Supersemar News – Bangkai kapal Batavia milik Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) yang tenggelam di lepas pantai Australia Barat pada 1629 mengungkap cerita baru.

Kapal tersebut merupakan salah satu bangkai kapal terkenal dalam sejarah kawasan Australia Barat.

Hal ini terutama karena pembantaian dan pemberontakan yang terjadi di antara para penyintas setelah kapal karam.

Peneliti dari Australia dan Jerman mengungkap sisi lain dari sejarah Batavia melalui penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Archaeological Science: Reports pada 2026.

Penelitian tersebut mengungkap asal-usul material bangunan yang dibawa Batavia dan bagaimana VOC mengatur rantai pasokan material tersebut lebih dari 400 tahun lalu.

Saat tenggelam, Batavia membawa balok-balok batu pasir yang telah dipotong dan disiapkan, ribuan batu bata, serta berbagai material bangunan lainnya.

Kapal tersebut juga mengangkut koin perak dan perhiasan. Peneliti kemudian berusaha mencari tahu dari mana balok-balok batu pasir tersebut berasal.

Jawabannya menunjukkan adanya strategi pengadaan material yang cukup kompleks yang diterapkan VOC pada abad ke-17.

“Catatan sejarah tidak lengkap, dan setelah hampir 400 tahun berada di bawah air, batu-batu ini bisa terlihat sangat mirip sehingga sulit diidentifikasi,” kata ahli geokimia dari Curtin University, Australia, Anthony Clarke.

“Kami ingin mengetahui apakah butiran mineral berukuran sangat kecil dapat memberikan jejak yang dapat diandalkan mengenai tempat batu tersebut terbentuk, sekaligus membantu mengungkap bagaimana VOC memperoleh dan mengangkut material melalui jaringan globalnya,” lanjut mereka.

Telusuri asal batu dengan teknik khusus
Dilansir dari Science Alert, Rabu (12/8/2026), untuk mengetahui asal material, tim peneliti menggunakan teknik penanggalan U-Pb zirkon detrital.

Teknik itu memungkinkan peneliti menganalisis komposisi batuan yang sulit diketahui melalui pengamatan visual dan metode konvensional.

Pada dasarnya teknik ini menganalisis uranium yang terperangkap dalam mineral zirkon pada batu pasir untuk memperkirakan usia dan asal batuan.

Peneliti kemudian membandingkan sampel dua balok batu pasir yang ditemukan dari bangkai Batavia. Hasilnya menunjukkan pola mineral dari kedua sampel berbeda.

Sampel kemudian dicocokkan dengan batuan yang berasal dari sejumlah lokasi tambang modern.

Hasil analisis menunjukkan, satu balok batu pasir berasal dari tambang Bentheim di Jerman, sedangkan balok lainnya berasal dari tambang Obernkirchen, Jerman.

Kedua wilayah itu diketahui pernah menjadi sumber material yang digunakan VOC.

“Dengan menganalisis mineral zirkon mikroskopis di dalam batu, kami menemukan bahwa balok-balok yang terlihat hampir identik ternyata berasal dari wilayah tambang yang berbeda di kawasan yang kini menjadi Jerman,” ujar Clarke.

Menurutnya, batu-batu itu berasal dari dua wilayah tambang berbeda. Material itu dikumpulkan dalam satu pengiriman sebelum dikirim melintasi dunia melalui rantai pasokan yang terorganisasi.

Temuan tersebut menunjukkan VOC tidak sekadar mengambil batu dari tambang yang lokasinya paling dekat.

Sebaliknya, pengadaan material dilakukan melalui rantai pasokan yang direncanakan dan dikoordinasikan.

Dua tambang yang menjadi sumber batu itu bahkan berjarak sekitar 140 kilometer satu sama lain.

Material bangunan untuk Batavia di Jakarta
Sebagai salah satu perusahaan perdagangan terbesar pada masanya, VOC mengangkut berbagai jenis material ke berbagai wilayah di dunia.

Balok-balok batu pasir yang dibawa Batavia diketahui ditujukan untuk pembangunan infrastruktur VOC di Batavia, yang kini menjadi Jakarta.

Nama kapal Batavia sendiri diambil dari nama kota tersebut.

“Penelitian ini juga menyoroti kompleksitas logistik di balik ekspansi VOC, termasuk bagaimana bahan bangunan diperoleh, dikumpulkan, dan diangkut melintasi jarak yang sangat jauh untuk mendukung pembangunan infrastruktur kolonial,” kata Clarke.

Menurut peneliti, muatan Batavia kemungkinan terlebih dahulu dikumpulkan di pusat distribusi di Amsterdam sebelum dikirim ke berbagai wilayah.

Namun, dugaan tersebut masih perlu dibuktikan penelitian lebih lanjut.

Para peneliti kini berencana menggunakan teknik yang sama untuk menganalisis lebih banyak balok batu pasir dan batu bata yang ditemukan dari bangkai kapal Batavia.

Penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan informasi tambahan mengenai bagaimana VOC mengatur pengadaan dan pengiriman material untuk mendukung operasinya di berbagai wilayah.

Metode yang sama juga berpotensi digunakan untuk meneliti bangkai kapal lain yang membawa muatan berupa batu.

“Hampir 400 tahun setelah Batavia tenggelam, kapal terkenal ini masih mengungkap kisah-kisah baru,” kata arkeolog Corioli Souter dari Western Australian Museum.

Sumber : kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *