
Cirebon, Supersemar News – Kunjungan Ketua Umum Himpunan Petani Merah Putih (HIPMAPI), H. M. Gunther Gemparalam, ke wilayah Cirebon pada Jumat, 14 Agustus 2026, bukan sekadar agenda organisasi. Kegiatan tersebut berkembang menjadi momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi petani, mempertegas arah perjuangan ketahanan pangan nasional, serta membuka ruang dialog antara organisasi, akademisi, dan pelaku pertanian di daerah.
Di sela-sela rangkaian kegiatan, Rifay Marzuki, CEO Faytastic Pro sekaligus Dewan Pembina Supersemar News, memperoleh kesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Prof. Dr. H. Sugianto, Koordinator HIPMAPI Cirebon, dan Prof. Nurlela, akademisi sekaligus praktisi pertanian hortikultura yang dikenal sebagai ahli budidaya melon di Kabupaten Cirebon.
Wawancara tersebut menghadirkan gambaran nyata mengenai kondisi petani, tantangan biaya produksi, serta pentingnya penguatan organisasi sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
Penguatan organisasi sebagai langkah strategis
Menurut Prof. Dr. H. Sugianto, kehadiran Ketua Umum HIPMAPI beserta jajaran pengurus pusat disambut sangat positif oleh masyarakat dan kalangan petani Cirebon.
Ia menegaskan bahwa agenda utama kunjungan adalah pengukuhan dan penguatan organisasi HIPMAPI, sekaligus peninjauan kawasan perkebunan milik Prof. Nurlela yang menjadi salah satu contoh pengembangan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi.
“Ini adalah wujud kecintaan masyarakat terhadap cita-cita pemerintah. Ketahanan pangan harus diperkuat. HIPMAPI harus bersinergi dengan pemerintah pusat maupun daerah agar kesejahteraan petani benar-benar meningkat,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa organisasi petani tidak cukup hanya menjadi wadah administratif. HIPMAPI didorong menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang mampu menghubungkan petani dengan kebijakan, teknologi, pasar, dan pembiayaan.
Dalam konteks nasional, penguatan organisasi petani sejalan dengan arah pembangunan pertanian yang menekankan produktivitas, efisiensi, dan keberlanjutan.
Ketahanan pangan bukan sekadar slogan
Lebih lanjut, Prof. Sugianto mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak boleh berhenti pada level wacana.
Ia menilai bahwa tujuan utama pembangunan pertanian harus berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
“Yang paling utama adalah bagaimana masyarakat sejahtera untuk kepentingan bangsa dan negara,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mengandung kritik yang penting. Selama ini, berbagai program pertanian sering kali berfokus pada peningkatan produksi, tetapi belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan pendapatan petani.
Artinya, keberhasilan sektor pertanian tidak cukup diukur dari jumlah panen, melainkan juga dari peningkatan kualitas hidup petani.
Karena itu, sinergi antara HIPMAPI dan pemerintah menjadi kebutuhan mendesak agar kebijakan pertanian benar-benar menyentuh persoalan di lapangan.
Potret petani Cirebon yang perlu perhatian serius

Sementara itu, Prof. Nurlela memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai kondisi petani di Desa Cisaat, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon.
Dalam wawancara eksklusif bersama Rifay Marzuki, ia menyampaikan bahwa kesejahteraan petani masih jauh dari ideal.
“Kalau saya melihat bahwa kehidupan petani di sini tidak terlalu menjanjikan dari sisi kesejahteraan,” ungkapnya.
Menurutnya, sebagian besar petani hidup dalam keterbatasan.
Mereka tetap bersyukur karena memiliki lahan dan pekerjaan di kampung, tetapi kondisi tersebut tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima tanpa upaya perbaikan.
Justru di sinilah organisasi seperti HIPMAPI diharapkan hadir sebagai mediator dan penggerak perubahan.
Ia menyambut baik kehadiran Ketua Umum HIPMAPI karena berharap organisasi tersebut mampu menjembatani kebutuhan petani dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan sektor pembiayaan.

Diversifikasi pertanian sebagai solusi ekonomi
Salah satu poin menarik dari wawancara tersebut adalah penjelasan mengenai diversifikasi usaha tani.
Prof. Nurlela menjelaskan bahwa kawasan pertaniannya kini mengembangkan berbagai komoditas hortikultura, seperti melon, selada, dan cabai.
Pengembangan tersebut dilakukan karena budidaya padi dinilai semakin sulit memberikan peningkatan pendapatan yang memadai.
Menurutnya, komoditas hortikultura memiliki beberapa keunggulan.
Pertama, masa tanam relatif singkat.
Kedua, potensi nilai tambah lebih tinggi.
Ketiga, modal awal tidak selalu sebesar yang dibutuhkan untuk usaha pertanian skala besar.
