
SUPERSEMAR NEWS | Jakarta –
Di tengah keterbatasan akses, minimnya jaringan telekomunikasi, serta jejak sejarah kelam yang masih melekat dalam ingatan banyak orang, sebuah kisah penuh kemanusiaan justru tumbuh subur di Pulau Buru, Maluku. Pulau yang selama puluhan tahun dikenal sebagai lokasi pembuangan tahanan politik era Orde Baru itu kini menghadirkan wajah baru tentang toleransi, gotong royong, dan persaudaraan lintas keyakinan.
Momentum Hari Raya Idul Adha 2026 menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Desa Wamana Baru, Kecamatan Fena Leisela, Kabupaten Buru, merawat harmoni sosial tanpa memandang agama dan latar belakang. Aktivitas kurban yang berlangsung sederhana di kampung pedalaman itu justru menghadirkan pesan kuat tentang persatuan Indonesia
Pulau Buru dan Luka Sejarah yang Kini Berubah Menjadi Harapan
Nama Pulau Buru selama bertahun-tahun identik dengan sejarah panjang tragedi politik Indonesia. Pada era pemerintahan Orde Baru, kawasan ini digunakan sebagai lokasi pengasingan tahanan politik yang dituduh terlibat dalam peristiwa G30S/PKI.
Berbagai arsip sejarah mencatat lebih dari 11 ribu tahanan pernah dikirim ke pulau terpencil tersebut. Kisah penderitaan, kerja paksa, hingga keterasingan menjadi bagian dari narasi besar yang melekat pada Pulau Buru.
Namun, lima dekade kemudian, wajah Pulau Buru perlahan berubah. Kehidupan masyarakat berkembang seperti daerah-daerah lain di Indonesia. Warga mulai menikmati aliran listrik, pendidikan, akses perdagangan, hingga aktivitas sosial lintas agama yang semakin erat.
Di balik keterbatasan infrastruktur, masyarakat Pulau Buru justru menyimpan nilai-nilai sosial yang semakin sulit ditemukan di perkotaan. Kebersamaan, kepedulian sosial, dan toleransi masih hidup secara alami dalam keseharian masyarakat.
Perjalanan Menuju Desa Wamana Baru
Rintik hujan turun perlahan ketika rombongan memasuki wilayah Sungai Waigereng pada malam menjelang Idul Adha. Suasana begitu sunyi. Gelap malam menyelimuti kawasan pedalaman Kecamatan Fena Leisela.
Hanya suara aliran sungai dangkal yang terdengar memecah keheningan malam. Sungai Waengura menjadi pemisah antara Desa Wamana Lama dan Wamana Baru.
Meski berada dalam satu kecamatan, akses antarwilayah masih sangat sederhana. Warga menggunakan rakit buatan dari kaleng sebagai alat penyeberangan utama.
Rakit itu mampu mengangkut warga serta kendaraan roda dua dari satu kampung ke kampung lainnya. Dalam kondisi minim fasilitas, masyarakat tetap mampu bertahan dengan kreativitas dan semangat gotong royong.
Setelah menyeberang sungai, gema takbir mulai terdengar samar dari kejauhan. Suasana syahdu langsung terasa.
“Besok kampung kami berkurban,” ujar seorang warga sambil mengantar rombongan menuju perkampungan.
Perjalanan menuju permukiman warga membutuhkan waktu cukup panjang. Jalan yang sebagian belum beraspal membuat kendaraan harus bergerak perlahan.
Di beberapa titik, kondisi jalan bahkan masih berupa tanah berbatu. Ketika hujan turun, jalur tersebut berubah licin dan menyulitkan aktivitas masyarakat.
Meski demikian, warga tetap menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur.
Kampung yang Hidup Tanpa Ketergantungan Teknologi
Ketika malam semakin larut, suasana Desa Wamana Baru terlihat begitu tenang. Tidak ada hiruk pikuk seperti di kota besar. Tidak terdengar suara kendaraan padat ataupun aktivitas hiburan modern.
Lampu jalan masih sangat terbatas. Sebagian besar pencahayaan berasal dari rumah-rumah penduduk.
Listrik baru mulai masuk ke kawasan tersebut sekitar tiga tahun terakhir. Karena itu, masyarakat masih menjalani pola kehidupan sederhana.
“Silakan masuk, beginilah keadaan kampung kami,” ujar Mama Anita sambil menyambut tamu dengan senyum hangat.
Di kampung itu, hubungan antarwarga terasa sangat dekat. Ketika siang hari, masyarakat lebih sering berkumpul dan berbincang langsung dibanding menghabiskan waktu dengan telepon genggam.
