
JAKARTA, Supersemar News – Seperti di film-film Hollywood, mari simak lagi kisah pembebasan kapal MV Sinar Kudus dari kawanan perompak di Somalia.
Indonesia ternyata pernah mengalami kisah menegangkan seperti di film Captain Phillips yang dibintangi Tom Hanks. Dari arsip pemberitaan detikcom yang dilihat Jumat (26/6/2026), semua bermula pada 16 Maret 2011 silam.
Saat itu, kapal niaga Indonesia MV Sinar Kudus yang dioperasikan PT Samudera Indonesia melintas di perairan Laut Arab. Kapal bermuatan ferro nikel itu berlayar dari Sulawesi menuju ke kota Rotterdam di Belanda.
Di tengah perjalanan, kapal itu dibajak oleh gerombolan perompak dari Somalia. Belasan WNI dan kapal seisinya dikuasai oleh gerombolan perompak. Operasi penyelamatan MV Sinar Kudus pun dimulai.
Pada 23 Maret 2011, melalui surat perintah Panglima TNI saat itu Laksamana Mar Agus Suhartono, Presiden SBY memberikan persetujuan untuk pelibatan dua KRI dari frigat, satu helikopter, dan pasukan khusus dari Denjaka Kormar TNI AL yang diperkuat unsur TNI lainnya.
Pada 25 Maret 2011, kapal MV Sinar Kudus ternyata sudah bersandar di Pantai El Dhahanan, Somalia. Posisi kapal saat itu hanya berjarak 1,5 nautical mile dari bibir pantai yang menjadi markas perompak yang cukup kuat.
Satgas yang dikomandani Dankormar Mayjen TNI (Mar) Alfan Baharudin serta pasukan Marinir Denjaka, Pasukan Katak, Tontaipur Kostrad, dan Kopassus sudah siap tempur. Tapi entah mengapa, penyergapan yang seharusnya dilakukan pada 15 April tak segera dilakukan.
Alasan utamanya karena proses negosiasi masih dilakukan, antara pihak perompak dan perusahaan terkait uang tebusan. Pada 30 April 2011 sesuai kesepakatan dengan para perompak ditentukan sebagai hari penyerahan uang.
Dengan menggunakan pesawat Antonov, tas uang dijatuhkan ke perairan di sekitar MV Sinar Kudus yang labuh jangkar di perairan Cheel Dhahanan, Laut Arab.
Total ada 35 perompak di kapal tersebut. Mereka meminta waktu untuk meninggalkan kapal Sinar Kudus sambil mengecek dan menghitung uang tebusan. Di pagi hari, para perompak akhirnya turun dari kapal itu.
Namun, para perompak itu malah seolah-olah akan menyerahkan kapal Sinar Kudus ke kapal perompak lainnya. Dansatgasus Merah Putih Mayjen TNI Alfan segera memberi perintah dari KRI Banjarmasin yang masih berjarak cukup jauh dari MV Sinar Kudus.
Dua kapal terdekat dari Sinar Kudus diminta mengerahkan sea rider dan heli untuk menghalau pembajak yang mendekat. Beruntung pasukan Denjaka datang tepat waktu. Mereka berhasil menghalau para perompak Somalia.
Sempat terjadi adegan tembak menembak seperti di film-film Hollywood, namun akhirnya kapal MV Sinar Kudus pun kembali dikuasai. 4 Perompak ditembak dan jatuh ke laut, jasadnya tak pernah ditemukan. Setelah itu, kapal Sinar Kudus akhirnya dikawal tentara sampai ke Rotterdam.
Operasi Pembebasan MV Sinar Kudus dalam Kajian Ilmiah
Dalam disertasi berjudul ‘Strategi Pertempuran Jarak Jauh Angkatan Laut dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP): Studi tentang Operasi Pembebasan MV Sinar Kudus oleh Tentara Nasional Indonesia’ karya Brigjen TNI Marinir Freddy Jhon Hamonangan Pardosi, operasi itu merupakan contoh nyata bagaimana Indonesia mampu menjalankan kekuatan maritim di luar kawasan strategisnya.
Operasi penyelamatan itu dilakukan di Laut Arab, ribuan kilometer dari wilayah Indonesia, dalam lingkungan yang dipenuhi kompleksitas hukum internasional, kehadiran armada berbagai negara, serta ancaman pembajakan.
Bagi Indonesia, pembajakan yang dilakukan para perompak itu bukan hanya masalah kriminalitas, tapi juga menyentuh aspek kedaulatan negara, perlindungan warga negara, keamanan perdagangan, hingga kredibilitas Indonesia sebagai negara maritim.
”Dalam perspektif hubungan internasional, ancaman pembajakan Somalia memiliki karakter berbeda dibanding ancaman militer konvensional. Musuh yang dihadapi bukan negara lain, melainkan kelompok non-negara yang memanfaatkan luasnya ruang laut, lemahnya pengawasan wilayah pesisir, serta celah hukum internasional,” kata Brigjen Pardosi.
Ancaman seperti itu kurang efektif jika menggunakan pendekatan militer tradisional. Indonesia memilih menggunakan kerangka Operasi Militer Selain Perang (OMSP)yang menggabungkan instrumen militer dengan pendekatan diplomasi, hukum, intelijen, dan komunikasi strategis.
Dalam disertasi tersebut, keberhasilan operasi dinilai tidak lahir dari superioritas kekuatan tempur semata, tapi kemampuan negara mengelola tiga dimensi sekaligus, yaitu waktu, ruang, dan kekuatan militer.
Pada dimensi waktu, Indonesia menunjukkan kemampuan merespons cepat tanpa kehilangan kendali terhadap eskalasi situasi. Pada dimensi ruang, operasi yang sangat jauh menuntut kemampuan logistik, dukungan intelijen, sistem komando dan kendali, serta koordinasi lintas lembaga yang kompleks.
Sedangkan pada dimensi kekuatan, Indonesia menggunakan kekuatan secara terukur mulai dari kapal perang, pasukan khusus, intelijen, dan kemampuan negosiasi bekerja secara simultan sesuai dengan tujuan.
Operasi pembebasan ini memiliki tujuan yang lebih besar, yakni melindungi warga negara Indonesia, menjaga keamanan jalur perdagangan internasional, memperkuat identitas sebagai negara maritim, serta meningkatkan kredibilitas Indonesia di mata dunia.
Brigjen Pardosi, yang turut serta dalam operasi pembebasan tersebut, menyimpulkan keberhasilan operasi tidak dapat diukur hanya dari jumlah kapal perang, kekuatan senjata, atau kecanggihan teknologi. Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan menyinkronkan operasi militer dengan tujuan nasional, diplomasi internasional, dan legitimasi politik domestik.
Sumber : detikTravel