Namun demikian, diversifikasi bukan tanpa tantangan.
Ancaman kenaikan biaya produksi
Persoalan terbesar yang dihadapi petani saat ini adalah kenaikan harga sarana produksi pertanian, terutama obat-obatan dan pestisida.
Prof. Nurlela mengungkapkan bahwa biaya pembelian obat-obatan meningkat sangat signifikan.
“Obat-obatan itu memang sangat luar biasa mahal. Kenaikannya terlihat sekali,” ujarnya.
Kondisi tersebut menyebabkan keuntungan petani terus tertekan.
Pendapatan meningkat belum tentu diikuti oleh peningkatan laba karena biaya produksi naik lebih cepat.
Fenomena ini menjadi persoalan nasional yang memerlukan intervensi kebijakan.
Apabila harga input pertanian terus meningkat tanpa pengendalian, maka petani akan semakin sulit meningkatkan kesejahteraan.
Pertanian sebagai pencipta lapangan kerja
Selain aspek ekonomi, Prof. Nurlela juga menyoroti fungsi sosial pertanian.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan budidaya tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga memberikan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
Keberadaan kebun hortikultura menciptakan kesempatan kerja bagi para pekerja desa.
Dengan demikian, pertanian memiliki efek berganda terhadap perekonomian lokal.
Apabila usaha tani berkembang, maka pendapatan pekerja meningkat, konsumsi masyarakat bertambah, dan aktivitas ekonomi desa menjadi lebih dinamis.
Pandangan ini memperlihatkan bahwa investasi di sektor pertanian sebenarnya merupakan investasi terhadap pembangunan pedesaan secara keseluruhan.
Peran HIPMAPI dalam ekosistem pertanian modern
Kunjungan Ketua Umum HIPMAPI ke Cirebon memperlihatkan arah baru organisasi petani.
HIPMAPI tidak hanya berbicara mengenai kepentingan internal organisasi, tetapi juga mencoba membangun ekosistem pertanian modern.
Ekosistem tersebut mencakup penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas petani, diversifikasi komoditas, akses teknologi, kemitraan usaha, dan advokasi kebijakan.
Model seperti ini penting karena tantangan pertanian saat ini semakin kompleks.
Petani menghadapi perubahan iklim, fluktuasi harga, keterbatasan modal, rendahnya regenerasi petani, hingga persaingan pasar.
Oleh karena itu, organisasi petani harus mampu bertransformasi menjadi lembaga yang adaptif dan inovatif.
Wawancara eksklusif yang mengungkap realitas lapangan
Wawancara yang dilakukan Rifay Marzuki memiliki nilai jurnalistik yang penting.
Percakapan tersebut tidak berhenti pada seremoni kunjungan, tetapi berhasil mengangkat realitas yang dihadapi petani di tingkat akar rumput.
Prof. Sugianto menekankan pentingnya penguatan organisasi dan sinergi kebijakan.
Sementara Prof. Nurlela mengungkap persoalan kesejahteraan, biaya produksi, serta kebutuhan peningkatan pendapatan petani.
Kombinasi kedua perspektif tersebut memberikan gambaran yang utuh mengenai kondisi pertanian di Cirebon.
Pendekatan seperti ini sejalan dengan fungsi media sebagai penyampai informasi sekaligus pengawas kebijakan publik.
Momentum memperkuat ketahanan pangan nasional
Dari seluruh rangkaian kunjungan tersebut, terdapat satu pesan yang paling kuat, yaitu ketahanan pangan harus dibangun dari desa.
Petani merupakan aktor utama dalam sistem pangan nasional.
Tanpa kesejahteraan petani, ketahanan pangan akan sulit diwujudkan secara berkelanjutan.
Karena itu, penguatan organisasi, peningkatan produktivitas, efisiensi biaya produksi, diversifikasi komoditas, dan kemitraan strategis harus berjalan secara bersamaan.
Kunjungan Ketua Umum HIPMAPI H. M. Gunther Gemparalam ke Cirebon menunjukkan bahwa organisasi petani dapat menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat dan arah kebijakan nasional.
Sementara itu, wawancara eksklusif Rifay Marzuki dengan Prof. Dr. H. Sugianto dan Prof. Nurlela mempertegas bahwa perjuangan ketahanan pangan bukan sekadar persoalan produksi, melainkan juga perjuangan menghadirkan keadilan ekonomi bagi petani Indonesia.
Apabila rekomendasi yang muncul dari dialog tersebut ditindaklanjuti secara serius, maka Cirebon dapat menjadi salah satu model penguatan organisasi petani dan pengembangan hortikultura yang mendukung visi besar Indonesia menuju ketahanan pangan yang tangguh dan kesejahteraan petani yang berkelanjutan.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
Editor : Sangga Buana
Sumber : Supersemar News
