Ratusan warga terlihat berkumpul di area kebun sawit PT Lestari Tani Teladan (LTT), Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, saat aksi panen paksa memicu bentrok dengan petugas keamanan perusahaan. Massa membawa hasil panen menggunakan kendaraan pik up dan sepeda motor sebelum situasi berujung ricuh dan menyebabkan sejumlah korban luka.

Konflik Lahan Sawit Kembali Memanas di Sulawesi Tengah

SUPERSEMAR NEWS – Jakarta
Konflik agraria kembali memicu bentrok terbuka antara ratusan warga dan petugas keamanan perusahaan perkebunan sawit di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Insiden ini terjadi di area kebun sawit milik PT Lestari Tani Teladan (LTT) pada Jumat, 6 Februari 2026, dan mengakibatkan lima orang mengalami luka-luka.

Peristiwa tersebut menambah daftar panjang konflik lahan sawit yang belum terselesaikan secara tuntas di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi. Bentrok terjadi setelah warga yang tergabung dalam Aliansi Desa Toviora melakukan aksi panen paksa di kebun perusahaan, yang kemudian berujung pada aksi saling serang.

Situasi Lokasi Berhasil Dikendalikan Aparat

Kepolisian Resor (Polres Donggala) memastikan bahwa kondisi di lokasi kejadian kini telah kondusif. Aparat gabungan dari Polres Donggala dan Polda Sulawesi Tengah langsung diterjunkan untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.

Saat ini personel gabungan telah melakukan patroli pengamanan di lokasi kejadian,”
ujar Kapolres Donggala AKBP Angga Dewanto Basari, dikutip dari Antara.

Lebih lanjut, Kapolres menyampaikan bahwa pihaknya juga melakukan koordinasi lintas wilayah, termasuk dengan Polres Pasangkayu, Sulawesi Barat, menyusul adanya warga dari daerah tersebut yang ikut bergabung dalam aksi di kebun sawit PT LTT.

Akar Masalah: Kekecewaan Warga Terhadap Pemerintah Daerah

Meski aparat belum merinci secara detail akar konflik, indikasi kuat mengarah pada kekecewaan warga terhadap Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Kekecewaan itu diduga berkaitan dengan persoalan lahan, izin perkebunan, serta akses ekonomi masyarakat lokal yang selama ini dianggap terabaikan.

Menurut penelusuran SUPERSEMAR NEWS, konflik lahan antara masyarakat dan perusahaan perkebunan sawit di wilayah Rio Pakava, Donggala, telah berlangsung lama dan belum menemukan solusi permanen. Minimnya dialog terbuka dan lambannya penyelesaian administrasi agraria menjadi faktor pemicu utama.

Panen Paksa Jadi Titik Awal Kerusuhan

Sebelum bentrok pecah, ratusan warga Aliansi Desa Toviora mendatangi afdeling OK milik PT Lestari Tani Teladan dan melakukan panen paksa buah sawit. Aksi ini merupakan bentuk protes langsung atas klaim lahan yang mereka anggap sebagai hak masyarakat adat dan warga setempat.

Petugas keamanan perusahaan bersama aparat dari Polsek Rio Pakava telah berulang kali mengimbau warga agar tidak membawa keluar hasil panen dari area kebun. Namun, imbauan tersebut tidak diindahkan.

Dengan jumlah massa yang besar, warga tetap memaksa membawa keluar enam unit pikap berisi buah sawit. Ketegangan pun meningkat drastis.

Adu Mulut Berujung Lemparan Batu dan Senjata Tajam

Situasi memanas ketika perdebatan sengit antara warga dan petugas keamanan tidak menemukan titik temu. Dalam kondisi emosi yang meningkat, aksi pelemparan batu dilaporkan terjadi lebih dulu dari pihak massa.

Tidak berhenti di situ, sebagian warga juga dilaporkan menyerang petugas keamanan dengan senjata tajam, sehingga bentrok fisik tak terelakkan.

Akibat kejadian tersebut, tiga petugas pengamanan perusahaan mengalami luka akibat sabetan senjata tajam dan lemparan batu. Sementara itu, dua warga juga dilaporkan mengalami luka dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Korban Dirawat, Polisi Fokus Pencegahan Konflik Susulan

Kapolres Donggala memastikan bahwa seluruh korban telah mendapatkan perawatan medis. Aparat kepolisian kini fokus pada upaya pencegahan bentrok lanjutan, termasuk dengan mempertemukan pihak perusahaan dan perwakilan masyarakat.

Saya sudah berkomunikasi dengan aliansi dan pihak perusahaan. Mereka sepakat menarik diri agar tidak ada korban lanjutan,
tegas Kapolres.

Langkah ini dinilai penting untuk meredam emosi massa dan membuka ruang dialog konstruktif.

Konflik Sawit: Masalah Lama yang Terus Berulang

Kasus bentrok di Donggala ini kembali menegaskan bahwa konflik agraria di sektor perkebunan sawit masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Berdasarkan catatan berbagai lembaga pemantau agraria, konflik lahan kerap dipicu oleh:

  • Tumpang tindih izin konsesi
  • Lemahnya pengakuan hak masyarakat lokal
  • Kurangnya transparansi perusahaan
  • Minimnya peran aktif pemerintah daerah

Tanpa penyelesaian struktural, konflik serupa berpotensi terus berulang dan memicu kekerasan.

Tantangan Pemerintah Daerah dan Penegakan Hukum

Pemerintah daerah didesak untuk tidak hanya mengandalkan pendekatan keamanan, tetapi juga menghadirkan solusi kebijakan yang adil dan berkelanjutan. Penyelesaian konflik lahan membutuhkan:

  1. Audit perizinan perkebunan
  2. Mediasi independen
  3. Perlindungan hak masyarakat
  4. Penegakan hukum yang tegas dan transparan

Tanpa langkah tersebut, stabilitas sosial di wilayah perkebunan akan terus rapuh.

Alarm Keras bagi Semua Pihak

Bentrok antara warga dan petugas keamanan di kebun sawit PT Lestari Tani Teladan Donggala menjadi alarm keras bagi pemerintah, aparat, dan korporasi. Konflik agraria bukan sekadar persoalan hukum, tetapi menyangkut keadilan sosial, kesejahteraan masyarakat, dan kepercayaan publik terhadap negara.

SUPERSEMAR NEWS akan terus mengawal perkembangan kasus ini secara investigatif, mendalam, dan berimbang, demi menghadirkan informasi yang akurat dan edukatif bagi publik.***(SB)

SupersemarNewsTeam