Di hadapan para kiai sepuh dan pengurus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Gus Yahya menegaskan bahwa seluruh dinamika dan kisruh PBNU harus diselesaikan melalui mekanisme organisasi dan klarifikasi terbuka sebagaimana ia sampaikan dalam forum resmi tersebut.

SUPERSEMAR NEWS – Jakarta. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H. Yahya Cholil Staquf akhirnya memberikan penjelasan terbuka di hadapan para kiai sepuh di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, terkait memanasnya dinamika internal organisasi. Pertemuan tersebut berlangsung sebagai bentuk penghormatan sekaligus respons langsung atas panggilan para pinisepuh NU yang ingin mendengar duduk perkara kisruh PBNU dari sumber pertama.

Dalam forum resmi tersebut, Gus Yahya datang dengan membawa setumpuk dokumen yang berisi klarifikasi serta catatan kronologis lengkap. Ia berharap pertemuan di Tebuireng bisa menjadi titik terang untuk meredakan ketegangan internal yang sempat mendapat sorotan publik dalam beberapa pekan terakhir.

Pertemuan di Tebuireng juga merupakan tindak lanjut dari sejumlah kegiatan silaturahim dan konsolidasi yang sebelumnya dilakukan para tokoh Nahdliyin di beberapa pesantren besar wilayah Jawa Timur. Situasi PBNU yang tengah menjadi sorotan membuat para sesepuh merasa perlu turun langsung memberikan panduan dan arahan, agar konflik internal tidak semakin melebar dan mengganggu stabilitas organisasi.

Penjelasan Langsung Gus Yahya di Hadapan Para Sesepuh

Dalam keterangannya, Gus Yahya menegaskan bahwa kedatangannya ke Pesantren Tebuireng merupakan bentuk kepatuhan terhadap panggilan para sesepuh NU. Ia hadir bersama sejumlah pengurus PBNU untuk menyampaikan laporan apa adanya mengenai dinamika yang terjadi.

“Para pinisepuh, para sesepuh memanggil saya dan saya datang. Apa pun yang diminta saya siap, dan apa pun yang ditanyakan saya siap jawab,” ujar Gus Yahya saat memberikan keterangan.

Gus Yahya menjelaskan bahwa dokumen klarifikasi yang ia bawa telah disusun secara lengkap dan sistematis. Dokumen setebal satu tas itu berisi kronologi, dasar kebijakan, serta catatan internal yang menjelaskan latar belakang munculnya kisruh PBNU. Ia berharap proses tabayyun bersama para sesepuh dapat menjadi pintu masuk penyelesaian yang baik.

Menurutnya, upaya membuka diri dan melakukan klarifikasi langsung adalah langkah penting untuk mencegah misinformasi dan memperkuat etika organisasi. Ia meyakini bahwa penyelesaian akan lebih mudah ditempuh ketika para sesepuh dilibatkan secara langsung.

Sikap Tegas Syuriah PBNU: Keputusan Sudah Final

Sementara itu, Rais Syuriyah PBNU K.H. Mohammad Nuh yang turut hadir menyampaikan bahwa dirinya diutus untuk mewakili Rois Aam dan Wakil Rois Aam PBNU yang pada waktu bersamaan sedang menghadiri agenda lain. Ia datang ke Tebuireng untuk menyampaikan laporan objektif mengenai kondisi internal organisasi.

“Tugas saya menyampaikan apa adanya yang sedang terjadi. Forum ini sangat baik sebagai tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya, termasuk di Pesantren Al Falah Ploso,” kata KH. Mohammad Nuh.

Ia menegaskan bahwa dari sisi Syuriah PBNU, keputusan organisasi sebenarnya sudah selesai dibahas dan telah bersifat final. Keputusan tersebut mencakup penetapan adanya kesalahan serta pemberian sanksi organisasi sesuai mekanisme internal PBNU.

“Konteksnya adalah adanya kesalahan dan sanksi. Tidak ada perselisihan individu. Dari kesalahan tersebut akhirnya diberikan sanksi,” ujarnya menegaskan.

KH. Mohammad Nuh juga menyampaikan bahwa Rois Aam PBNU sebelumnya telah menjelaskan secara detail dalam pertemuan internal di PWNU Jawa Timur. Rapat tersebut turut dihadiri para sepuh yang memberikan pandangan normatif agar roda organisasi kembali berjalan stabil dan tidak menimbulkan kegaduhan publik.

Forum Tebuireng Jadi Ruang Evaluasi dan Tabayyun

Pertemuan di Tebuireng berjalan hangat dan dikemas dalam suasana penuh hormat. Para sesepuh yang hadir memberikan pandangan konstruktif sekaligus mengingatkan agar setiap persoalan dalam PBNU diselesaikan berdasarkan peraturan organisasi, bukan melalui opini publik.

Beberapa tokoh sepuh yang hadir antara lain:

  • K.H. Anwar Manshur, Pengasuh Pesantren Lirboyo
  • K.H. Said Aqil Siroj, Mantan Ketua Umum PBNU
  • Para pengasuh pesantren besar dari berbagai wilayah
  • Para senior dan tokoh-tokoh NU yang selama ini memegang peran strategis

Para sesepuh menilai bahwa dinamika PBNU beberapa waktu terakhir tidak boleh dibiarkan terus melebar sehingga berpotensi mengganggu stabilitas organisasi dan kepercayaan jamaah. Karena itu, seluruh tokoh sepakat bahwa forum Tebuireng menjadi ruang tabayyun penting untuk menetapkan arah penyelesaian.

Rencana Pleno PBNU 9 Desember: Penunjukan Pj Ketua

Salah satu poin penting dari pembahasan adalah rencana pleno PBNU pada 9 Desember 2025. Dalam pleno tersebut, PBNU akan membahas penunjukan Penjabat (Pj) Ketua PBNU yang baru sebagai langkah penyegaran struktur dan penataan organisasi.

Rencana pleno ini menjadi sorotan karena akan menentukan arah kebijakan PBNU ke depan, termasuk bagaimana organisasi merespons berbagai tantangan internal dan eksternal di tengah dinamika sosial-politik nasional.

KH. Mohammad Nuh menyampaikan bahwa sekecil apa pun peluang penyelesaian masalah harus dimanfaatkan demi kebaikan organisasi:

“Para sesepuh memberikan pandangan agar setiap peluang kebaikan untuk NU harus ditindaklanjuti.”

Proses Klarifikasi Menjadi Jalan Tengah

Pertemuan Tebuireng menunjukkan bahwa NU tetap menjunjung tinggi mekanisme musyawarah serta budaya tabayyun. Transparansi yang dilakukan Gus Yahya menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketegangan dan memperkuat kembali kepercayaan antarlembaga di tubuh PBNU.

Langkah membuka dokumen internal menunjukkan kesediaan PBNU untuk menjalankan prinsip akuntabilitas. Selain itu, forum tebuka seperti di Tebuireng memberikan ruang kepada para sepuh untuk memberikan arahan berdasarkan pengalaman dan kedalaman ilmu.

Dengan demikian, proses klarifikasi ini tidak hanya sebagai pertemuan rutin, tetapi menjadi bagian penting dari sistem penyelesaian konflik organisasi yang lebih besar.

Para Sesepuh Serukan Penyelesaian yang Bermartabat

Para sesepuh yang hadir juga berpesan bahwa dinamika di PBNU harus tetap disikapi secara proporsional. NU sebagai organisasi besar dengan jutaan pengikut memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga stabilitas sosial dan tidak terjebak dalam konflik internal berkepanjangan.

Di antara pesan para sesepuh adalah:

  1. Mengutamakan mekanisme organisasi
  2. Menghindari publikasi berlebihan terhadap konflik internal
  3. Menjaga marwah NU sebagai organisasi keagamaan
  4. Mengutamakan kemaslahatan jamaah di atas kepentingan personal

Pesan-pesan tersebut memberi gambaran bahwa para sesepuh ingin NU kembali berada pada relnya sebagai organisasi yang menebarkan moderasi dan kesejukan di tengah masyarakat.

Ziarah ke Makam Mbah Hasyim: Simbol Memohon Keberkahan

Usai pertemuan, para tokoh yang hadir melakukan ziarah ke makam K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Ziarah tersebut menjadi simbol bahwa setiap persoalan organisasi harus dikembalikan kepada nilai-nilai perjuangan para muassis.

Ziarah ini juga menegaskan bahwa penyelesaian masalah di PBNU harus tetap mengedepankan etika, kebijaksanaan, serta nilai-nilai khidmah sebagaimana diajarkan para pendiri NU.

Dinamika PBNU Diprediksi Masuki Babak Baru

Dengan adanya rencana pleno pada 9 Desember, tanda-tanda penyelesaian kisruh PBNU mulai terlihat jelas. Pertemuan Tebuireng menjadi momentum penting yang menggerakkan proses penyelesaian menuju babak baru organisasi.

Para sesepuh juga menekankan agar seluruh pihak menahan diri, tidak membuat pernyataan yang memperkeruh suasana, dan tetap mengedepankan langkah organisasi.

Jika seluruh rekomendasi dan arahan sesepuh diikuti, maka PBNU berpotensi kembali solid dan fokus menjalankan agenda keumatan serta kontribusi sosialnya yang besar bagi bangsa.

Tabayyun dan Musyawarah Menjadi Jalan Tengah

Pertemuan Tebuireng membuktikan bahwa mekanisme tabayyun tetap menjadi kekuatan utama NU dalam menyelesaikan persoalan organisasi. Gus Yahya yang datang memenuhi panggilan para kiai sepuh menunjukkan sikap tawadhu’ sekaligus komitmen terhadap prinsip musyawarah.

Sementara itu, sikap tegas Syuriah PBNU mengenai finalnya keputusan organisasi menjadi titik fokus dalam penyelarasan langkah organisasi.

Keseluruhan proses ini menunjukkan bahwa NU memiliki mekanisme internal yang matang untuk meredam konflik dan memulihkan stabilitas organisasi. Dengan rencana pleno mendatang, PBNU memasuki fase baru dalam upaya mengembalikan khidmah organisasi ke arah yang lebih konstruktif, damai, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.***(SB)

SupersemarNewsTeam
Reporter  :  R/ Rifay Marzuki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *