
SUPERSEMAR NEWS – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Israel melancarkan serangan udara ke Lebanon selatan pada Senin, 9 Februari 2026, yang menewaskan empat orang, termasuk seorang anak balita berusia tiga tahun dan anggota pasukan keamanan Lebanon. Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata Israel–Hizbullah yang disepakati sejak November 2024, namun kini semakin rapuh.
Serangan tersebut langsung memicu kecaman keras pemerintah Lebanon, memperdalam krisis keamanan kawasan, sekaligus mempertanyakan komitmen Israel terhadap hukum internasional dan perjanjian gencatan senjata yang masih berlaku.
Serangan Udara di Yanuh: Korban Sipil Tak Terhindarkan
Berdasarkan laporan Channel News Asia
👉 https://www.channelnewsasia.com
yang dikutip Selasa, 10 Februari 2026, Kementerian Kesehatan Lebanon
👉 https://www.moph.gov.lb
mengonfirmasi bahwa tiga korban tewas berasal dari serangan udara Israel di Desa Yanuh, wilayah Lebanon selatan.
Lebih lanjut, Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA)
👉 https://nna-leb.gov.lb
melaporkan bahwa salah satu korban adalah anggota pasukan keamanan Lebanon yang tewas bersama anaknya yang masih balita, saat berada di lokasi kejadian.
Fakta ini memperkuat kekhawatiran bahwa serangan militer Israel kembali menimbulkan korban sipil, termasuk anak-anak, meskipun operasi tersebut diklaim menyasar target militer.
Klaim Israel: Targetkan Komandan Artileri Hizbullah
Menanggapi insiden tersebut, militer Israel (IDF)
👉 https://www.idf.il
menyatakan bahwa serangan itu menargetkan Ahmad Ali Salameh, yang disebut sebagai kepala unit artileri Hizbullah
👉 https://www.almanar.com.lb
di Lebanon selatan.
Menurut pernyataan resmi Israel, Salameh dituduh berusaha memulihkan kemampuan militer Hizbullah, termasuk pembangunan kembali infrastruktur persenjataan yang rusak akibat konflik sebelumnya.
Namun demikian, militer Israel juga mengakui bahwa laporan mengenai korban sipil sedang dalam tahap peninjauan internal, sebuah pernyataan yang dinilai banyak pihak sebagai respons normatif tanpa kejelasan akuntabilitas.
Korban Bertambah di Aita al-Shaab

Beberapa jam setelah serangan di Yanuh, Kementerian Kesehatan Lebanon kembali melaporkan satu korban tewas akibat tembakan Israel di desa perbatasan Aita al-Shaab.
Militer Israel mengklaim bahwa korban tersebut merupakan anggota Hizbullah yang terlibat dalam aktivitas intelijen terhadap pasukan Israel serta rehabilitasi fasilitas militer Hizbullah di wilayah perbatasan.
Namun, otoritas Lebanon menilai klaim tersebut tidak disertai bukti terbuka, serta tidak membenarkan penggunaan kekuatan mematikan di wilayah yang seharusnya berada dalam status gencatan senjata.
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk
Perlu dicatat, gencatan senjata Israel–Hizbullah yang berlaku sejak November 2024 dimediasi oleh komunitas internasional
👉 https://www.un.org
guna mengakhiri lebih dari satu tahun konflik bersenjata yang menewaskan ribuan orang dan memaksa puluhan ribu warga Lebanon mengungsi.
Namun faktanya, Israel masih rutin melancarkan serangan udara ke Lebanon dan mempertahankan pasukan di lima titik strategis perbatasan, yang secara terang-terangan melanggar semangat perjanjian gencatan senjata.
Penangkapan Tokoh Jamaa Islamiya Picu Eskalasi
Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Jamaa Islamiya
👉 https://www.middleeasteye.net
yang bersekutu dengan Hamas
👉 https://www.aljazeera.com
menuduh Israel telah menculik pejabat mereka, Atwi Atwi, dari kediamannya di Hasbaya, Lebanon selatan.
Kelompok tersebut menyebut Atwi dibawa ke lokasi yang tidak diketahui, sebuah tindakan yang dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara Lebanon.
Militer Israel kemudian mengonfirmasi penangkapan itu dan menyebut Atwi sebagai “teroris senior”, yang dipindahkan ke wilayah Israel untuk interogasi keamanan.
Pemerintah Lebanon: Pelanggaran Kedaulatan dan Hukum Internasional
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam
👉 https://www.pmo.gov.lb
mengecam keras tindakan Israel tersebut. Ia menyebut penangkapan lintas batas itu sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan Lebanon, perjanjian gencatan senjata, serta hukum internasional
👉 https://www.icrc.org.
Pernyataan ini disampaikan tak lama setelah Salam menyelesaikan kunjungan dua hari ke Lebanon selatan, wilayah yang mengalami kerusakan parah akibat konflik dan masih menyisakan krisis kemanusiaan serius.
Hizbullah Desak Langkah Politik dan Hukum
Sementara itu, Hizbullah mendesak pemerintah Lebanon untuk mengambil langkah tegas di tingkat politik, diplomatik, dan hukum internasional demi melindungi warga negaranya.
Anggota parlemen Hizbullah, Hussein al-Haj Hassan, menyatakan bahwa Israel saat ini menahan sekitar 20 warga Lebanon, dengan setidaknya 10 orang diduga diculik setelah gencatan senjata berlaku.
👉 https://www.parliament.gov.lb
Tuntutan Resmi Lebanon terhadap Israel
Pemerintah Lebanon secara resmi menuntut Israel untuk:
- Segera membebaskan seluruh warga Lebanon yang ditahan
- Menarik pasukan Israel dari wilayah perbatasan
- Menghentikan seluruh serangan udara ke Lebanon
Langkah-langkah tersebut dinilai krusial untuk mencegah eskalasi konflik terbuka yang berpotensi menyeret kawasan ke dalam perang regional baru.
Analisis: Anak-Anak Kembali Jadi Korban Konflik
Kematian anak balita dalam serangan ini kembali menegaskan bahwa anak-anak selalu menjadi korban paling rentan dalam konflik bersenjata. Laporan lembaga kemanusiaan internasional
👉 https://www.unicef.org
secara konsisten menunjukkan bahwa konflik Israel–Lebanon telah meninggalkan luka mendalam bagi generasi sipil.
Insiden ini memperkuat desakan global agar hukum humaniter internasional ditegakkan secara konsisten, tanpa standar ganda.
Kesimpulan: Perdamaian Masih Jauh dari Kenyataan
Serangan Israel di Lebanon selatan yang menewaskan anak-anak dan aparat keamanan menunjukkan bahwa gencatan senjata belum menjamin perdamaian nyata. Tanpa komitmen politik yang kuat, akuntabilitas militer, dan tekanan internasional, konflik berisiko terus berulang dengan pola yang sama: korban sipil kembali berjatuhan.
SUPERSEMAR NEWS akan terus mengawal perkembangan konflik ini secara kritis, investigatif, dan independen, demi menghadirkan informasi yang akurat, tajam, dan berpihak pada nilai kemanusiaan.***(SB)
SupersemarNewsTeam
