Kasad Maruli Bongkar Illegal Logging Pemicu Banjir Sumatra

- Jurnalis

Selasa, 30 Desember 2025 - 11:15 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

“Ini bukan bencana alam murni. Pohon-pohon ini dipotong, bukan tumbang. Keserakahan illegal logging di hulu sungai telah berubah menjadi pembunuh rakyat.”
— Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. ( Youtube merdeka.com)

Bukti di Lapangan Ungkap Bencana Bukan Sekadar Faktor Alam

SUPERSEMAR NEWS – Bencana banjir bandang dan longsor di Sumatra kembali membuka luka lama tentang rapuhnya tata kelola lingkungan di Indonesia. Namun kali ini, fakta di lapangan berbicara lebih keras dari sekadar analisis cuaca. Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak secara terbuka membongkar indikasi kuat kejahatan lingkungan berupa illegal logging yang diduga menjadi pemicu utama tragedi tersebut.

Dalam kunjungan langsung ke lokasi bencana, Jenderal Maruli tidak hanya datang sebagai pejabat negara, melainkan sebagai saksi mata yang menyaksikan jejak kejahatan manusia di balik bencana alam. Melalui video yang diunggah kanal YouTube Merdeka.com, Kasad menunjukkan potongan kayu gelondongan besar yang hanyut bersama banjir dan menegaskan bahwa kayu-kayu tersebut dipotong secara sistematis, bukan tumbang secara alami.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa banjir bandang Sumatra bukan peristiwa alam murni, melainkan akumulasi kelalaian, keserakahan, dan pembiaran hukum.

Kayu Gelondongan Jadi Bukti Awal Kejahatan Terorganisir

Potongan Rapi, Bekas Chainsaw, Bukan Patah Alami

Di tengah lumpur dan puing-puing bangunan warga, Jenderal Maruli menunjuk langsung kayu-kayu besar dengan bekas potongan rapi. Menurutnya, pola potongan tersebut tidak mungkin dihasilkan oleh faktor alam, melainkan oleh gergaji mesin atau chainsaw.

“Ini bukan pohon tumbang biasa. Ini bekas dipotong,” tegas Jenderal Maruli.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa penebangan liar di hulu sungai telah berlangsung lama dan sistematis. Akibatnya, kawasan hutan yang seharusnya menjadi penyangga ekologis kehilangan fungsi utama dalam menyerap air hujan.

Baca Juga :  Kodam XXIX/Mambruk Resmi Berdiri di Nabire, Perkuat Pertanahan dan Pengabdian TNI AD di Papua Tengah

Sebagai dampaknya, saat hujan ekstrem melanda, air langsung mengalir deras tanpa hambatan, membawa material kayu, tanah, dan batu, lalu menghantam permukiman warga di wilayah hilir.

Dari Hulu ke Hilir: Rantai Kerusakan yang Tak Terputus

Hutan Gundul, Sungai Rusak, Rakyat Jadi Korban

Kerusakan hutan di wilayah hulu sungai Sumatra bukan isu baru. Namun, temuan langsung Kasad Maruli menunjukkan bahwa kejahatan ini masih berlangsung aktif dan diduga melibatkan jaringan terorganisir.

Secara ekologis, hutan berfungsi sebagai:

  • Penyerap air hujan
  • Penahan erosi tanah
  • Penyeimbang debit sungai

Ketika pohon-pohon ditebang secara liar, tanah kehilangan daya ikatnya. Alhasil, banjir bandang dan longsor menjadi bencana yang tak terelakkan.

Ironisnya, yang menuai keuntungan adalah pelaku illegal logging, sementara yang menanggung kerugian adalah rakyat kecil—kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan nyawa.

Kasad Maruli: “Ini Kebiadaban yang Nyata”

Kemarahan Negara di Tengah Duka Rakyat

Di hadapan reruntuhan rumah warga dan tangis korban, Jenderal Maruli tak mampu menyembunyikan amarahnya. Dengan nada tegas, ia menyebut pelaku perusakan hutan sebagai “biadab”.

“Saya tidak habis pikir, ada orang sebiadab ini,” ujarnya.

Pernyataan tersebut bukan sekadar luapan emosi, melainkan peringatan keras dari negara bahwa kejahatan lingkungan adalah kejahatan kemanusiaan. Setiap pohon yang ditebang secara ilegal berpotensi menghilangkan nyawa manusia.

Penegakan Hukum Lingkungan Kembali Dipertanyakan

Di Mana Negara Saat Hutan Dijarah?

Pernyataan Kasad Maruli secara tidak langsung menampar wajah penegakan hukum lingkungan di Indonesia. Jika illegal logging dapat berlangsung hingga menyebabkan bencana besar, publik berhak bertanya:

  • Di mana aparat pengawas hutan?
  • Siapa yang melindungi pelaku?
  • Mengapa penindakan sering terlambat?
Baca Juga :  Kontribusi Perkuat Pertahanan Maritim, KSAL Diganjar Tanda Kehormatan Militer Australia

Menurut catatan berbagai lembaga lingkungan, Sumatra menjadi salah satu wilayah dengan laju deforestasi tertinggi akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan. Data deforestasi Indonesia:
https://www.globalforestwatch.org

TNI AD Siap Bantu, Tapi Pencegahan Harus Diutamakan

Bencana Tak Bisa Ditangani dengan Bantuan Saja

Jenderal Maruli menegaskan bahwa TNI AD akan selalu hadir membantu penanganan bencana, mulai dari evakuasi korban hingga distribusi logistik. Namun ia menekankan satu hal penting: bantuan pascabencana tidak akan cukup jika akar masalah tidak diselesaikan.

Pencegahan kerusakan hutan harus menjadi prioritas bersama:

  • Pemerintah pusat
  • Pemerintah daerah
  • Aparat penegak hukum
  • Masyarakat sipil

Tanpa langkah tegas, bencana serupa akan terus berulang.

Illegal Logging: Kejahatan Sunyi yang Mematikan

Bukan Sekadar Pelanggaran, Tapi Ancaman Nasional

Illegal logging bukan sekadar pelanggaran administratif. Kejahatan ini:

  • Merusak ekosistem
  • Memicu bencana hidrometeorologi
  • Mengancam ketahanan pangan
  • Menghancurkan masa depan generasi mendatang

Dalam konteks ini, pernyataan Kasad Maruli menjadi alarm nasional bahwa kejahatan lingkungan harus diperlakukan sebagai ancaman serius terhadap keselamatan rakyat.

Negara Tak Boleh Kalah oleh Perusak Hutan

Banjir bandang di Sumatra bukan sekadar musibah. Ia adalah konsekuensi dari pembiaran panjang terhadap kejahatan lingkungan. Temuan langsung Kasad Jenderal Maruli Simanjuntak membuktikan bahwa illegal logging masih menjadi bom waktu ekologis.

Jika hukum tidak ditegakkan, maka bencana akan terus berulang. Jika hutan terus digunduli, maka sungai akan terus meluap. Dan jika negara kalah, maka rakyatlah yang selalu menjadi korban.

Pesan Kasad Maruli jelas: hentikan kejahatan ini sekarang, atau bersiap menghadapi tragedi berikutnya.***(SB)

SupersemarNewsTeam

Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

POLSEK TAMBORA RESPONS CEPAT ADUAN WARGA, CEGAH KERIBUTAN KELUARGA DI PEKOJAN
BERHASIL TANGKAP PETINGGI KKB DAN REBUT KEMBALI SENJATA, PRAJURIT YONIF 9 MARINIR RAIH KPLB
KPK Tunggu Balasan TNI Terkait Dugaan 2 Prajurit Aktif di Kasus BNPB
Konser Andrea Bocelli di Borobudur Makin Dekat: MUI Tolak, Polda Jateng Sebut tak Ada Pembatalan
Letjen TNI Iwan Setiawan, dari Everest ke Kostrad
Gempa M 7,0 Guncang Tibet China
Enam Agama, Satu Kampus: Merawat Toleransi di IABN Sriwijaya Tangerang
KCIC mendukung mobilitas pelari Jakarta Running Festival melalui Whoosh
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:05 WIB

POLSEK TAMBORA RESPONS CEPAT ADUAN WARGA, CEGAH KERIBUTAN KELUARGA DI PEKOJAN

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:24 WIB

BERHASIL TANGKAP PETINGGI KKB DAN REBUT KEMBALI SENJATA, PRAJURIT YONIF 9 MARINIR RAIH KPLB

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:18 WIB

KPK Tunggu Balasan TNI Terkait Dugaan 2 Prajurit Aktif di Kasus BNPB

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:14 WIB

Konser Andrea Bocelli di Borobudur Makin Dekat: MUI Tolak, Polda Jateng Sebut tak Ada Pembatalan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 09:10 WIB

Letjen TNI Iwan Setiawan, dari Everest ke Kostrad

Berita Terbaru

Berita utama

Letjen TNI Iwan Setiawan, dari Everest ke Kostrad

Jumat, 23 Okt 2026 - 09:10 WIB