
JAKARTA – Supersemar News | Ketua Umum Himpunan Petani Merah Putih Indonesia (HIPMAPI), H. M. Gunther Gemparalam, menegaskan bahwa kebangkitan sektor pertanian nasional harus dimulai dari penguatan karakter, kapasitas, dan martabat petani Indonesia. Penegasan tersebut disampaikan dalam wawancara eksklusif bersama Rifay Marzuki, CEO Faytastic Pro sekaligus Dewan Pembina Supersemar News, usai penyelenggaraan Sarasehan Nasional HIPMAPI yang digelar di Kampus Universitas Sahid (Usahid), Jakarta, pada 3 Agustus 2026.
Menurut H. M. Gunther Gemparalam, sarasehan nasional tersebut bukan sekadar forum diskusi, melainkan momentum strategis untuk membangkitkan semangat petani merah putih dalam menyongsong Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81. Ia menekankan bahwa Indonesia membutuhkan petani yang tangguh, unggul, mandiri, dan bermartabat sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.
“Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar. Kurang lebih berlangsung selama 2,5 jam. Peserta hadir dari 20 provinsi, mulai dari Aceh hingga Papua Selatan. Persiapannya hanya lima hari, tetapi semangat kebersamaan seluruh peserta luar biasa,” ujar H. M. Gunther Gemparalam.
Ia menilai keberhasilan penyelenggaraan sarasehan dalam waktu yang sangat singkat menunjukkan bahwa semangat nasionalisme di kalangan petani masih sangat kuat. Karena itu, HIPMAPI ingin menjadikan momentum tersebut sebagai titik awal konsolidasi nasional gerakan petani merah putih.
Sarasehan Nasional Jadi Konsolidasi Petani dari Aceh hingga Papua
Kehadiran peserta dari 20 provinsi menjadi indikator bahwa isu pertanian tidak lagi bersifat lokal, melainkan telah menjadi agenda nasional. Forum tersebut mempertemukan berbagai unsur petani, akademisi, pemerhati pertanian, serta generasi muda dalam satu ruang dialog.
Lebih lanjut, H. M. Gunther Gemparalam menegaskan bahwa HIPMAPI ingin membangun jaringan pertanian nasional yang saling terhubung. Dengan demikian, pertukaran pengetahuan, teknologi, benih, hingga model budidaya dapat dilakukan secara lebih efektif.
“Kami ingin semangat petani merah putih tetap membara. Petani Indonesia harus menjadi petani yang tangguh, unggul, dan bermartabat,” tegasnya.
Selain itu, ia menyampaikan bahwa tantangan utama yang masih dihadapi adalah persoalan teknis, terutama keterbatasan sinyal komunikasi di beberapa daerah. Kendala tersebut, menurutnya, menjadi hambatan dalam mempercepat koordinasi, distribusi informasi, dan pendampingan petani.
Namun demikian, HIPMAPI tidak ingin terjebak pada persoalan tersebut. Organisasi ini memilih bergerak cepat dengan memperluas kolaborasi bersama perguruan tinggi, lembaga riset, dan pemerintah.
Fokus pada Inovasi dan Riset Pertanian Nasional
Sebagai tindak lanjut dari Sarasehan Nasional, HIPMAPI dijadwalkan melakukan kunjungan ke Pusat Riset Nasional Agrobisnis pada Rabu, 5 Agustus 2026. Kunjungan tersebut bertujuan mempelajari secara langsung penerapan teknologi budidaya dan penggunaan sistem pemupukan yang lebih efisien.
H. M. Gunther Gemparalam menilai bahwa transformasi pertanian tidak dapat dilepaskan dari riset. Oleh karena itu, petani harus memiliki akses terhadap inovasi, teknologi, dan hasil penelitian.
“Kami akan melihat secara langsung bagaimana sistem budidaya diterapkan. Petani harus mendapatkan ilmu yang benar-benar bisa diterapkan di lapangan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendekatan ilmiah harus dipadukan dengan kearifan lokal. Indonesia memiliki keragaman agroekosistem yang sangat luas. Karena itu, model pertanian tidak bisa diseragamkan.
Menurutnya, setiap daerah memiliki karakter tanah, iklim, dan budaya bertani yang berbeda. Dengan demikian, strategi pengembangan pertanian harus berbasis wilayah.
Peluang Petani Daerah Harus Diperluas
Dalam wawancara tersebut, H. M. Gunther Gemparalam memberikan penekanan khusus terhadap pentingnya membuka peluang yang lebih besar bagi petani daerah.
Ia menilai bahwa banyak petani memiliki kemampuan dan pengalaman yang luar biasa, tetapi belum memperoleh akses terhadap teknologi, pembiayaan, pasar, dan pendampingan.
“Bagaimana petani di daerah diberikan peluang untuk mengembangkan pola tanam yang sesuai dengan kondisi alam Indonesia yang subur. Itu yang harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi kritik sekaligus ajakan kepada seluruh pemangku kepentingan agar pembangunan pertanian tidak hanya berpusat di wilayah tertentu.
Sebaliknya, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan organisasi masyarakat harus membangun ekosistem pertanian yang inklusif.
Dengan pendekatan tersebut, petani lokal tidak hanya menjadi produsen bahan pangan, tetapi juga pelaku utama dalam pengembangan komoditas unggulan daerah.
Regenerasi Petani Jadi Agenda Strategis

Salah satu poin penting yang disampaikan Ketua Umum HIPMAPI adalah pentingnya melibatkan generasi muda.
Menurut H. M. Gunther Gemparalam, masa depan pertanian Indonesia sangat bergantung pada keberhasilan regenerasi petani.
Ia mengajak kaum muda untuk tidak memandang sektor pertanian sebagai pekerjaan tradisional semata. Sebaliknya, pertanian harus dilihat sebagai sektor strategis yang mampu menghasilkan nilai tambah tinggi melalui inovasi, digitalisasi, dan agribisnis modern.
“Harapan kami, Sarasehan Nasional ini bisa mengajak seluruh masyarakat, petani, dan khususnya kaum muda untuk lebih concern terhadap pertanian Indonesia,” ungkapnya.
Ia menilai bahwa generasi muda memiliki kemampuan adaptasi teknologi yang sangat baik. Karena itu, mereka harus diberi ruang untuk mengembangkan pertanian berbasis data, kecerdasan buatan, dan sistem digital.
Kunjungan ke Sarolangun Jambi Perkuat Hortikultura
Selain agenda riset nasional, H. M. Gunther Gemparalam juga mengungkapkan bahwa dirinya menerima undangan dari Sarolangun, Jambi, untuk meninjau hasil budidaya kacang polong yang telah ditanam pada bulan sebelumnya.
Kunjungan tersebut dijadwalkan pada 7 Agustus 2026.
Menurutnya, agenda tersebut berkaitan dengan pengembangan hortikultura dan evaluasi produktivitas komoditas yang berpotensi meningkatkan pendapatan petani.
“Insya Allah tanggal 7 Agustus saya diundang ke Sarolangun, Jambi, untuk melihat hasil penanaman kacang polong dan pengembangan hortikultura,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa HIPMAPI tidak hanya berbicara di tingkat konsep, tetapi juga melakukan pendampingan langsung di lapangan.
Dengan demikian, setiap program dapat diukur berdasarkan hasil nyata.
Mars HIPMAPI Resmi Dikumandangkan
Momentum penting lainnya adalah dikumandangkannya Mars HIPMAPI untuk pertama kalinya pada awal Agustus 2026 melalui Sarasehan Nasional dalam rangka memperingati HUT RI ke-81.
Bagi H. M. Gunther Gemparalam, Mars HIPMAPI bukan sekadar lagu organisasi.
Lebih dari itu, mars tersebut menjadi simbol semangat persatuan, nasionalisme, dan pengabdian petani terhadap bangsa.
Ia berharap Mars HIPMAPI dapat menjadi energi kolektif bagi seluruh anggota organisasi di berbagai daerah.
“Ini adalah bagian dari upaya membangun identitas petani merah putih. Semangat kebangsaan harus terus hidup di sektor pertanian,” tegasnya.
Pertanian Harus Menjadi Gerakan Kebangsaan
Di akhir wawancara, H. M. Gunther Gemparalam menyampaikan harapan agar Indonesia benar-benar mampu mewujudkan cita-cita gemah ripah loh jinawi.
Menurutnya, ungkapan tersebut tidak boleh berhenti sebagai slogan budaya.
Sebaliknya, harus diwujudkan melalui kebijakan yang berpihak kepada petani, penguatan riset, akses teknologi, pembiayaan yang adil, dan regenerasi petani.
Ia menekankan bahwa pertanian adalah sektor strategis yang menentukan kedaulatan pangan, stabilitas ekonomi, dan masa depan bangsa.
Karena itu, seluruh elemen masyarakat harus memberikan perhatian yang lebih serius terhadap pembangunan pertanian.
Sarasehan Nasional HIPMAPI, lanjutnya, menjadi langkah awal untuk memperkuat konsolidasi petani Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
“Semoga menjadi kenyataan. Indonesia yang gemah ripah loh jinawi harus dibangun bersama, dan petani harus menjadi pilar utamanya,” pungkas H. M. Gunther Gemparalam, Ketua Umum Himpunan Petani Merah Putih Indonesia (HIPMAPI).***(SB)
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
Editor : Sangga Buana
