Djuari, Pemikul Tandu Jenderal Soedirman yang Terlupakan

- Jurnalis

Rabu, 11 Februari 2026 - 22:23 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Jejak Sunyi Pejuang dari Kediri yang Memanggul Harapan Kemerdekaan

SUPERSEMAR NEWS – Kediri, Jawa Timur

Di balik nama besar Jenderal Soedirman, Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia yang memimpin perang gerilya melawan Belanda dalam kondisi paru-paru tinggal sebelah, tersimpan kisah sunyi seorang rakyat biasa bernama Djuari.

Namanya nyaris tak pernah muncul dalam buku sejarah nasional. Namun justru di pundaknya, pernah bertumpu beban berat tandu sang jenderal — beban yang bukan hanya berupa tubuh seorang pemimpin, melainkan juga harapan kemerdekaan sebuah bangsa.

Kini, puluhan tahun setelah dentuman senjata berhenti, Djuari menjalani hari tuanya dalam kesederhanaan di Desa Goliman, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Rumahnya masih berlantai tanah. Tubuhnya semakin renta. Namun ingatannya tentang masa perjuangan tetap tajam.

Tidak ada piagam kehormatan di dinding rumahnya. Tidak pula monumen yang mencatat jasanya. Yang tersisa hanyalah kenangan, doa, dan kesetiaan yang ia simpan dalam hati.

Mengikuti Soedirman Sejak Usia 21 Tahun

Pertama-tama, Djuari bergabung dengan rombongan gerilya saat usianya baru menginjak 21 tahun. Ia muda, kuat, dan penuh semangat juang. Bersama tiga rekannya — Karso, Wato, dan Joyo — Djuari mendapat tugas yang sangat berat sekaligus mulia: memikul tandu Jenderal Soedirman selama perang gerilya tahun 1948.

Perjalanan mereka dimulai dari Desa Magarsari Majulan, Kecamatan Majeret, Kabupaten Nganjuk. Dari titik itu, rombongan kecil bergerak menembus:

  • Bukit terjal
  • Hutan lebat
  • Sungai dingin
  • Jalur tikus yang gelap

Semuanya dilakukan sambil menghindari patroli tentara Belanda.

Baca Juga :  Sidang Gugatan Ijazah Gibran, Hakim MK Arsul Sani Kutip Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 13 soal Perang Badar

Dengan kata lain, setiap langkah yang mereka ambil bisa menjadi langkah terakhir.

Namun demikian, tak ada rasa gentar di wajah Djuari.

“Mikul Pak Dirman… saya ingat betul. Susah, tapi kami senang bisa ikut berjuang,” ujar Djuari lirih.

Menyusuri Jalur Gerilya di Bawah Ancaman Senjata

Selanjutnya, rombongan Jenderal Soedirman dikawal oleh para perwira tangguh seperti Tjokropranolo, Supardjo Rustam, Suwondo, dan Heru Tjokro.

Setiap malam mereka berjalan dalam sunyi. Pada siang hari mereka bersembunyi. Jika terdengar suara pesawat atau tembakan, rombongan langsung berpencar.

Dalam situasi itu, Djuari tetap memanggul tandu.

Tidak pernah sekalipun ia mengeluh.

Padahal berat badan sang jenderal ditambah tandu kayu serta perlengkapan medis bisa mencapai puluhan kilogram.

Akan tetapi, bagi Djuari, tugas itu bukan sekadar kerja fisik.

Itu adalah pengabdian.

Selendang dari Panglima Besar

Sebagai bentuk penghargaan, Jenderal Soedirman pernah menghadiahkan selendang panjang kepada Djuari dan rekan-rekannya.

Bukan emas. Bukan uang.

Hanya sehelai kain.

Namun bagi mereka, selendang itu adalah simbol kasih seorang pemimpin kepada rakyat kecil yang ikut mempertaruhkan nyawa demi republik.

“Walaupun saya cuma pemikul, saya senang. Semua saya lakukan ikhlas, tanpa imbalan,” kata Djuari sambil tersenyum.

Hidup Sederhana, Tanpa Gelar, Tanpa Pengakuan

Seiring waktu, Indonesia merdeka.

Nama-nama besar tercatat dalam sejarah.

Namun Djuari kembali menjadi rakyat biasa.

Ia tidak pernah mengajukan klaim sebagai veteran resmi. Ia tidak mengejar kompensasi negara. Bahkan banyak tetangganya tidak tahu bahwa lelaki tua itu pernah ikut mengangkat tandu Panglima Besar Republik Indonesia.

Baca Juga :  Pakde Slamet: 10 Tahun Bersama Tukul Arwana, Ini Pelajaran Hidupnya!

Ironisnya, negara kerap melupakan para pejuang akar rumput seperti Djuari.

Padahal tanpa mereka, jalur gerilya Soedirman mungkin tak pernah terlewati.

Investigasi: Mengapa Nama Djuari Tak Tercatat?

Berdasarkan penelusuran SUPERSEMAR NEWS, banyak pemikul tandu dan pengawal sipil dalam perang gerilya 1948 tidak tercatat dalam arsip resmi militer.

Penyebabnya antara lain:

  1. Tidak adanya sistem pendataan terpadu saat perang
  2. Status mereka sebagai warga sipil
  3. Fokus historiografi hanya pada elite militer

Akibatnya, ribuan pejuang lapangan kehilangan ruang dalam narasi sejarah nasional.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Lebih jauh, kisah Djuari menjadi potret nyata bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya diperjuangkan oleh jenderal dan perwira.

Kemerdekaan lahir dari keringat rakyat kecil.

Dari petani.

Dari buruh.

Dari pemikul tandu.

Mereka tidak tercatat, tetapi mereka hadir.

Mereka tidak disebut, tetapi mereka berkorban.

Refleksi untuk Generasi Muda

Di tengah maraknya konten viral dan euforia digital, kisah Djuari mengajarkan arti pengabdian tanpa pamrih.

Ia tidak menuntut.

Ia tidak meminta.

Ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar untuk bangsa.

Dan mungkin, justru di sanalah makna patriotisme sejati berada.

Penutup

Djuari mungkin tidak tercantum dalam buku sejarah.

Namun jejaknya tertanam di setiap langkah gerilya Jenderal Soedirman.

Ia adalah saksi hidup bahwa republik ini berdiri di atas bahu rakyat kecil.

Dan selama kisahnya masih kita ceritakan, Djuari tidak pernah benar-benar terlupakan.***(SB)

SupersemarNewsTeam

Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolda Metro Jaya Pimpin Rapat Konsolidasi, Perkuat Antisipasi Gangguan Kamtibmas di Jakarta
Kapolda Metro Jaya Pimpin Apel Green Policing, Perkuat Sinergi Polri dan Masyarakat
Kodam XXIX/Mambruk Resmi Berdiri di Nabire, Perkuat Pertanahan dan Pengabdian TNI AD di Papua Tengah
Kecelakaan di Simpang Pelita-Suprapto Sampit, Yamaha Lexi Rusak Parah Usai Terseret Truk CPO
Prajurit Korps Marinir Gempur Pantai Banongan dalam Operasi Amfibi Keris Woomera 2026
Marinir Indonesia Bekali Prajurit Australia Teknik Bertahan Hidup di Hutan
Dampak Ekonomi MotoGP Mandalika 2026 Capai Rp 5,2 Triliun, Naik 4,8 Persen
Perkuat Struktur Komando, KSAD Pimpin Sertijab 5 Pangdam dan Alih Kodal 6 Korem
Berita ini 2 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Kapolda Metro Jaya Pimpin Rapat Konsolidasi, Perkuat Antisipasi Gangguan Kamtibmas di Jakarta

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:10 WIB

Kapolda Metro Jaya Pimpin Apel Green Policing, Perkuat Sinergi Polri dan Masyarakat

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:46 WIB

Kodam XXIX/Mambruk Resmi Berdiri di Nabire, Perkuat Pertanahan dan Pengabdian TNI AD di Papua Tengah

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:45 WIB

Kecelakaan di Simpang Pelita-Suprapto Sampit, Yamaha Lexi Rusak Parah Usai Terseret Truk CPO

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:43 WIB

Prajurit Korps Marinir Gempur Pantai Banongan dalam Operasi Amfibi Keris Woomera 2026

Berita Terbaru