Akses internet yang belum merata membuat anak-anak lebih banyak bermain di luar rumah. Mereka bermain bola, berlari di lapangan, atau membantu orang tua di kebun.
Kondisi tersebut justru menciptakan hubungan sosial yang lebih kuat.
“Anak-anak di sini lebih banyak bermain bersama. Kalau mau cari sinyal internet kadang harus naik ke daerah atas,” kata Anita.
Fenomena tersebut menjadi gambaran nyata bahwa kehidupan sederhana tidak selalu identik dengan keterbelakangan. Sebaliknya, masyarakat Wamana Baru justru mampu mempertahankan nilai kekeluargaan yang mulai memudar di perkotaan.
Perubahan Sosial dan Kehidupan Keagamaan
Dahulu, kawasan Wamana dikenal sebagai kampung adat sosial dengan mayoritas masyarakat masih menganut kepercayaan animisme.
Namun, seiring masuknya pendatang dari berbagai daerah, komposisi masyarakat mulai berubah.
Kini, sebagian besar penduduk memeluk agama Islam. Meski demikian, warga Kristen dan masyarakat adat tetap hidup berdampingan tanpa konflik.
Tidak ada sekat sosial berdasarkan agama. Semua warga terlibat dalam kegiatan kampung, mulai dari kerja bakti, pembangunan fasilitas umum, hingga kegiatan keagamaan tertentu.
Kehidupan harmonis tersebut terlihat jelas saat momentum Hari Raya Idul Adha.
Sejak 2022, masyarakat Desa Wamana Baru rutin menerima bantuan hewan kurban dari Dompet Dhuafa.
Program tersebut bukan sekadar penyaluran daging kurban. Lebih dari itu, program tersebut menghadirkan rasa kebersamaan dan kebahagiaan bagi masyarakat pedalaman.
“Kalau dulu tidak menentu, sekarang alhamdulillah setiap tahun ada penyaluran kurban,” ujar Anita.
Daging Kurban Menjadi Kemewahan di Pedalaman

Bagi sebagian masyarakat perkotaan, menikmati daging sapi mungkin menjadi hal biasa. Namun, kondisi berbeda terjadi di pedalaman Pulau Buru.
Sebagian warga memang memiliki ternak sapi. Akan tetapi, hewan tersebut lebih sering dijual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, hingga kebutuhan kesehatan membuat masyarakat memilih menjual ternak dibanding mengonsumsinya sendiri.
“Kalau dimakan sendiri rugi karena biaya perawatannya besar,” ujar Anita.
Karena itu, momentum Idul Adha menjadi waktu yang sangat dinanti masyarakat.
Hari raya kurban bukan hanya memiliki nilai ibadah, tetapi juga menjadi kesempatan langka bagi banyak keluarga untuk menikmati daging sapi.
Kondisi ini memperlihatkan masih adanya ketimpangan distribusi kesejahteraan di wilayah pedalaman Indonesia.
Di satu sisi, masyarakat kota hidup dengan akses pangan melimpah. Namun di sisi lain, sebagian masyarakat pedalaman masih menjadikan konsumsi daging sebagai kemewahan.
Tiga Hewan Kurban Membawa Keceriaan Besar
Pada Idul Adha 2026, Desa Wamana Baru menerima tiga ekor sapi kurban.
Dua sapi berasal dari program Dompet Dhuafa Maluku, sementara satu ekor lainnya berasal dari bantuan pemilik pondok pesantren.
Meski jumlahnya tidak terlalu banyak, kehadiran tiga sapi tersebut membawa kebahagiaan besar bagi ratusan keluarga.
Usai pelaksanaan Salat Idul Adha, warga langsung berkumpul untuk melakukan proses penyembelihan.
Panitia kurban bekerja bersama masyarakat secara gotong royong.
Yang menarik, warga nonmuslim juga ikut membantu proses penyembelihan hingga distribusi daging.
Pemandangan tersebut menjadi simbol kuat toleransi antarumat beragama.
“Di sini kita berkurban tanpa membeda-bedakan,” kata Gusti Waemese selaku panitia kurban.
Pernyataan tersebut bukan sekadar slogan. Fakta di lapangan menunjukkan seluruh warga memang terlibat tanpa sekat identitas.
Bahkan, seluruh rumah menerima pembagian daging kurban, termasuk warga nonmuslim.
Tidak ada diskriminasi ataupun perlakuan berbeda.
Semua warga menikmati hasil kurban secara merata.
Toleransi yang Tumbuh dari Kehidupan Sehari-hari
Apa yang terjadi di Desa Wamana Baru sebenarnya lahir dari kehidupan sosial yang sudah terbentuk sejak lama.
Di tengah keterbatasan akses dan fasilitas, masyarakat terbiasa saling membantu untuk bertahan hidup.
Ketika ada warga membangun rumah, tetangga datang membantu tanpa diminta.
Ketika ada warga sakit, masyarakat bergotong royong mengantar ke fasilitas kesehatan.
Begitu pula ketika Idul Adha tiba.
Warga nonmuslim tidak melihat kurban sebagai ritual kelompok tertentu semata. Mereka memandang kegiatan tersebut sebagai bagian dari kebersamaan kampung.
Nilai inilah yang mulai jarang ditemukan di banyak wilayah perkotaan yang cenderung individualistis.
Pulau Buru justru memperlihatkan bahwa toleransi sejati tidak lahir dari slogan formal ataupun seminar mewah.
Toleransi tumbuh dari interaksi sehari-hari, rasa saling membutuhkan, dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Tidak Ada Pesta Besar, Tetapi Kebersamaan Sangat Terasa
Berbeda dengan suasana kurban di perkotaan yang sering diwarnai pesta masak bersama, masyarakat Wamana Baru memilih langsung membawa daging ke rumah masing-masing.
Ibu-ibu tidak berkumpul memasak secara massal.
Setelah pembagian selesai, seluruh keluarga kembali ke rumah untuk mengolah daging bersama keluarga.
Meski sederhana, suasana kebersamaan tetap terasa kuat.
Anak-anak terlihat bahagia membawa kantong daging.
Sebagian warga langsung memasak sate, sop, hingga masakan tradisional khas Maluku.
Kehangatan keluarga menjadi inti dari perayaan tersebut.
Mualaf Juga Menjadi Penerima Kurban
Dalam proses distribusi daging, panitia juga memberikan perhatian kepada warga yang baru memeluk agama Islam.
Salah satu penerima kurban diketahui merupakan mualaf.
Kehadiran program kurban tidak hanya memberikan bantuan pangan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial masyarakat.
Bagi sebagian warga pedalaman, perhatian seperti itu memiliki makna besar.
Mereka merasa diterima dan dihargai sebagai bagian dari komunitas.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dakwah sosial berbasis kemanusiaan masih menjadi pendekatan paling efektif dalam membangun persaudaraan.
Harapan Besar untuk Masa Depan Kurban di Pedalaman
Warga berharap jumlah hewan kurban yang masuk ke Desa Wamana Baru terus meningkat setiap tahun.
Saat ini, lebih dari 400 kepala keluarga tinggal di tiga dusun di wilayah tersebut.
Jumlah itu membuat kebutuhan distribusi daging kurban masih cukup besar.
Masyarakat berharap semakin banyak lembaga sosial, donatur, serta masyarakat perkotaan yang menyalurkan kurban ke daerah pedalaman.
Sebab, manfaatnya sangat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Selain membantu kebutuhan pangan, kurban juga memperkuat solidaritas sosial antarwarga.
Dompet Dhuafa dan Tantangan Distribusi Kurban di Maluku
Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Maluku, La Januri, mengatakan distribusi kurban di wilayah kepulauan memiliki tantangan yang tidak ringan.
Pada tahun ini, Dompet Dhuafa Maluku menyalurkan 180 ekor sapi dan 10 kambing.
Hewan kurban tersebut didistribusikan ke berbagai wilayah, termasuk daerah pedalaman.
Menurut La Januri, masyarakat sangat antusias menyambut program kurban.
Tidak hanya penerima manfaat, para peternak lokal juga memperoleh keuntungan ekonomi.
“Kalau tidak ada program kurban, mungkin banyak sapi tidak terjual,” katanya.
Program kurban ternyata memiliki efek ekonomi berantai.
Peternak lokal memperoleh pasar penjualan.
Warga menerima manfaat pangan.
Sementara hubungan sosial antarwasyarakat juga semakin kuat.
Namun demikian, tantangan distribusi masih cukup besar.
Kondisi geografis Maluku yang terdiri dari banyak pulau membuat proses pengiriman hewan kurban membutuhkan biaya tinggi dan akses transportasi yang rumit.
Beberapa wilayah bahkan masih sulit dijangkau kendaraan.
“Masih banyak masyarakat pedalaman yang meminta bantuan daging kurban, tetapi kuotanya belum terpenuhi,” ujar La Januri.
Ia memperkirakan kebutuhan ideal untuk wilayah pedalaman Maluku bisa mencapai lebih dari 100 ekor sapi tambahan.
Ketimpangan Infrastruktur di Indonesia Timur
Kisah Desa Wamana Baru sekaligus menjadi pengingat bahwa ketimpangan pembangunan di Indonesia masih terjadi.
Masyarakat di wilayah timur Indonesia masih menghadapi tantangan besar terkait infrastruktur dasar.
Akses jalan, listrik, internet, pendidikan, dan kesehatan belum sepenuhnya merata.
Namun di tengah berbagai keterbatasan itu, masyarakat tetap mampu menjaga semangat kebersamaan.
Fakta tersebut seharusnya menjadi refleksi penting bagi pemerintah dan seluruh pemangku kebijakan.
Pembangunan nasional tidak boleh hanya terpusat di kota-kota besar.
Wilayah pedalaman dan kepulauan juga membutuhkan perhatian serius agar kualitas hidup masyarakat semakin meningkat.
Kurban Sebagai Instrumen Keadilan Sosial
Dalam konteks sosial, kurban sebenarnya memiliki makna jauh lebih luas dibanding sekadar ritual keagamaan.
Kurban merupakan bentuk distribusi kesejahteraan.
Melalui kurban, masyarakat mampu berbagi dengan kelompok yang jarang menikmati akses pangan layak.
Karena itu, distribusi kurban ke wilayah pedalaman menjadi langkah penting untuk memperkuat nilai keadilan sosial.
Program seperti yang dilakukan Dompet Dhuafa di Pulau Buru memperlihatkan bagaimana ibadah dapat memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.
Bukan hanya soal daging yang dibagikan, tetapi juga rasa kepedulian dan perhatian kepada wilayah yang selama ini minim sorotan.
Pelajaran Besar dari Wamana Baru
Desa kecil di pedalaman Pulau Buru itu mungkin jauh dari pusat kekuasaan dan gemerlap perkotaan.
Namun, masyarakatnya justru memberikan pelajaran besar tentang makna toleransi.
Mereka tidak memperdebatkan perbedaan agama.
Mereka tidak membangun tembok identitas.
Sebaliknya, mereka memilih hidup berdampingan dan saling membantu.
Dalam suasana dunia yang sering dipenuhi konflik identitas, kisah Wamana Baru menjadi contoh bahwa harmoni sosial masih mungkin dirawat.
Indonesia sesungguhnya memiliki modal sosial luar biasa berupa gotong royong dan persaudaraan.
Nilai-nilai tersebut harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan arus individualisme modern.
Supersemar News Mencatat dari Pulau Buru
Liputan ini memperlihatkan bahwa berita baik masih tumbuh di pelosok Indonesia.
Di tengah berbagai persoalan nasional, masyarakat kecil di pedalaman justru menunjukkan wajah Indonesia yang sesungguhnya.
Mereka hidup sederhana, tetapi penuh rasa kemanusiaan.
Mereka memiliki keterbatasan ekonomi, tetapi tetap mau berbagi.
Mereka berbeda keyakinan, tetapi tetap saling membantu.
Kisah dari Pulau Buru menjadi pengingat bahwa persatuan bangsa tidak hanya dibangun melalui pidato politik ataupun slogan formal.
Persatuan justru lahir dari tindakan nyata masyarakat sehari-hari.
Dari rakit sederhana di Sungai Waengura, dari pembagian daging kurban tanpa diskriminasi, hingga dari senyum hangat warga pedalaman, Indonesia kembali menunjukkan jati dirinya.
Bahwa kemanusiaan selalu lebih besar dibanding perbedaan.
Momentum Idul Adha di Desa Wamana Baru, Pulau Buru, menjadi potret nyata tentang toleransi, solidaritas sosial, dan kemanusiaan di Indonesia.
Di tengah keterbatasan akses dan kondisi ekonomi yang belum merata, masyarakat tetap mampu menjaga persaudaraan lintas agama.
Distribusi kurban yang dilakukan tanpa membedakan keyakinan memperlihatkan bahwa nilai gotong royong masih hidup kuat di wilayah pedalaman.
Kisah ini sekaligus menjadi pesan penting bagi Indonesia bahwa harmoni sosial harus terus dirawat melalui tindakan nyata, bukan sekadar slogan.
Pulau Buru kini tidak lagi hanya dikenal karena sejarah kelam masa lalu.
Pulau itu juga layak dikenang sebagai simbol toleransi dan persaudaraan antarumat manusia.***(SB)
SupersemarNewsTeam
