SUPERSEMAR NEWS – JAKARTA – Nasruddin Tueka, alumni Lemhannas RI angkatan 52, menegaskan bahwa swasembada energi bukan sekadar target sektoral, melainkan fondasi utama dalam membangun ketahanan nasional yang kokoh, terukur, dan berkelanjutan. Dalam berbagai forum strategis, ia menggarisbawahi bahwa ketergantungan terhadap impor energi menjadi titik lemah struktural yang harus segera diatasi melalui kebijakan terintegrasi dan keberanian politik yang kuat.

Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa Indonesia saat ini masih menghadapi kesenjangan produksi minyak sekitar 600.000 barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai 1,5 juta barel per hari. Akibatnya, impor menjadi penyangga utama yang justru berpotensi menggerus kedaulatan energi serta stabilitas ekonomi nasional.

Ketergantungan Impor Energi Jadi Ancaman Strategis

Dalam perspektif ketahanan nasional, ketergantungan energi impor bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga geopolitik. Fluktuasi harga minyak global, konflik internasional, hingga gangguan rantai pasok dapat langsung berdampak pada stabilitas dalam negeri.

Nasruddin Tueka menilai bahwa perbaikan rantai pasok energi harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya pada sisi produksi, tetapi juga distribusi, penyimpanan, hingga kebijakan harga yang berpihak pada kepentingan nasional.

Selain itu, ia menekankan pentingnya integrasi antara sektor hulu dan hilir migas. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama dalam industri energi global.

Lifting Migas dan Teknologi Jadi Kunci Percepatan

Upaya peningkatan lifting migas nasional menjadi prioritas utama dalam mencapai swasembada energi. Namun, hal ini tidak bisa dilakukan dengan pendekatan konvensional semata.

Sebaliknya, dibutuhkan inovasi teknologi, investasi besar, serta dukungan kebijakan yang konsisten. Optimalisasi teknologi eksplorasi dan produksi menjadi langkah krusial untuk meningkatkan output secara signifikan.

Selain itu, penggunaan teknologi digital dan artificial intelligence dalam industri migas dapat meningkatkan efisiensi sekaligus menekan biaya produksi. Dengan demikian, daya saing industri energi nasional dapat meningkat secara signifikan.

Diversifikasi Energi dan EBT Jadi Pilar Masa Depan

Di sisi lain, Nasruddin juga menekankan pentingnya diversifikasi energi melalui pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Indonesia memiliki potensi besar dalam energi surya, angin, panas bumi, dan bioenergi. Namun, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.

Oleh karena itu, diperlukan kebijakan insentif yang menarik bagi investor serta dukungan riset dan pengembangan yang berkelanjutan. Dengan langkah ini, Indonesia dapat membangun sistem energi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Target Indonesia Emas 2045

Swasembada energi menjadi bagian integral dari visi besar Indonesia Emas 2045. Dalam skenario ini, Indonesia diharapkan mampu keluar dari middle income trap dan menjadi negara maju berbasis industri.

Pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 8 persen dengan inflasi rendah serta APBN yang kuat dan berkelanjutan. Selain itu, penciptaan lapangan kerja menjadi prioritas utama seiring dengan berkembangnya industri energi dan sektor pendukung lainnya.

Dengan sumber daya manusia yang unggul, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri energi global.

Diskusi Strategis Nasional

Diskusi strategis tahun 2018 bersama jajaran Dewan Pengurus Pusat yang dipimpin Rosan P. Roeslani dengan Gubernur Lemhannas RI, membahas penguatan ketahanan nasional, stabilitas ekonomi, serta arah kebijakan strategis Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.

Gagasan swasembada energi juga menjadi topik utama dalam berbagai diskusi strategis nasional. Dalam forum yang dipimpin oleh Rosan P. Roeslani bersama Gubernur Lemhannas RI pada 2018, isu ketahanan nasional menjadi fokus utama pembahasan.

Nasruddin TuekaDiskusi geostrategi dan ketahanan nasional tahun 2022 antara Laksdya TNI Amarulla Octavian (Rektor Universitas Pertahanan RI) bersama jajaran dan tokoh strategis, membahas penguatan sektor energi, pertahanan negara, serta arah kebijakan menuju swasembada energi dan Indonesia Emas 2045.

Selain itu, diskusi geostrategi dengan Universitas Pertahanan RI pada 2022 bersama Laksdya TNI Amarulla Octavian (Rektor Universitas Pertahanan RI) memperkuat urgensi penguatan sektor energi sebagai bagian dari pertahanan negara.

Nasruddin Tueka berfoto bersama Sesjen Wantannas RI Laksdya TNI Dr. Haryo Susmono, usai diskusi strategis tahun 2023 membahas ketahanan nasional, penguatan sektor energi, serta peran geopolitik Indonesia dalam menghadapi tantangan global menuju kemandirian energi dan stabilitas nasional.

Kemudian, pada 2023, diskusi dengan Sesjen Wantannas Laksdya TNI Dr. Haryo Susmono menegaskan bahwa energi merupakan salah satu elemen kunci dalam sistem pertahanan nasional modern.

Catatan Kritis untuk Presiden

Dalam konteks kepemimpinan nasional, terdapat sejumlah poin penting yang harus menjadi perhatian presiden dalam mewujudkan swasembada energi:

Pertama, percepatan lifting migas melalui reformasi regulasi dan insentif investasi. Kedua, penguatan sektor EBT sebagai alternatif energi masa depan. Ketiga, pembangunan infrastruktur energi yang merata hingga ke daerah terpencil.

Keempat, pemberantasan korupsi di sektor energi secara menyeluruh. Kelima, peningkatan kapasitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan berbasis teknologi.

Selain itu, presiden juga harus memastikan bahwa kebijakan energi berjalan selaras dengan kepentingan nasional dan tidak terpengaruh oleh tekanan eksternal.

Menuju Swasembada Energi 2029

Target swasembada energi pada 2029 menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Dengan strategi yang tepat, target ini bukan hal yang mustahil untuk dicapai.

Namun, keberhasilan ini sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Dukungan politik serta partisipasi publik menjadi faktor penentu dalam keberhasilan program ini.

Penerapan Mobil Listrik sebagai Indikator Keberhasilan

Sebagai bagian dari transformasi energi nasional, penerapan mobil listrik menjadi salah satu indikator nyata keberhasilan swasembada energi. Peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan impor BBM, tetapi juga mulai membangun ekosistem energi berbasis listrik yang mandiri.

Penggunaan mobil listrik yang didukung oleh energi dari sumber domestik—terutama Energi Baru dan Terbarukan—akan memperkuat kedaulatan energi nasional. Selain itu, pengembangan industri kendaraan listrik, termasuk baterai dan infrastruktur pengisian daya, juga membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Dengan semakin luasnya adopsi mobil listrik, Indonesia dapat menekan subsidi energi, mengurangi defisit neraca perdagangan migas, serta meningkatkan efisiensi energi nasional. Ini menjadi bukti konkret bahwa swasembada energi bukan hanya konsep, tetapi telah mulai terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari.

Energi sebagai Pilar Kedaulatan Bangsa

Swasembada energi bukan hanya tentang ketersediaan sumber daya, tetapi juga tentang kedaulatan bangsa. Dengan energi yang mandiri, Indonesia dapat menentukan arah pembangunan tanpa tekanan dari pihak luar.

Sebagai penutup, Nasruddin Tueka menegaskan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan secara maksimal. Indonesia memiliki semua modal yang dibutuhkan, mulai dari sumber daya alam hingga sumber daya manusia.

Kini, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk bertindak dan komitmen untuk menjaga integritas dalam setiap kebijakan.***(SB)

SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki