Kiai Lutfi Hakim tampil sederhana dengan busana adat Betawi, merepresentasikan sosok Mujaddid Betawi yang konsisten memperjuangkan kemaslahatan budaya Jakarta di tengah arus modernisasi dan globalisasi.

Jakarta Ucap Terima Kasih kepada Kiai Lutfi Hakim

SUPERSEMAR NEWS – Jakarta — Menjelang ulang tahun kota Jakarta yang semakin matang, menarik untuk melihat tokoh-tokoh yang bukan hanya menjadi simbol, tapi menjadi pembaharu budaya bagi masyarakat Betawi. Salah satunya adalah Kiai Lutfi Hakim, MA yang dikenal sebagai Imam Besar dan pemimpin intelektual Forum Betawi Rempug (FBR) sekaligus Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta.

Keberadaannya di ruang publik kini mengundang apresiasi luas dari berbagai kalangan warga Betawi dan Jakarta luas karena kiprahnya yang dinilai membumikan nilai-nilai kultural, sekaligus menghubungkan akar budaya dengan tantangan modernitas. Artikel ini menelusuri secara mendalam peran beliau sebagai Mujaddid Betawi, implikasinya terhadap pelestarian budaya, kritik dan dukungan terhadap konsepsi Lembaga Adat Masyarakat (LAM) Betawi, serta harapan dan tantangan Jakarta sebagai kota global.

Siapakah Kiai Lutfi Hakim dan Mengapa Ia Disebut Mujaddid Betawi?

Dalam sejarah kebudayaan Islam, istilah mujaddid merujuk pada sosok pembaharu yang muncul setiap 100 tahun untuk mengembalikan nilai-nilai Islam yang lurus dan dinamis dalam konteks zaman. Ini merujuk pada hadits shahih Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa Allah akan mengangkat pembaharu (mujaddid) di setiap abad.

Sering disebut dalam sejarah Islam adalah para tokoh seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Imam Syafi’i, Al-Ghazali, hingga Ibnu Taimiyah, yang membawa pembaruan dalam pemikiran dan spiritualitas umat. Namun, apa jadinya jika konsep mujaddid itu diaplikasikan pada konteks sosial budaya lokal, seperti Betawi di Jakarta? Inilah yang dibawa oleh Kiai Lutfi Hakim; sebuah inovasi budaya yang kontekstual namun tetap berakar kuat pada ajaran tradisi Islam Nusantara dan nilai-nilai kultural Betawi.

Menurut sejumlah pengamat sosial, pemikiran Kiai Lutfi tidak hanya sekadar tradisionalisme semata tetapi sebuah kombinasi yang cerdas antara nilai budaya Betawi dan prinsip universal nilai kemaslahatan (maslahah) yang inklusif dan progresif.

Dari Tradisi Betawi ke Perspektif Modern: Konsepsi LAM Betawi yang Gagah

Salah satu gagasan paling fundamental yang digagas dan diperjuangkan oleh Kiai Lutfi adalah kelahiran Lembaga Adat Masyarakat (LAM) Betawi yang otentik dan berfungsi sebagai payung hukum pelindung identitas budaya Betawi.

Berbeda dengan struktur organisasi budaya biasa, LAM Betawi yang dirancang oleh beliau bukan hanya sekadar organisasi simbolik. Konsep ini didesain sebagai institusi sosial-budaya yang kuat, yang mampu berinteraksi dengan kebijakan pemerintah, terutama di tengah tantangan Jakarta sebagai kota global modern yang menghadapi tekanan arus digitalisasi, urbanisasi, dan perubahan sosial yang cepat.

LAM Betawi dan Payung Hukum

LAM Betawi bukan sekadar slogan atau simbol identitas. Ia merupakan respons atas kebutuhan nyata masyarakat Betawi untuk memiliki payung hukum yang menjamin pelestarian budaya, perlindungan adat, dan pengembangan nilai-nilai lokal dalam kerangka hukum formal. Konsep ini mendapat dukungan karena menjadi implementasi dari Undang-Undang No. 2 Tahun 2024 mengenai perlindungan adat dan masyarakat adat di Indonesia.

Menurut sumber yang kami telusuri, gagasan LAM Betawi telah melalui berbagai diskusi intens dengan para pemangku kepentingan di Jakarta. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta disebut sempat dipersiapkan untuk merilis peraturan gubernur (Pergub) yang menjadi payung hukum formal bagi LAM Betawi, namun sempat tertunda karena berbagai dinamika internal pemerintahan dan kepentingan pihak-pihak tertentu yang belum sepenuhnya selaras dengan tuntutan kemaslahatan masyarakat Betawi.

Kemashlahatan sebagai Prinsip Hidup

Bagi Kiai Lutfi, kemaslahatan masyarakat bukan sekadar slogan, tetapi prinsip hidup dan perjuangan yang terus dijalankan tanpa henti. Ini bukan hal sederhana, karena seringkali dalam dinamika sosial budaya Betawi muncul ego kelompok, perbedaan pandangan, dan kepentingan politik yang saling bersinggungan.

Dalam perspektif beliau, kemaslahatan berarti kemampuan untuk melihat sebuah persoalan budaya dari perspektif yang lebih besar: bukan hanya untuk kelompok tertentu, tapi secara transversal bagi semua lapisan masyarakat Betawi, bahkan bagi masyarakat Jakarta umum.

Kritik dan Tantangan: Menyikapi Modernisasi Jakarta

Sebagai ibu kota negara dan kota megapolitan, Jakarta menghadapi berbagai tantangan modernisasi yang cepat. Digitalisasi yang masif, arus informasi global, dan perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) telah mempengaruhi cara hidup masyarakat.

Tantangan sebenarnya bagi warga Betawi adalah bagaimana menjaga akar budaya tanpa menjadi terasing di tengah arus global. Di sini, peran pendidikan budaya menjadi penting, serta kemampuan untuk menjembatani nilai tradisi dengan dinamika zaman.

Kiai Lutfi menjadi sosok yang berusaha memainkan peran tersebut: menguatkan akar budaya Betawi sekaligus membuka ruang dialog dan adaptasi terhadap tantangan zaman. Menurut pengakuan banyak aktivis—baik senior maupun junior—metode pendekatannya cenderung egaliter, rinci, dan jauh dari kesan otoriter.

Energi Positif dan Refleksi Pribadi

Sebagai seorang yang pernah berdiskusi langsung dengan Kiai Lutfi, penulis mencatat banyak energi positif yang terpancar dari cara berpikir beliau yang sistematis, inklusif, dan logis. Ini menjadi alasan mengapa figur ini mendapatkan apresiasi luas dari banyak pihak, terutama di kalangan komunitas Betawi yang selama ini sering merasa identitasnya terancam oleh gaya hidup urban dan global.

Jika banyak tokoh budaya pada umumnya terpaku pada nostalgia tradisi belaka, Kiai Lutfi justru menawarkan gagasan pertemuan antara tradisi dan masa depan. Ini terbukti pada keberaniannya untuk mendorong lahirnya LAM Betawi sebagai satu kesatuan institusi yang siap berinteraksi dengan sistem hukum nasional.

Harapan: Sinergi Pemangku Kepentingan di Jakarta

Untuk menjadikan gagasan besar seperti LAM Betawi benar-benar terwujud dan bermanfaat bagi masyarakat luas, dukungan dari semua pihak menjadi kunci. Pemprov DKI Jakarta, organisasi masyarakat, tokoh budaya, akademisi, hingga komunitas pemuda dan aktivis Betawi perlu duduk bersama dalam semangat kebersamaan tanpa dominasi kepentingan pribadi atau golongan.

Sebagai kota global, Jakarta tidak bisa hanya mengandalkan modernitas semata tanpa landasan nilai budaya yang kuat. Inilah yang membuat gagasan Kiai Lutfi menjadi relevan dalam perbincangan budaya besar di ibu kota.

Apresiasi pada Pembaharu Budaya

Maka jelaslah bahwa apapun label yang dikenakan—tokoh agama, budayawan, aktivis sosial, atau pemimpin komunitas—perjuangan yang membawa kemaslahatan dan identitas budaya yang kuat layak mendapatkan penghargaan dan terima kasih luas dari semua warga Jakarta, khususnya masyarakat Betawi.

Kiai Lutfi Hakim layak disebut Mujaddid Betawi karena keberaniannya mensinergikan tradisi budaya Betawi dengan tuntutan zaman, serta menjadikan kemaslahatan sebagai pijakan utama dalam seluruh perjuangannya.***(SB)

SupersemarNewsTeam