
TRANSISI ENERGI ADALAH JAWABAN SWASEMBADA ENERGI MASA DEPAN
SUPERSEMAR NEWS — JAKARTA
Nasruddin Tueka, alumni Lemhannas 52 yang fokus pada studi ekonomi dan isu-isu strategis, menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar agenda global, melainkan kebutuhan fundamental Indonesia untuk mencapai swasembada energi yang berkelanjutan. Dalam berbagai interaksi strategisnya dengan pemangku kebijakan energi nasional—mulai dari sektor kelistrikan, gas, hingga regulator—ia melihat adanya mata rantai yang belum tersambung secara utuh dalam desain besar transisi energi nasional.
Menurutnya, tanpa fondasi kebijakan yang kuat, roadmap yang jelas, serta skema pembiayaan yang sustain, Indonesia berisiko tertinggal dalam perlombaan global menuju energi bersih sekaligus gagal mencapai kemandirian energi.
KRISIS DESAIN BESAR: TRANSISI ENERGI TANPA ROADMAP JELAS
Pertama-tama, Nasruddin menyoroti lemahnya desain teknokratis dalam kebijakan transisi energi nasional. Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki master plan roadmap yang benar-benar terintegrasi dari hulu ke hilir (end-to-end).
Padahal, di tingkat global, negara-negara maju telah mengembangkan roadmap transisi energi yang sistematis, terukur, dan berbasis data. Mereka tidak hanya berfokus pada pengurangan energi fosil, tetapi juga mengintegrasikan sektor industri, teknologi, pembiayaan, hingga inovasi riset dalam satu ekosistem besar.
Sebaliknya, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa:
- Fragmentasi kebijakan antar sektor
- Ketergantungan pada APBN yang terbatas
- Minimnya integrasi antara energi fosil dan energi baru terbarukan (EBT)
- Kurangnya keberlanjutan dalam pembiayaan jangka panjang
Akibatnya, transisi energi berjalan parsial, tidak sinkron, dan berisiko tidak mencapai target.
SKEMA PEMBIAYAAN: TITIK LEMAH TRANSISI ENERGI
Selanjutnya, persoalan krusial terletak pada pembiayaan. Saat ini, terdapat beberapa opsi skema pembiayaan:
- APBN
- Investasi swasta
- Pinjaman luar negeri
- Skema sovereign fund seperti BPI Danantara
Namun demikian, semua skema tersebut belum terintegrasi dalam satu desain pembiayaan nasional yang solid.
Nasruddin menegaskan bahwa tanpa strategi pembiayaan yang jelas, transisi energi hanya akan menjadi wacana. Ia menyebut bahwa negara-negara sukses justru menjadikan sektor energi sebagai mesin ekonomi, bukan beban fiskal.
MODEL GLOBAL: DUA PENDEKATAN TRANSISI ENERGI
1. Model Subsidi Silang dari Industri Migas
Negara seperti Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Norwegia, Inggris, dan Denmark menggunakan pendekatan berbasis kekuatan industri migas.
Dalam model ini:
- Industri migas harus sehat dan akuntabel
- Profit dari migas digunakan untuk mendanai transisi ke EBT
- Negara menjaga stabilitas produksi energi fosil sambil mengembangkan energi bersih
Pendekatan ini terbukti efektif karena:
- Memberikan sumber pembiayaan internal
- Mengurangi ketergantungan pada utang
- Menjaga stabilitas energi nasional
Namun, syarat utamanya adalah tata kelola migas yang transparan dan efisien.
2. Model Industri Teknologi EBT
Sementara itu, negara seperti Jerman, Jepang, China, dan Korea Selatan mengandalkan kekuatan industri teknologi.
Mereka:
- Memproduksi turbin angin, panel surya, dan teknologi hidrogen
- Mengekspor teknologi tersebut ke negara lain
- Menggunakan sebagian produksi untuk kebutuhan domestik
Dengan rasio produksi:
4 unit diproduksi → 3 dijual → 1 digunakan sendiri
Model ini menghasilkan:
- Keuntungan ekonomi
- Kemandirian teknologi
- Efisiensi energi
Indonesia hingga saat ini belum memiliki basis industri EBT yang kuat untuk mengikuti model ini.
INDONESIA: POTENSI BESAR, TANTANGAN BESAR
Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi yang sangat besar, antara lain:
- Energi surya
- Angin
- Air (hidro)
- Gelombang laut
- Panas bumi (geothermal)
Namun demikian, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
Di sisi lain, Indonesia juga memiliki kekuatan pada sektor kelapa sawit (CPO) yang dapat diolah menjadi bioenergi. Akan tetapi, sektor ini menghadapi tekanan global terkait isu lingkungan dan deforestasi.
Hal ini menyebabkan:
- Produk bioenergi Indonesia sulit diterima secara luas
- Terhambatnya ekspansi pasar internasional
- Terbatasnya kontribusi terhadap transisi energi global
MIGAS MASIH MENJADI TULANG PUNGGUNG

Nasruddin menegaskan bahwa dalam jangka menengah, migas masih menjadi tulang punggung energi nasional.
Oleh karena itu, strategi realistis adalah:
memperkuat industri migas untuk mendukung transisi energi.
Dalam konteks ini, ia terlibat dalam berbagai diskusi strategis dengan pemangku kepentingan:
- Bersama Nicky Widyawati pada 2017 terkait Power Purchase Agreement (PPA) dengan Bekasi Power 130 MW berbasis gas
- Bersama Kurnia Chaeri mengenai kebijakan harga gas untuk pembangkit listrik
- Bersama Arief S. Handoko terkait kesiapan pasokan gas untuk power plant
Diskusi tersebut menunjukkan bahwa gas bumi menjadi jembatan penting dalam transisi energi, karena:
- Lebih bersih dibanding batu bara
- Infrastruktur relatif sudah tersedia
- Stabil untuk pembangkit listrik

PERAN KRITIS REGULASI PEMERINTAH
Selain itu, peran pemerintah menjadi sangat krusial, terutama dalam:
- Penetapan harga energi
- Insentif investasi
- Regulasi lingkungan
- Kepastian hukum
Nasruddin juga menyinggung pentingnya dukungan dari Dirjen Migas dalam membangun kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan energi nasional.
Tanpa regulasi yang kuat, investor akan ragu, dan transisi energi akan berjalan lambat.
ENERGI NUKLIR: MASA DEPAN ATAU RISIKO?
Secara global, energi nuklir—terutama fusi nuklir—mulai dilirik sebagai solusi jangka panjang.
Namun demikian, Indonesia masih menghadapi tantangan besar:
- Tingkat keamanan yang sangat tinggi
- Kesiapan teknologi
- Penerimaan masyarakat
Oleh karena itu, energi nuklir masih menjadi opsi jangka panjang yang memerlukan kajian mendalam.
INOVASI DAN RISET: KUNCI MASA DEPAN
Lebih lanjut, Nasruddin menekankan bahwa keberhasilan transisi energi sangat bergantung pada:
- Inovasi teknologi
- Riset berkelanjutan
- Transformasi pengetahuan
Indonesia perlu:
- Meningkatkan investasi di bidang riset EBT
- Mengembangkan SDM energi
- Mendorong kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah
Tanpa inovasi, Indonesia hanya akan menjadi pasar, bukan pemain dalam industri energi global.
STRATEGI NASIONAL MENUJU SWASEMBADA ENERGI

Untuk mencapai swasembada energi, Nasruddin menawarkan strategi komprehensif:
1. Reformasi Total Industri Migas
- Transparansi dan akuntabilitas
- Efisiensi produksi
- Optimalisasi profit
2. Integrasi Roadmap Nasional
- Penyusunan master plan transisi energi
- Sinkronisasi lintas kementerian
- Target yang terukur dan realistis
3. Penguatan Industri EBT
- Insentif untuk manufaktur teknologi energi
- Transfer teknologi
- Pengembangan industri dalam negeri
4. Diversifikasi Sumber Energi
- Optimalisasi energi lokal
- Pengurangan ketergantungan impor
5. Reformasi Pembiayaan
- Integrasi APBN, investasi, dan sovereign fund
- Skema pembiayaan berkelanjutan
ANALISIS INVESTIGATIF: APA YANG TERLEWAT?
Dalam investigasi Supersemar News, ditemukan bahwa kelemahan utama Indonesia bukan pada sumber daya, melainkan pada:
- Koordinasi kebijakan
- Kepemimpinan strategis
- Konsistensi implementasi
Banyak program energi berhenti di tahap wacana tanpa eksekusi yang jelas.
SARAN STRATEGIS KEPADA PRESIDEN
Sebagai penutup, Nasruddin menyampaikan rekomendasi strategis kepada Presiden:
- Segera bentuk Dewan Transisi Energi Nasional
Sebagai pusat koordinasi lintas sektor - Tetapkan Master Plan Nasional Transisi Energi
Dengan target jangka pendek, menengah, dan panjang - Perkuat Industri Migas sebagai Fondasi Pembiayaan
Untuk mendukung transisi ke EBT - Bangun Industri Teknologi Energi Dalam Negeri
Agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen - Dorong Investasi Riset dan Inovas Untuk menciptakan kemandirian teknologi
- Pastikan Kepastian Regulasi dan Harga Energi Untuk menarik investor
MOMENTUM YANG TIDAK BOLEH HILANG
Transisi energi bukan pilihan, melainkan keharusan. Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara mandiri energi, tetapi waktu tidak menunggu.
Tanpa langkah cepat, terukur, dan terintegrasi, Indonesia berisiko menjadi penonton dalam perubahan global.
Sebaliknya, dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat:
- Mencapai swasembada energi
- Meningkatkan daya saing ekonomi
- Menjadi pemain utama dalam energi masa depan
SUPERSEMAR NEWS menegaskan: masa depan energi Indonesia ditentukan hari ini—oleh keberanian mengambil keputusan strategis.***(SB)
SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
