Tumpukan cabai rawit merah terlihat mendominasi lapak pedagang di pasar tradisional. Lonjakan harga cabai rawit hingga Rp80 ribu per kilogram selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) semakin menekan daya beli masyarakat.

Harga Pangan Nataru Melonjak, Pedagang Pasar Buka Suara

SUPERSEMAR NEWS – Jakarta — Lonjakan harga pangan kembali menghantui masyarakat selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi rumah tangga, para pedagang pasar tradisional justru menghadapi tekanan harga yang terus merangkak naik tanpa kepastian penurunan.

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mengungkapkan bahwa hampir seluruh komoditas pangan strategis mengalami kenaikan signifikan, khususnya di wilayah Jabodetabek. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan berlanjutnya tekanan inflasi pangan, sekaligus mempertanyakan efektivitas pengawasan harga oleh pemerintah.

Ikappi: Hampir Semua Komoditas Naik Saat Nataru

Sekretaris Jenderal Ikappi, Reynaldi Sarijowan, menegaskan bahwa kenaikan harga pangan terjadi secara merata dan dirasakan langsung oleh pedagang maupun konsumen.

Laporan dari teman-teman pedagang di Jabodetabek menunjukkan ada kenaikan hampir di semua komoditas,” ujar Reynaldi kepada media, Minggu (28/12/2025).

Menurutnya, momentum libur panjang Nataru kerap dimanfaatkan oleh rantai distribusi tertentu untuk menaikkan harga, baik akibat peningkatan permintaan maupun persoalan pasokan.

Daftar Harga Pangan Naik di Pasar Tradisional

Berdasarkan pantauan Ikappi, sejumlah komoditas utama mengalami lonjakan sebagai berikut:

  • Bawang merah: Rp35.000 → Rp40.000/kg
  • Bawang putih: Rp40.000 → Rp50.000/kg
  • Telur ayam ras: Rp29.000 → Rp32.000/kg
  • Gula pasir: Rp17.000 → Rp19.000/kg
  • Beras premium: Rp17.000–18.000/kg
  • Beras medium: Rp11.000–12.000/kg

Namun, lonjakan paling tajam terjadi pada cabai rawit dan minyak goreng rakyat Minyakita.

Cabai Rawit “Makin Pedas”, Tembus Rp80 Ribu per Kg

Harga cabai rawit merah kembali menjadi sorotan. Di sejumlah pasar tradisional Jabodetabek, harga cabai rawit kini berada di kisaran Rp80.000 per kilogram.

Reynaldi menyebutkan, fluktuasi harga cabai terjadi akibat kombinasi faktor cuaca, distribusi, dan permainan pasokan.

Cabai memang naik-turun, tapi sekarang posisinya tinggi. Cabai jenis lain juga ikut terdampak,” tegasnya.

Kondisi ini selaras dengan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, yang mencatat harga cabai rawit merah nasional mencapai Rp70.950 per kg.

Minyakita Belum Turun, Justru Naik di Atas HET

Ironisnya, Minyakita, yang seharusnya menjadi minyak goreng rakyat dengan harga terjangkau, justru dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

  • Harga normal: Rp14.000–15.000/liter
  • Harga pasar saat ini: Rp18.000–19.000/liter

Minyakita dari Rp16.000 sekarang Rp18.000, bahkan ada yang jual Rp19.000 per liter,” ungkap Reynaldi.

Fakta ini memperkuat dugaan lemahnya pengawasan distribusi minyak goreng bersubsidi, yang seharusnya menjadi bantalan daya beli masyarakat.

Daging dan Ayam Ikut Naik Tajam

Tak hanya komoditas dapur, harga protein hewani juga mengalami lonjakan signifikan:

  • Ayam ras: Rp35.000 → Rp45.000/kg
  • Ayam kampung: Rp45.000 → Rp57.000/kg
  • Daging sapi: Rp110.000 → Rp125.000/kg

Bahkan, data PIHPS BI mencatat harga daging sapi kualitas I secara nasional mencapai Rp139.800 per kg.

Pemerintah Klaim Harga Pangan Terkendali

Di sisi lain, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan bahwa pasokan dan harga pangan nasional masih dalam kondisi terkendali, meskipun terjadi banjir dan longsor di Sumatera.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa penguatan distribusi menjadi kunci pengendalian harga.

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas sangat tegas. Jangan mainkan harga, apalagi di kondisi bencana,” kata Ketut, dikutip dari ANTARA.

Satgas Pangan Dikerahkan, Tapi Harga Tetap Tinggi

Pemerintah mengklaim telah mengerahkan Satgas Pangan, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas harga.

Bantuan pangan, termasuk beras SPHP, juga terus disalurkan untuk meredam gejolak harga. Namun, fakta di lapangan menunjukkan harga tetap tinggi, terutama di tingkat pedagang eceran.

Pertanyaannya, sejauh mana efektivitas pengawasan tersebut?

Analisis: Ada Kesenjangan Data dan Realita Pasar

Klaim stabilitas harga oleh pemerintah kontras dengan realitas yang dirasakan pedagang dan konsumen. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan data antara laporan resmi dan kondisi pasar tradisional.

Pedagang menilai distribusi belum sepenuhnya merata, sementara pengawasan di tingkat bawah masih lemah.

Dampak Langsung ke Masyarakat Kecil

Kenaikan harga pangan ini berdampak langsung pada:

  • Turunnya daya beli masyarakat
  • Menurunnya omzet pedagang pasar
  • Meningkatnya beban rumah tangga berpenghasilan rendah

Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa intervensi nyata, tekanan ekonomi berpotensi berlanjut hingga awal 2026.

Harga Mahal, Pengawasan Harus Diperketat

SUPERSEMAR NEWS menegaskan bahwa stabilitas harga pangan tidak cukup hanya dengan klaim. Pemerintah perlu:

  • Memperketat pengawasan distribusi
  • Menindak tegas pelaku permainan harga
  • Membuka data harga secara transparan
  • Melibatkan pedagang pasar sebagai mitra pengawasan

Tanpa langkah konkret, lonjakan harga pangan akan terus menjadi siklus tahunan yang merugikan rakyat.***(SB)

SupersemarNewsTeam