Modus Catut Kadiv Humas Polri, Nomor Palsu Terungkap

- Jurnalis

Jumat, 27 Februari 2026 - 01:14 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

SUPERSEMAR NEWS – JAKARTA – Publik kembali diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya penipuan digital yang mencatut nama pejabat negara. Kali ini, beredar nomor telepon +628131158837 yang mengaku sebagai Johnny Eddizon Isir, selaku Kadiv Humas Polri. Setelah dilakukan penelusuran dan klarifikasi resmi, dipastikan bahwa nomor tersebut bukan milik Kadiv Humas Polri.

Informasi ini menjadi perhatian serius karena pencatutan nama pejabat institusi penegak hukum berpotensi menimbulkan keresahan publik sekaligus membuka peluang penipuan bermotif finansial maupun manipulasi informasi.

Klarifikasi Resmi dan Penegasan Fakta

Divisi Humas Kepolisian Negara Republik Indonesia menegaskan bahwa nomor yang beredar tersebut tidak terdaftar sebagai nomor resmi pimpinan maupun pejabat struktural di lingkungan Polri.

Penegasan ini disampaikan sebagai langkah preventif agar masyarakat tidak terjebak dalam komunikasi palsu yang dapat merugikan secara materiil maupun immateriil. Modus pencatutan identitas pejabat Polri bukanlah kasus pertama. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pihak tidak bertanggung jawab kerap menggunakan nama pejabat tinggi Polri untuk meminta sejumlah uang, menawarkan proyek fiktif, atau menyebarkan informasi menyesatkan.

Dengan demikian, masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya terhadap pesan, panggilan, maupun permintaan tertentu yang datang dari nomor tidak dikenal meskipun menggunakan foto profil, nama jabatan, atau atribut institusi resmi.

Modus Operandi yang Terstruktur

Berdasarkan pola kasus serupa sebelumnya, pelaku biasanya memanfaatkan psikologi korban. Mereka menciptakan kesan urgensi dan otoritas. Nama pejabat tinggi dipilih karena memiliki legitimasi dan daya tekan psikologis yang kuat.

Biasanya, pelaku akan:

  1. Menghubungi korban melalui pesan WhatsApp.
  2. Menggunakan foto pejabat resmi yang diambil dari internet.
  3. Mengaku membutuhkan bantuan cepat atau dana tertentu.
  4. Mengarahkan korban untuk mentransfer sejumlah uang.
  5. Mengintimidasi dengan alasan kedinasan atau penyelidikan.
Baca Juga :  Sidang Gugatan Ijazah Gibran, Hakim MK Arsul Sani Kutip Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 13 soal Perang Badar

Oleh karena itu, publik harus memahami bahwa pejabat tinggi negara tidak akan melakukan komunikasi pribadi yang bersifat finansial melalui nomor acak atau media sosial tanpa prosedur resmi.

Dampak Serius Pencatutan Identitas

Pencatutan identitas pejabat Polri bukan sekadar tindakan iseng. Praktik ini masuk dalam kategori tindak pidana, terutama jika disertai unsur penipuan atau pemerasan.

Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta ketentuan pidana terkait penipuan dapat menjerat pelaku dengan ancaman hukuman yang berat. Selain itu, tindakan ini juga merusak reputasi institusi dan menurunkan tingkat kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum.

Lebih jauh lagi, apabila masyarakat tidak waspada, kerugian yang timbul bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah dalam satu kasus.

Edukasi Publik: Cara Verifikasi yang Benar

Untuk mencegah terjadinya korban baru, berikut langkah-langkah verifikasi yang dapat dilakukan masyarakat:

1. Periksa Sumber Resmi

Kunjungi situs resmi Polri atau akun media sosial terverifikasi untuk memastikan informasi jabatan dan nomor kontak resmi.

2. Jangan Transfer Dana

Pejabat negara tidak akan meminta transfer dana pribadi untuk keperluan kedinasan.

3. Konfirmasi ke Call Center

Hubungi layanan resmi Polri untuk memastikan kebenaran informasi.

4. Laporkan Nomor Mencurigakan

Segera laporkan ke kantor polisi terdekat atau kanal pengaduan siber.

Langkah ini penting karena pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan penindakan setelah kerugian terjadi.

Analisis Investigatif: Mengapa Modus Ini Terus Terjadi?

Fenomena pencatutan nama pejabat menunjukkan dua hal. Pertama, literasi digital masyarakat masih perlu ditingkatkan. Kedua, pelaku memanfaatkan kemudahan akses data publik, termasuk foto dan informasi jabatan pejabat yang tersedia di internet.

Selain itu, perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih memudahkan pelaku mengganti identitas digital dengan cepat. Mereka dapat menggunakan kartu SIM prabayar yang tidak terverifikasi secara ketat atau memanfaatkan aplikasi berbasis internet untuk menyamarkan lokasi.

Baca Juga :  PAM Jaya Paparkan Pengelolaan Air Jakarta di New York, Incar Target 100 Persen pada 2029

Namun demikian, aparat penegak hukum memiliki perangkat siber yang mampu melacak jejak digital pelaku. Oleh sebab itu, masyarakat yang menjadi korban sebaiknya segera melapor agar proses pelacakan dapat dilakukan lebih cepat.

Komitmen Polri dalam Keamanan Siber

Sebagai institusi penegak hukum, Polri terus memperkuat sistem keamanan siber serta meningkatkan patroli digital untuk mendeteksi penyalahgunaan identitas pejabat.

Langkah-langkah strategis meliputi:

  • Pemantauan media sosial.
  • Penelusuran nomor telepon mencurigakan.
  • Koordinasi dengan operator telekomunikasi.
  • Edukasi publik secara masif.

Upaya ini menunjukkan bahwa keamanan digital menjadi prioritas di tengah meningkatnya ancaman kejahatan siber.

Pesan Tegas untuk Masyarakat

Masyarakat harus menyadari bahwa keamanan digital adalah tanggung jawab bersama. Jangan mudah terintimidasi oleh jabatan, pangkat, atau atribut resmi yang ditampilkan di layar ponsel.

Jika menerima pesan dari nomor +628131158837 atau nomor lain yang mengatasnamakan pejabat Polri, lakukan langkah berikut:

  • Abaikan pesan tersebut.
  • Jangan berikan data pribadi.
  • Jangan lakukan transfer dana.
  • Laporkan ke pihak berwenang.

Sikap kritis dan verifikasi menjadi kunci utama dalam mencegah kejahatan digital.

Penutup: Literasi Digital adalah Benteng Utama

Kasus pencatutan nama Kadiv Humas Polri ini menjadi alarm bagi seluruh masyarakat Indonesia. Di era digital, informasi bergerak cepat, tetapi kejahatan juga berkembang dengan cara yang semakin canggih.

Oleh karena itu, edukasi literasi digital harus terus digencarkan. Pemerintah, institusi penegak hukum, media, dan masyarakat perlu bersinergi membangun ekosistem digital yang aman dan terpercaya.

SUPERSEMAR NEWS menegaskan bahwa kewaspadaan adalah benteng pertama dalam menghadapi modus kejahatan siber. Jangan mudah percaya, selalu verifikasi, dan segera laporkan jika menemukan indikasi penipuan.

Keamanan dimulai dari kesadaran.***(SB)

SupersemarNewsTeam

Follow WhatsApp Channel supersemarnews.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jenderal Agus Subiyanto Pimpin Sertijab Wapang dan KSAD di Cilangkap
IPC TPK Buka Direct Call Penghubung Indonesia, Tiongkok, dan Thailand
Kapolres Jakbar Jadi Khatib Salat Jumat Keliling, Perkuat Kedekatan Polri dengan Masyarakat
Putusan MK “Identitas Etnis dan Budaya Dayak”, Gubernur dan DPRD Kalteng Dorong Peran Kelembagaan
Satresnarkoba Polres Kotim Amankan Pria Pekerja Buruh Lepas di Ketapang Diduga Budak Sabu
Program “Polisi Peduli Pengangguran” di Banjarmasin, Wujudkan Kesejahteraan Masyarakat
Coba Kabur Lewat Jendela Lantai 2, Diduga Pengedar Sabu di Kotim Diciduk Polisi
Pangdam dan Menhut Terjun: Bongkar Kendala Pemadaman Karhutla di Taman Tanjung Puting
Berita ini 1 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 06:39 WIB

Jenderal Agus Subiyanto Pimpin Sertijab Wapang dan KSAD di Cilangkap

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 06:37 WIB

IPC TPK Buka Direct Call Penghubung Indonesia, Tiongkok, dan Thailand

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:27 WIB

Kapolres Jakbar Jadi Khatib Salat Jumat Keliling, Perkuat Kedekatan Polri dengan Masyarakat

Jumat, 16 Oktober 2026 - 18:35 WIB

Putusan MK “Identitas Etnis dan Budaya Dayak”, Gubernur dan DPRD Kalteng Dorong Peran Kelembagaan

Jumat, 16 Oktober 2026 - 18:34 WIB

Satresnarkoba Polres Kotim Amankan Pria Pekerja Buruh Lepas di Ketapang Diduga Budak Sabu

Berita Terbaru