Supersemar News — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyinggung penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik yang dinilainya masih kalah dominan dibandingkan bahasa Inggris. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah papan informasi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Menurut Mu’ti, bandara internasional merupakan pintu masuk Indonesia yang seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan bahasa Indonesia kepada pengunjung dari berbagai negara.
”Saya setiap kali ke bandara, terutama bandara internasional Soekarno-Hatta, lebih banyak saya temukan tulisan dalam bahasa Inggris daripada tulisan dalam bahasa Indonesia. Padahal itu adalah pintu gerbang Indonesia,” ujar Mu’ti dikutip dari Medcom.id, Kamis 29 Oktober 2026.
Kegiatan yang mengusung tema “Bahasa Indonesia Bermartabat; Indonesia Berdaulat” tersebut menjadi momentum untuk menegaskan pentingnya kedudukan bahasa Indonesia. Mu’ti menilai penggunaan bahasa nasional perlu mendapat prioritas, terutama di ruang publik serta lingkungan pemerintahan dan lembaga negara. Ia menyayangkan masih adanya kecenderungan penggunaan istilah asing yang lebih menonjol dibandingkan padanan bahasa Indonesia. Menurutnya, kebiasaan tersebut juga terlihat dalam sejumlah pertemuan resmi.
”Saya ingin menegaskan mengapa kedaulatan bahasa Indonesia itu penting, karena sekarang terdapat kecenderungan di mana ruang-ruang publik, termasuk di lembaga-lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga negara. Lebih banyak dan lebih bangga menggunakan istilah asing daripada menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Indonesia,” jelas dia.
Mu’ti menegaskan, mengutamakan bahasa Indonesia bukan berarti mengesampingkan kemampuan berbahasa asing. Penguasaan bahasa asing tetap diperlukan, tetapi bahasa Indonesia harus ditempatkan sebagai bahasa utama di negeri sendiri, sebelum penggunaan bahasa lain, termasuk bahasa daerah.
Selain penggunaan bahasa di ruang publik, Mu’ti turut menyinggung perubahan kebiasaan berbahasa di kalangan generasi muda. Ia memahami bahwa komunikasi sehari-hari tidak harus selalu menggunakan bahasa baku. Namun, penggunaan singkatan dan istilah baru yang berkembang di kalangan anak muda terkadang membuat komunikasi antargenerasi menjadi kurang mudah dipahami. Ia mengaku kerap menemukan kesulitan saat memahami singkatan yang digunakan anak-anaknya maupun mahasiswa ketika berkomunikasi melalui WhatsApp.
”Saya sering kalau berdialog dengan anak-anak saya dan juga mahasiswa saya, terutama kalau sedang ber-WA begitu, itu senantiasa menyebutkan itu bahasanya bapak-bapak. Saya sering kali tidak paham dengan singkatan-singkatan, apalagi kemudian singkatan-singkatan baru yang memang di sini sepertinya ada kesenjangan antar generasi,” tutur Mu’ti.
Di sisi lain, Mu’ti mengingatkan Indonesia memiliki kekayaan bahasa daerah yang perlu dijaga. Berdasarkan data terakhir yang diterimanya dari Badan Bahasa, terdapat 729 bahasa daerah di Indonesia, dengan jumlah terbanyak berasal dari Papua.
”Kita punya kekayaan bahasa daerah yang mungkin terbanyak di dunia. Data terakhir yang kami terima dari Badan Bahasa, sekarang ada 729 bahasa daerah di seluruh Indonesia, dan yang paling banyak adalah dari Papua,” pungkas Mu’ti.
Sumber : Tangerangnews.com













Komentar