HIPMAPI Perkuat Ketahanan Pangan dan Energi Nasional Indonesia

- Jurnalis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 07:45 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif


Poster Sarasehan Nasional HIPMAPI (Himpunan Petani Merah Putih) dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 yang digelar di Universitas Sahid, Jakarta, pada 3 Agustus 2026. Kegiatan nasional ini mengangkat tema penguatan jejaring petani, ketahanan pangan nasional, ketahanan energi, dan pembangunan ekosistem pertanian tangguh sebagai dukungan terhadap Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Sarasehan menghadirkan narasumber terkemuka, di antaranya Dr. Bahar Buasan, S.T., M.S.M., M.Sc. (B-34), Anggota DPD RI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Prof. Dr. Ir. Gayatmi, M.Si., Rektor Universitas Sahid, Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., serta tokoh nasional dan akademisi lainnya, dengan peserta dari 38 provinsi melalui Zoom Meeting
.

HIPMAPI Tegaskan Komitmen Membangun Ketahanan Pangan, Energi, dan Air Bersih Nasional

JAKARTA – Supersemar News – Momentum 81 Tahun Hari Ulang Tahun Republik Indonesia menjadi titik strategis bagi penguatan ketahanan nasional. Di tengah tantangan global, transisi energi, perubahan iklim, dan ketidakpastian ekonomi dunia, Himpunan Petani Merah Putih (HIPMAPI) menegaskan komitmennya untuk memperkuat ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan air bersih melalui kolaborasi lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat di seluruh Indonesia.

Komitmen tersebut mengemuka dalam wawancara eksklusif Rifay Marzuki, CEO Faytastic Pro sekaligus Dewan Pembina Supersemar News, bersama tiga tokoh nasional di Universitas Sahid Jakarta, Senin (3/8/2026), yakni Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., Anggota Pemangku Kepentingan Bidang Akademik, Prof. Dr. Ir. Gayatmi, M.Si., Rektor Universitas Sahid, serta Dr. Bahar Buasan, S.T., M.S.M., M.Sc. (B-34), Anggota DPD RI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus Wakil Ketua II Komite I DPD RI.

Ketiga narasumber menyampaikan pandangan yang saling melengkapi. Mereka tidak hanya menyoroti pentingnya pertanian sebagai fondasi ekonomi nasional, tetapi juga menekankan perlunya transformasi menuju bioenergi, penguatan sumber daya manusia (SDM), riset, manajemen modern, dan kolaborasi nasional.

Prof. Johni Jonatan Numberi: HIPMAPI Selaras dengan Asta Cita Presiden

Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, M.Eng., IPM., ASEAN Eng. menilai kegiatan HIPMAPI memiliki nilai strategis karena sejalan dengan arah pembangunan nasional. Menurutnya, penyelenggaraan diskusi nasional yang melibatkan peserta dari 38 provinsi menunjukkan bahwa organisasi ini tidak sekadar membangun jaringan, tetapi juga membentuk ekosistem pemikiran yang mendukung kebijakan pemerintah.

Ia menegaskan bahwa kegiatan HIPMAPI sejalan dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya poin kedua mengenai ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketersediaan air bersih.

“Saya melihat kegiatan yang dilakukan HIPMAPI sangat baik karena momentum ini memperingati 81 tahun HUT Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu, kegiatan ini mendukung kebijakan energi nasional dan program pemerintah,” tegas Prof. Johni.

Baca Juga :  Jenderal Agus Subiyanto Pimpin Sertijab Wapang dan KSAD di Cilangkap

Menurutnya, diskusi nasional harus menghasilkan tindak lanjut konkret. Sebab, Indonesia memerlukan langkah nyata yang mampu memperkuat ketahanan regional di setiap wilayah.

Swasembada Energi Harus Dimulai dari Lahan Pertanian

Prof. Johni memberikan penekanan khusus pada pengembangan tanaman penghasil energi. Ia menilai sektor pertanian tidak boleh hanya dipandang sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai sumber energi terbarukan.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah mendorong mandatori biodiesel 50 persen (B50) yang berbasis kelapa sawit. Selain itu, pemerintah juga mengembangkan bioetanol dari berbagai komoditas pertanian.

Komoditas seperti tebu, singkong, ubi, dan sagu dinilai memiliki potensi besar sebagai bahan baku bioetanol yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

“Kita harus mendorong swasembada energi melalui usaha-usaha pertanian. Tanaman-tanaman penghasil energi menjadi kekuatan baru Indonesia,” ujarnya.

Pandangan ini sejalan dengan arah transisi energi nasional yang mendorong pemanfaatan energi berbasis sumber daya domestik.

Ketua Umum HIPMAPI menyerahkan cendera mata kepada Prof. Dr. Ir. Gayatmi, M.Si., Rektor Universitas Sahid (USAHID) sebagai bentuk apresiasi atas kolaborasi strategis dalam mendukung penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Momen yang berlangsung di Universitas Sahid Jakarta pada 3 Agustus 2026 ini menegaskan komitmen HIPMAPI dalam membangun sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat untuk mewujudkan pertanian Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing global.

Ketahanan Regional Menjadi Prioritas Nasional

Lebih lanjut, Prof. Johni menilai Indonesia memerlukan pendekatan berbasis wilayah. Karakteristik Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara tidak dapat disamakan.

Karena itu, pengembangan tanaman energi harus disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing.

Ia berharap HIPMAPI mampu menjadi penggerak yang menghubungkan pemerintah, akademisi, petani, komunitas, dan dunia usaha agar ketahanan pangan dan energi dapat dibangun secara merata.

Prof. Gayatmi: HIPMAPI Harus Bergerak dari Diskusi ke Aksi Nyata

Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Gayatmi, M.Si., Rektor Universitas Sahid, menilai HIPMAPI sedang memasuki fase penting sebagai organisasi yang baru berdiri.

Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak ditentukan oleh dokumen pendirian, melainkan oleh implementasi program.

“Dengan kegiatan ini semakin terlihat tujuan dan cita-cita HIPMAPI. Kalau hanya di atas kertas, masyarakat tidak akan melihat arah gerak organisasi,” ujarnya.

Ia mengapresiasi semangat para pengurus HIPMAPI yang mampu menyelenggarakan kegiatan nasional meskipun persiapannya relatif singkat.

Baca Juga :  PDM MUHAMMADIYAH KOTIM RESMIKAN RUMAH OKSIGEN GRATIS, PERKUAT LAYANAN KEMANUSIAAN BAGI MASYARAKAT

Optimisme Harus Diikuti Program Konkret

Prof. Gayatmi menegaskan bahwa optimisme harus diterjemahkan menjadi program nyata.

Menurutnya, diskusi nasional harus menghasilkan rekomendasi, pendampingan masyarakat, pendidikan petani, riset, dan inovasi teknologi.

“Ini langkah awal. Kalau langkah awal saja sudah baik, maka ke depan dengan perencanaan yang matang hasilnya akan jauh lebih besar,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa semangat Hari Kemerdekaan RI harus menjadi energi kolektif untuk membangun bangsa melalui sektor pertanian, pangan, dan energi.

Dr. Bahar Buasan: Indonesia Kaya, Tetapi Belum Maksimal Mengelola Kekayaan

Perspektif yang lebih tajam disampaikan Dr. Bahar Buasan, S.T., M.S.M., M.Sc. (B-34), Anggota DPD RI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Wakil Ketua II Komite I DPD RI.

Ia mengangkat tema potensi pertanian Indonesia dalam era globalisasi.

Menurutnya, persoalan utama Indonesia bukanlah kekurangan sumber daya alam, melainkan lemahnya pengelolaan.

“Indonesia sudah lama dikenal sebagai negara yang kaya raya. Tetapi kenyataannya masih banyak masyarakat yang miskin. Alam yang kaya tidak cukup membangun Indonesia tanpa SDM yang handal dan manajemen yang baik,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi kritik terhadap model pembangunan yang selama ini belum sepenuhnya mampu mengubah kekayaan alam menjadi kesejahteraan rakyat.

SDM, Keahlian, dan Manajemen Menjadi Kunci

Dr. Bahar menegaskan bahwa pertanian modern memerlukan pengetahuan, keahlian, pengalaman, dan ketekunan.

Ia mempertanyakan mengapa Indonesia yang memiliki sumber daya melimpah masih sering kalah bersaing dengan negara-negara yang wilayahnya jauh lebih kecil.

Menurutnya, terdapat aspek yang masih hilang dalam sistem pembangunan pertanian nasional.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun pertanian Indonesia melalui kolaborasi yang terstruktur.

Kolaborasi ABCGP: Formula Membangun Pertanian Indonesia

Salah satu gagasan paling penting yang disampaikan Dr. Bahar adalah konsep ABCGP, yaitu:

  • A (Academics): penguatan riset, ilmu pengetahuan, dan inovasi.
  • B (Business): keterlibatan dunia usaha dan investasi.
  • C (Community): pemberdayaan komunitas pertanian.
  • G (Government): dukungan kebijakan pemerintah.
  • P (Police): jaminan keamanan aktivitas pertanian.

Ia menegaskan bahwa keamanan pertanian sering diabaikan.

“Petani menanam, tetapi hasilnya dicuri. Petani bekerja, tetapi terganggu. Karena itu, keamanan menjadi bagian penting dalam pembangunan pertanian,” ujarnya.

HIPMAPI Harus Menjadi Organisasi Pengabdian

Di akhir wawancara, Dr. Bahar memberikan pesan yang sangat kuat.

Menurutnya, HIPMAPI harus mempertahankan karakter sebagai organisasi non-profit yang bekerja untuk kepentingan bangsa.

Ia menegaskan bahwa pengabdian kepada Indonesia tidak selalu diukur dengan keuntungan finansial.

“Walaupun tidak ada profit, walaupun tidak dibayar, kita bekerja untuk Indonesia,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan moral bahwa pembangunan pertanian membutuhkan semangat gotong royong, nasionalisme, dan pengabdian.

Supersemar News Menilai HIPMAPI Berpotensi Menjadi Gerakan Nasional

Dari keseluruhan paparan ketiga narasumber, terdapat benang merah yang sangat jelas.

Pertama, ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari ketahanan energi.

Kedua, bioenergi menjadi peluang strategis Indonesia.

Ketiga, penguatan SDM, riset, manajemen, dan kolaborasi merupakan prasyarat utama.

Keempat, HIPMAPI harus bergerak dari forum diskusi menuju gerakan nasional berbasis aksi nyata.

Indonesia memiliki modal besar berupa lahan, keanekaragaman hayati, dan jumlah penduduk produktif. Namun modal tersebut hanya akan menjadi potensi apabila dikelola melalui kebijakan yang konsisten, kelembagaan yang kuat, dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.

Momentum 81 tahun kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni.

Sebaliknya, seperti yang ditegaskan Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, M.Eng., IPM., ASEAN Eng., Prof. Dr. Ir. Gayatmi, M.Si., dan Dr. Bahar Buasan, S.T., M.S.M., M.Sc. (B-34), Indonesia harus menjadikan pertanian, bioenergi, dan kolaborasi nasional sebagai fondasi menuju kedaulatan pangan, kemandirian energi, dan kesejahteraan rakyat.***(SB)

SupersemarNewsTeam

Reporter : R/Rifay Marzuki

Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peduli Masyarakat, Polisi Fasilitasi Warga Palangka Raya Pelatihan Kerja Gratis
PP Polri Dukung Ketegasan Kapolri Tindak Oknum Lakukan Penyadapan Ilegal, Jaga Kepercayaan Masyarakat
Gugurnya Personel TNI dalam Misi Water Bombing di Seruyan, Kapolda Kalteng Berduka
Kapolda Kalteng Bersama Gubernur dan Pangdam Jenguk Korban Jatuhnya Helikopter di Seruyan
Diduga Delapan Tersangka Ditangkap di Palangka Raya, BB Ratusan Gram Sabu dan Ekstasi Dihancurkan Polisi
Ramai Pembeli, Pemilik Toko Ponsel di Palangka Raya Jadi Korban Pembelian Uang Palsu
Polres Kotim Gak Kasih Ampun, 3 Polsek Bergerak Serentak Berantas Narkoba
Polisi Gerebek Diduga Sarang Narkoba di Eks Golden Sampit, 31 Orang Diamankan
Berita ini 7 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 00:00 WIB

Peduli Masyarakat, Polisi Fasilitasi Warga Palangka Raya Pelatihan Kerja Gratis

Kamis, 5 November 2026 - 23:51 WIB

PP Polri Dukung Ketegasan Kapolri Tindak Oknum Lakukan Penyadapan Ilegal, Jaga Kepercayaan Masyarakat

Kamis, 5 November 2026 - 23:22 WIB

Gugurnya Personel TNI dalam Misi Water Bombing di Seruyan, Kapolda Kalteng Berduka

Kamis, 5 November 2026 - 23:19 WIB

Kapolda Kalteng Bersama Gubernur dan Pangdam Jenguk Korban Jatuhnya Helikopter di Seruyan

Kamis, 5 November 2026 - 23:04 WIB

Ramai Pembeli, Pemilik Toko Ponsel di Palangka Raya Jadi Korban Pembelian Uang Palsu

Berita Terbaru