Juru Bicara KPK Budi Prasetyo memberikan keterangan kepada awak media terkait pemeriksaan pegawai Bea Cukai dalam kasus dugaan suap impor barang tiruan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta. Kasus korupsi Bea Cukai ini menjadi sorotan publik setelah seorang pegawai Bea Cukai berlari usai diperiksa penyidik KPK

SUPERSEMAR NEWS | Jakarta

Aksi seorang pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) yang berlari meninggalkan Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (8/5/2026), langsung memantik perhatian publik. Peristiwa tersebut bukan sekadar insiden biasa di tengah pemeriksaan saksi kasus dugaan korupsi, melainkan menjadi simbol kuat bahwa penyidikan dugaan suap dan gratifikasi di lingkungan Bea Cukai kini memasuki fase yang semakin serius.

Pria yang diketahui berinisial AD itu terlihat menutupi wajah menggunakan map sebelum akhirnya berlari cepat meninggalkan area gedung KPK. Sikap tersebut menimbulkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: mengapa seorang aparatur negara memilih menghindar dari sorotan media setelah diperiksa penyidik antirasuah?

Di saat publik menuntut transparansi, tindakan itu justru memperkuat persepsi bahwa kasus dugaan korupsi di tubuh Bea Cukai memiliki persoalan yang jauh lebih dalam dan sistematis.

KPK Dalami Dugaan Aliran Uang dari PT Blueray Cargo

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengungkapkan bahwa AD diperiksa terkait dugaan aliran uang dari PT Blueray Cargo (PT BR), perusahaan yang telah lebih dahulu terseret dalam pusaran kasus suap impor barang tiruan.

Menurut KPK, pemeriksaan terhadap AD dilakukan untuk mendalami hubungan antara pihak internal Bea Cukai dengan perusahaan jasa logistik yang diduga memperoleh perlakuan khusus dalam proses impor.

AD diperiksa karena diduga mendapat aliran uang dari PT BR,” kata Budi Prasetyo kepada wartawan di Jakarta.

Pernyataan tersebut menjadi titik penting dalam penyidikan. Sebab, KPK kini tidak lagi hanya membidik pelaku utama, tetapi mulai menelusuri jaringan penerima uang, penghubung, hingga kemungkinan adanya struktur perlindungan di internal lembaga.

Selain AD, penyidik juga memanggil tiga saksi lain yang berasal dari unsur swasta. Langkah itu menunjukkan bahwa perkara ini tidak berdiri sendiri, melainkan melibatkan hubungan antara pejabat negara dan pihak bisnis yang memiliki kepentingan ekonomi besar.

Momen Pegawai Bea Cukai Berlari Jadi Sorotan

Kehadiran AD sebenarnya telah menarik perhatian awak media sejak siang hari. Saat pertama kali dikonfirmasi mengenai identitasnya, ia membantah sambil menutupi wajah.

Bukan saya, bukan,” ucapnya singkat sambil berjalan cepat menuju area luar gedung.

Namun, situasi berubah drastis ketika sore hari pria yang sama kembali muncul. Kali ini ia tidak hanya menghindar, melainkan langsung berlari meninggalkan gedung tanpa memberikan pernyataan apa pun.

Awak media sempat mengejar sambil melontarkan pertanyaan mengenai alasan dirinya berlari. Akan tetapi, tidak ada jawaban yang diberikan.

Aksi tersebut segera viral di berbagai platform media sosial. Banyak publik mempertanyakan mengapa seorang pegawai negara yang berstatus saksi memilih bertindak demikian jika memang tidak memiliki sesuatu yang perlu disembunyikan.

Di sisi lain, pengamat hukum menilai tindakan itu memang bukan pelanggaran pidana. Namun secara etika publik, perilaku tersebut dapat memperburuk citra institusi.

Kasus Korupsi Bea Cukai Semakin Membesar

Kasus yang tengah diusut KPK bermula dari operasi tangkap tangan (OTT) pada 4 Februari 2026. Dalam operasi tersebut, KPK mengamankan sejumlah pejabat Bea Cukai bersama pihak swasta yang diduga terlibat praktik suap dan gratifikasi terkait impor barang tiruan.

OTT itu menjadi salah satu operasi terbesar KPK pada awal tahun 2026 karena melibatkan pejabat strategis di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.

Sehari setelah OTT, KPK menetapkan enam orang sebagai tersangka. Mereka berasal dari unsur pejabat Bea Cukai dan perusahaan swasta.

Para tersangka dari internal Bea Cukai antara lain:

  • Rizal (RZL), Direktur Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai periode 2024–Januari 2026
  • Sisprian Subiaksono (SIS), Kepala Subdirektorat Intelijen Penindakan dan Penyidikan
  • Orlando Hamonangan (ORL), Kepala Seksi Intelijen Bea Cukai

Sementara dari pihak swasta, KPK menetapkan:

  • John Field (JF), pemilik Blueray Cargo
  • Andri (AND), Ketua Tim Dokumentasi Importasi
  • Dedy Kurniawan (DK), Manajer Operasional

Tidak berhenti di situ, pada 26 Februari 2026 KPK kembali menetapkan Budiman Bayu Prasojo (BBP) sebagai tersangka baru. Ia menjabat Kepala Seksi Intelijen Cukai Direktorat Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai.

Penambahan tersangka memperlihatkan bahwa dugaan praktik korupsi di lingkungan Bea Cukai kemungkinan melibatkan jaringan yang luas dan berlangsung dalam kurun waktu yang tidak singkat.

Dugaan Modus Permainan Impor Barang Tiruan

Penyidik KPK menduga praktik suap dilakukan untuk memuluskan masuknya barang impor tertentu ke Indonesia tanpa pemeriksaan ketat.

Dalam konteks ini, perusahaan importir diduga memberikan sejumlah uang kepada oknum pejabat agar proses pemeriksaan dokumen dan pengawasan barang berjalan lebih mudah.

Jika dugaan tersebut terbukti, maka praktik itu sangat berbahaya bagi sistem perdagangan nasional. Sebab, masuknya barang tiruan atau ilegal dapat merugikan negara dari sisi penerimaan pajak dan bea masuk.

Selain itu, produk ilegal juga dapat menghancurkan industri lokal yang harus bersaing dengan barang murah tanpa pengawasan standar.

Pengamat ekonomi menilai kasus ini tidak hanya berkaitan dengan suap biasa, melainkan menyangkut integritas sistem pengawasan perdagangan Indonesia.

Ancaman Serius bagi Kepercayaan Publik

Kasus dugaan korupsi di Bea Cukai menjadi pukulan berat bagi kepercayaan masyarakat terhadap institusi pengawasan negara.

Selama ini, Bea Cukai memiliki posisi strategis sebagai gerbang utama lalu lintas barang ekspor dan impor. Karena itu, integritas aparat di sektor tersebut sangat menentukan keamanan ekonomi nasional.

Ketika pejabat yang seharusnya mengawasi justru diduga bermain dengan importir, maka kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya menyangkut kerugian negara, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap sistem hukum dan birokrasi.

Di sisi lain, publik juga mulai mempertanyakan efektivitas pengawasan internal di lingkungan Kementerian Keuangan.

Sebab, kasus besar seperti ini menunjukkan adanya celah serius yang memungkinkan praktik korupsi berlangsung dalam waktu lama tanpa terdeteksi lebih awal.

KPK Didesak Bongkar Seluruh Jaringan

Sejumlah kalangan mendorong KPK agar tidak berhenti pada penetapan tersangka level menengah. Penyelidikan dinilai harus diarahkan hingga menemukan aktor utama yang diduga mengendalikan praktik suap impor.

Aktivis antikorupsi juga meminta penyidik menelusuri kemungkinan adanya aliran dana ke pihak lain di luar Bea Cukai.

Menurut mereka, praktik korupsi di sektor kepabeanan umumnya tidak berjalan sendiri. Ada potensi keterlibatan jaringan bisnis, pengusaha, hingga pihak yang memiliki akses kekuasaan.

Karena itu, publik berharap KPK mampu membongkar kasus ini hingga ke akar-akarnya.

Momentum Bersih-Bersih Bea Cukai

Kasus ini dinilai dapat menjadi momentum penting untuk melakukan reformasi menyeluruh di tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Pemerintah didorong memperkuat sistem pengawasan digital, audit internal, serta transparansi pelayanan impor.

Selain itu, rotasi jabatan dan evaluasi terhadap pejabat strategis dinilai perlu dilakukan guna mencegah praktik kongkalikong antara aparat dan pelaku usaha.

Pakar kebijakan publik menilai reformasi birokrasi tidak cukup hanya dengan slogan. Dibutuhkan pengawasan yang ketat serta hukuman berat bagi aparat yang terbukti menyalahgunakan kewenangan.

Publik Menanti Ketegasan Penegak Hukum

Masyarakat kini menunggu langkah lanjutan KPK dalam mengusut kasus ini. Sorotan publik semakin besar setelah munculnya aksi pegawai Bea Cukai yang berlari meninggalkan gedung pemeriksaan.

Bagi sebagian orang, tindakan tersebut dianggap mencerminkan tekanan besar yang sedang dihadapi pihak-pihak yang diperiksa.

Namun bagi publik luas, yang paling penting bukan sekadar drama di depan kamera, melainkan sejauh mana penegak hukum mampu membuktikan aliran uang, pola permainan impor, serta siapa saja yang menikmati keuntungan dari praktik tersebut.

Kasus ini menjadi ujian besar bagi KPK di tengah tuntutan publik agar pemberantasan korupsi dilakukan secara tegas, transparan, dan tanpa pandang bulu.

Jika berhasil dibongkar hingga tuntas, maka perkara Bea Cukai dapat menjadi pintu masuk untuk membersihkan praktik mafia impor yang selama ini dianggap sulit disentuh hukum.

Dampak Ekonomi dan Ancaman bagi Industri Nasional

Praktik korupsi di sektor impor bukan hanya merugikan keuangan negara. Lebih dari itu, dampaknya dapat menghancurkan daya saing industri nasional.

Barang impor ilegal atau barang tiruan yang lolos melalui jalur suap biasanya masuk dengan harga jauh lebih murah karena menghindari bea masuk dan pajak.

Akibatnya, pelaku industri dalam negeri yang taat aturan mengalami tekanan besar dalam persaingan pasar.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memicu penurunan produksi industri lokal, pengurangan tenaga kerja, hingga melemahnya penerimaan negara.

Karena itu, pengawasan kepabeanan seharusnya menjadi benteng utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Transparansi Jadi Kunci Pemulihan Kepercayaan

Kasus ini memperlihatkan bahwa transparansi menjadi kebutuhan mendesak dalam pelayanan publik.

Pemerintah dan aparat penegak hukum perlu membuka informasi secara jelas mengenai perkembangan penyidikan agar tidak memunculkan spekulasi liar di tengah masyarakat.

Selain itu, proses hukum yang terbuka akan membantu memulihkan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

KPK juga diharapkan mampu menjaga independensi penyidikan tanpa intervensi politik maupun kepentingan tertentu.

Kasus dugaan korupsi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kini berkembang menjadi perhatian nasional. Aksi seorang pegawai Bea Cukai yang berlari usai diperiksa KPK menjadi gambaran nyata bahwa tekanan dalam perkara ini semakin besar.

Namun di balik peristiwa itu, publik sesungguhnya menunggu satu hal penting: keberanian penegak hukum membongkar seluruh jaringan mafia impor yang diduga bermain di balik layar.

Jika penyidikan dilakukan secara menyeluruh, maka kasus ini dapat menjadi momentum bersejarah dalam reformasi sistem kepabeanan Indonesia.

Sebaliknya, jika hanya berhenti pada level tertentu, maka kepercayaan publik terhadap pemberantasan korupsi akan kembali dipertaruhkan. ***(SB)

SupersemarNewsTeam