional.
Karena itu, forum “Merdeka Katamu” berpotensi menjadi ruang dialog antara pelaku sastra dan pemerintah mengenai posisi sastra dalam kehidupan kebangsaan.
Terlebih lagi, tema kemerdekaan mempunyai cakupan yang luas. Puisi dapat menjadi alat untuk membaca realitas sosial, mengkritisi keadaan, sekaligus menjaga ingatan kolektif bangsa.
Octavianus Masekha: Seniman Turut Mendukung Taufiq Ismail
Selain membicarakan peluncuran antologi, Octavianus Masekha juga menyampaikan sikap komunitas seniman dan budayawan yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Menurut Octavianus, acara sastra berskala nasional itu sekaligus menjadi momentum untuk menyampaikan dukungan terhadap Taufiq Ismail sebagai calon penerima Nobel Sastra dari Indonesia.
“Acara sastra berskala nasional ini sekaligus juga memberitahukan bahwa kami para seniman dan budayawan turut mendukung Taufiq Ismail sebagai calon penerima Nobel Sastra dari Indonesia,” kata Octavianus.
Pernyataan tersebut memberikan warna lain terhadap acara “Merdeka Katamu”.
Pasalnya, nama Taufiq Ismail tidak hanya tercantum sebagai salah satu penyair yang hadir dalam rangkaian kegiatan. Ia juga dijadwalkan tampil dalam parade baca puisi.
Dengan demikian, panggung sastra pada 6 September nanti akan mempertemukan generasi, pengalaman, dan tradisi kepenyairan Indonesia dalam satu ruang.
Parade Puisi Hadirkan Sejumlah Tokoh Sastra
Setelah diskusi, acara akan dilanjutkan dengan parade baca puisi.
Sejumlah nama besar dijadwalkan tampil, antara lain Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Jose Rizal Manua, serta penyair dan seniman lainnya.
Selain itu, parade baca puisi juga akan menghadirkan Nissa Renganis, Helvy Tiana Rosa, Fatin Hamama, Boyke Sulaiman, Imam Ma’arif, Nana, Rissa Churia, dan Swary Utami Dewi.
Kehadiran para pembaca puisi tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan ini tidak hanya mengutamakan aspek akademis melalui diskusi.
Puisi akan ditempatkan sebagai pertunjukan yang dapat dinikmati secara langsung oleh publik.
Format tersebut sekaligus membuka kemungkinan bagi masyarakat luas untuk mengenal kembali puisi sebagai bagian dari ekspresi kebudayaan dan identitas bangsa.
“Merdeka Katamu” Mempertemukan 81 Penyair

Antologi “Merdeka Katamu” akan memuat karya dari 81 penyair yang berbicara tentang Indonesia.
Sejumlah nama yang disebut dalam materi kegiatan antara lain Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, LK Ara, Jose Rizal Manua, dan sejumlah penyair lainnya.
Buku tersebut juga mencantumkan kata pengantar dari Prof. (Hon) Dr. Fadli Zon, Menteri Kebudayaan RI.
Kehadiran 81 penyair dalam satu antologi membuat buku ini memiliki arti penting sebagai dokumentasi ekspresi sastra tentang Indonesia dalam konteks peringatan kemerdekaan.
Namun, yang menarik bukan hanya jumlah penyairnya.
Angka 81 juga mempunyai hubungan langsung dengan momentum peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini. Karena itu, angka tersebut sekaligus menjadi simbol yang menghubungkan karya sastra dengan perjalanan republik.
Setiap penyair tentu memiliki cara berbeda dalam memandang Indonesia.
Ada yang mungkin melihat Indonesia melalui persoalan kebangsaan. Ada pula yang menyoroti masyarakat, kebudayaan, sejarah, lingkungan, ketimpangan sosial, harapan generasi muda, hingga hubungan manusia dengan tanah air.
Perbedaan perspektif itulah yang justru membuat sebuah antologi menjadi menarik.
PDS H.B. Jassin, Ruang Penting Sastra Jakarta
Pemilihan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin sebagai lokasi kegiatan juga mempunyai makna tersendiri.
PDS H.B. Jassin berada di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya Nomor 73, Jakarta Pusat, dan menjadi salah satu ruang penting bagi dokumentasi serta aktivitas literasi dan sastra di Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mencatat PDS H.B. Jassin sebagai bagian dari fasilitas literasi di kawasan TIM.
Lokasi tersebut bukan sekadar tempat penyelenggaraan acara.
Nama H.B. Jassin mempunyai posisi penting dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Dokumentasi yang dihimpunnya menjadi bagian penting dari upaya menjaga jejak perkembangan sastra Indonesia.
Karena itu, mempertemukan 81 penyair dalam sebuah agenda peluncuran buku di ruang yang memiliki sejarah dokumentasi sastra memberikan konteks simbolis yang kuat.
Sastra masa kini bertemu dengan memori sastra masa lalu.
Diskusi Sastra Menghadirkan Akademisi dan Pengelola Kebudayaan
Selain Fadli Zon, diskusi akan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang.
Octavianus Masekha akan menjadi salah satu pembicara. Kemudian terdapat Nasruddin Djoko Surjono, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta, yang sekaligus dijadwalkan memberikan kata sambutan.
Forum tersebut juga menghadirkan Dr. Sastri Sunarti, Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literasi, dan Tradisi Lisan BRIN.
Sementara itu, Esha Tegar Putra juga akan tampil sebagai pembicara dengan Ewith Bahar bertindak sebagai moderator.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa diskusi tidak hanya diarahkan kepada pembacaan puisi.
Ada perspektif pemerintah, komunitas sastra, penelitian, manuskrip, literasi, tradisi lisan, serta pengalaman praktisi yang dapat memperkaya pembahasan mengenai posisi sastra Indonesia.
Kemerdekaan Tidak Hanya Dirayakan, tetapi Dipikirkan
Di tengah derasnya perubahan teknologi dan budaya digital, peringatan kemerdekaan melalui sastra menjadi relevan.
Puisi mempunyai kemampuan untuk menyampaikan gagasan dengan cara yang tidak selalu dapat dilakukan oleh bentuk komunikasi lain.
Bahasa puitik memungkinkan pengalaman manusia, kritik sosial, ingatan sejarah, dan harapan kebangsaan dirangkum dalam ekspresi yang padat.
Oleh sebab itu, agenda “Merdeka Katamu” dapat dibaca sebagai upaya menghidupkan kembali percakapan mengenai Indonesia melalui sastra.
Kemerdekaan dalam perspektif penyair tidak harus selalu hadir dalam bentuk slogan.
Ia dapat hadir melalui pertanyaan.
Ia dapat muncul sebagai kritik.
Ia dapat pula menjadi ungkapan kecintaan terhadap tanah air.
Dalam konteks itulah, 81 penyair diberikan ruang untuk berbicara tentang Indonesia dengan bahasa mereka masing-masing.
TISI Dorong Sastra Tetap Dekat dengan Publik
Taman Inspirasi Sastra Indonesia melalui kegiatan ini juga menunjukkan upaya membawa sastra lebih dekat kepada publik.
Acara yang menggabungkan peluncuran buku, diskusi, parade baca puisi, serta kehadiran tokoh sastra dan kebudayaan membuat kegiatan tersebut memiliki format yang lebih terbuka.
Sastra tidak hanya ditempatkan sebagai bacaan yang berada di rak buku.
Sastra juga dihadirkan sebagai peristiwa kebudayaan yang dapat disaksikan, didengar, didiskusikan, dan diperdebatkan.
Langkah tersebut menjadi penting karena perkembangan ekosistem sastra tidak hanya bergantung pada produktivitas penulis.
Ekosistem sastra juga membutuhkan pembaca, ruang pertunjukan, komunitas, dokumentasi, penerbitan, kritik, penelitian, serta dukungan kebijakan kebudayaan.
Karena itu, kegiatan yang mempertemukan seluruh unsur tersebut mempunyai nilai strategis bagi keberlangsungan kehidupan sastra Indonesia.
Agenda Sastra dalam Semangat HUT RI ke-81
Peluncuran “Merdeka Katamu” pada 6 September 2026 pada akhirnya menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Melalui kegiatan tersebut, TISI ingin menunjukkan bahwa kemerdekaan dapat dirayakan melalui berbagai bentuk ekspresi kebudayaan.
Panggung sastra menjadi salah satu ruang untuk menyampaikan pesan tersebut.
Sebanyak 81 penyair akan berbicara tentang Indonesia.
Fadli Zon dijadwalkan hadir sebagai pembicara utama.
Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Jose Rizal Manua, dan sejumlah seniman lainnya dijadwalkan mengisi parade baca puisi.
Sementara itu, akademisi, peneliti, birokrat kebudayaan, dan pegiat sastra akan bertemu dalam forum diskusi.
Bagi Octavianus Masekha, kegiatan ini sekaligus menjadi ruang konsolidasi para seniman dan budayawan untuk terus memperkuat kehidupan sastra Indonesia.
Dengan demikian, “Merdeka Katamu” bukan hanya tentang sebuah buku.
Ia menjadi pertemuan antara puisi, kemerdekaan, kebudayaan, sejarah, dan gagasan tentang Indonesia.
Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 6 September 2026, pukul 13.30–17.30 WIB, di Aula Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Lantai 4, Gedung Panjang Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Dari ruang yang menyimpan jejak panjang perjalanan sastra Indonesia itu, 81 penyair akan kembali mengajukan satu pertanyaan besar melalui karya mereka:
Apa arti merdeka ketika Indonesia terus bergerak menuju masa depannya?
Pertanyaan itu pula yang membuat “Merdeka Katamu” layak ditempatkan bukan sekadar sebagai agenda seremonial HUT RI, melainkan sebagai peristiwa sastra yang membuka ruang percakapan tentang Indonesia.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Editor : Sangga Buana
Kontributor: Lasman Simanjuntak
