Jakarta, Supersemar News– Mitsuyuki Tanaka alias Sutoro adalah eks tentara Jepang yang jatuh cinta kepada Kota Magelang. Ia bahkan terlibat dalam perjuangan bangsa Indonesia di masa-masa awal kemerdekaanya.

Dilansir dari unggahan instagram @mlakumagelang, Minggu (22/2), diceritakan dalam sebuah acara yang diselenggarakan pada 23 November 2025 lalu, putra Mitsuyuki Tanaka, Sugiyon Tanaka, berbagi kisah hidup sang Ayah. Sebuah perjalanan epik seorang yang ditugaskan untuk menjajah yang kemudian menjadi bagian dari rakyat yang ia tindas.

Sugiyon mengisahkan Mitsuyuki lahir di sebuah desa kecil bernama Kyomimura di Kota Takayama, Prefektur Gifu, Jepang, pada 10 November 1921. Sedari kecil hingga remajanya Mitsuyuki menghabiskan waktu dengan membantu keluarganya mengurus ladang dan kemudian dikirim oleh rezim militer Jepang untuk menaklukkan Manchuria di Tiongkok utara.

“Diusianya yang masih 18 tahun itu, Mitsuyuki muda kemudian terjun ke medan laga, 2 bulan setelah ia menikah dengan Tomiko Yano,” cerita Sugiyon.

Setahun berperang di Tiongkok, Mitsuyuki kemudian dipindah tugaskan ke wilayah selatan, sejalan dengan gerak laju ekspansi pasukan Dai Nippon. Filipina, Thailand, Malaya dan Singapura adalah beberapa kawasan yang pernah ia jajaki.

“Perjalanannya kemudian sampai ke Tarakan dan Papua di Hindia Belanda pada 1942 sampai pada akhirnya ia tiba di Jawa bersama dengan pasukan Kidobutai pada Juli-Agustus tahun 1945,” kata Sugiyon.

Ikut Berjuang untuk Kemerdekaan Indonesia

Titik balik besar dalam karir militer dan jalan hidupnya Mitsuyuki terjadi ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki diikuti deklarasi penyerahan kekaisaran Jepang atas sekutu yang menandai akhir Perang Dunia II.

“Dalam situasi yang tidak menentu ini, Tanaka sebagai bagian dari pasukan Jepang mendapat mandat untuk menjaga stabilitas hingga sekutu, Inggris, tiba di Magelang. Ia diminta untuk menjaga gudang senjata Jepang. Tapi, Mitsuyuki tergerak hatinya. Ia tidak mau tunduk kepada sekutu dan memilih bersimpati terhadap perjuangan rakyat di Magelang.

“Ia bersama tentara republik dan unsur pemuda di Magelang kemudian berkoordinasi untuk mengambil senjata yang tersimpan di dalam gudang senjata. Berkatnya, pejuang Magelang bisa mendapatkan senjata untuk berjuang. Mitsuyuki pun kemudian bergabung dengan kesatuan bertugas melatih pemuda bersama Letkol Sarbini dan Ahmad Yani,” kata Sugiyon.

Selama itu, Mitsuyuki berjuang bersama dengan tentara dan rakyat, mulai dari peristiwa Palagan Magelang di penghujung Oktober hingga awal November di Magelang, hingga Palagan Amabarawa pada Desember 1945.

Perjuangannya bersama TNI dan rakyat dilakukan Mitsuyuki hingga masa Agresi Militer Belanda I dan II. “Bahkan Mitsuyuki pernah tertembak di perut bagian bawah menembus tubuhnya dalam sebuah kejadian pada medan juang Palagan Ambarawa,” kata Sugiyon.

Selama masa perjuangan kemerdekaan tersebut, Mitsuyuki mengubah namanya menjadi nama Jawa. Dipilihnya nama Basri, Sutro, Sastro dan Sutoro. Nama Sutoro lah yang kemudian menjadi nama alias paling dikenal oleh masyarakat. Sutoro menikah dengan Suparti di Salaman, Magelang. Pasangan ini kemudian dikaruniai banyak putra-putri.

Sutoro pun resmi diangkat menjadi prajurit TNI dan pensiun pada tahun 1974 dengan pangkat Letnan Kolonel dari TNI. Konon pangkat ini adalah yang tertinggi bagi seorang mantan tentara Jepang yang ada di Indoensia.

“Setelah pensiun, ia memiliki sebuah bengkel bus besar di daerah Pakelan, Magelang. Hal yang terus diingat oleh keluarganya adalah Sutoro akan sangat marah kepada keluarganya jika lupa mengibarkan merah putih. setiap hari besar negara,” kata Sugiyon.

Letkol (Purn) Mitsuyuki Tanaka alias Sutoro meninggal dunia pada 1 Agustus 1998 di Magelang. Ia dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Giridharmoloyo II bersama dengan kusuma bangsa lainnya.