SURAKARTA, Supersemar News – Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PPMI) Dzulfikar Ahmad Tawalla, S.Pd., M.I.Kom., mengajak aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (BEM PTMA) se-Indonesia untuk mulai merancang masa depan setelah menyelesaikan kepemimpinan di kampus. Menurutnya, pengalaman menjadi ketua BEM atau presiden mahasiswa merupakan modal sosial yang besar, tetapi perlu diikuti dengan perencanaan karier, pengembangan kompetensi, serta jaringan yang tepat.
Pesan tersebut disampaikan Dzulfikar dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) BEM PTMA se-Indonesia 2026 yang diadakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis (29/10/2026). Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti pada pencapaian sebagai pemimpin organisasi, tetapi mampu menentukan langkah berikutnya dalam kehidupan profesional maupun pengabdian kepada masyarakat.
“Pertanyaannya sekarang, setelah Anda jadi Presma ataupun Ketua BEM, what’s next? Mau jadi apa setelah ini?” ujarnya.
Dzulfikar menilai, masa depan seorang aktivis ditentukan oleh tiga hal utama, yakni bahan bacaan, lingkungan pergaulan, dan mentor. Ketiganya menjadi bekal untuk memperluas wawasan, membangun relasi, serta mempelajari keterampilan yang tidak selalu diperoleh melalui pendidikan formal.
Menurutnya, aktivis mahasiswa perlu memiliki kebiasaan membaca lebih luas dibandingkan mahasiswa pada umumnya. Bacaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan materi perkuliahan, tetapi juga berbagai pemikiran dan gagasan yang dapat membantu mereka memahami persoalan serta menentukan arah kehidupan.
“Yang pertama, masa depan Anda itu akan ditentukan bahan bacaan Anda. Buku-buku apa yang Anda konsumsi?” tuturnya.
Selain membaca, Dzulfikar menekankan pentingnya memilih lingkungan pergaulan. Ia mengingatkan mahasiswa agar membangun relasi sesuai dengan bidang dan tujuan yang ingin dicapai. Aktivis yang ingin berkarier di dunia politik, misalnya, perlu memahami lingkungan politik dan membangun jaringan yang relevan.
Ia juga menekankan pentingnya memiliki mentor atau pembimbing yang dapat membantu mahasiswa mengenali potensi diri dan mengembangkan keterampilan. Menurutnya, proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung dalam kehidupan.
“Seorang aktivis itu harus punya talent maker, harus punya mentor,” ungkapnya.
Dzulfikar membagikan pengalamannya ketika memasuki dunia profesional di Jakarta. Ia mengaku pernah bekerja sebagai sopir selama dua tahun untuk mempelajari lingkungan dan membangun relasi. Pengalaman tersebut membantunya memahami cara berkomunikasi, menerima gagasan, serta menyelesaikan persoalan yang dihadapi orang lain.
Ia juga menceritakan perjalanan karier dan bisnisnya yang sempat mengalami kebangkrutan hingga tiga kali. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membentuk keterampilan praktis dan kemampuannya menghadapi berbagai situasi.
Melalui pengalaman itu, Dzulfikar mengingatkan mahasiswa agar tidak merasa cukup dengan pencapaian selama menjadi aktivis. Mereka perlu menemukan keunggulan yang dapat dikembangkan menjadi kompetensi profesional.
Ia kemudian menjelaskan tiga jalur yang dapat ditempuh untuk membangun masa depan, yakni jaringan untuk memperoleh peluang ekonomi, kekuasaan yang membuka akses terhadap peluang, serta membangun usaha dan aset melalui konsistensi.
Dzulfikar juga mendorong mahasiswa untuk menyusun perencanaan hidup dalam jangka waktu lima tahun. Perencanaan tersebut perlu mencakup tujuan yang ingin dicapai, kompetensi yang harus dikembangkan, lingkungan pergaulan, serta mentor yang dapat membantu proses pengembangan diri.
“Jadi kesimpulannya, adik-adik sekalian, Anda sudah Korpus, Anda sudah Presma sekarang, itu sudah masa lalu. Segera putuskan Anda mau jadi apa,” tegasnya.
Selain memberikan pesan tentang pengembangan diri, Dzulfikar turut memperkenalkan program SMK Go Global yang menjadi bagian dari upaya pemerintah membuka peluang kerja bagi tenaga kerja Indonesia di luar negeri.
Ia menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan pengiriman 500.000 tenaga kerja dalam lima tahun melalui program tersebut. Para peserta akan dibekali keterampilan dan kemampuan bahasa agar dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara.
Menurut Dzulfikar, program tersebut menjadi salah satu upaya untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan demografi Indonesia dan kebutuhan tenaga kerja global.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan pelatihan bagi calon pekerja, termasuk keterampilan pengelasan atau welder. Program tersebut juga membuka peluang bagi generasi muda untuk mengikuti pelatihan bahasa asing, seperti bahasa Jerman, Korea, Jepang, dan Inggris.
Dzulfikar menilai, pengalaman bekerja di luar negeri dapat menjadi kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia untuk memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk pembangunan ekonomi nasional.
Ia berharap perguruan tinggi dapat ikut berkontribusi dalam menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Menutup materinya, Dzulfikar mengajak mahasiswa untuk tetap optimistis terhadap masa depan Indonesia. Ia menegaskan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan bangsa melalui kompetensi, pengalaman, dan kontribusi nyata.
“Dan selalulah optimistis terhadap masa depan bangsa Indonesia. Kalau ditanya kenapa Anda optimistis terhadap masa depan bangsa Indonesia, karena ada: kami, kami, kami!” pungkasnya.
Sumber : news.amc.ac.id













Komentar