HIPMAPI Majalengka menyambut Ketua Umum H. M. Gunther Gemparalam dalam agenda konsolidasi dan penguatan petani.

MAJALENGKA, SUPERSEMAR NEWS – Kunjungan Ketua Umum Himpunan Petani Merah Putih Indonesia (HIPMAPI) H. M. Gunther Gemparalam ke wilayah Cirebon dan Majalengka tidak sekadar menjadi agenda konsolidasi organisasi. Di balik pertemuan tersebut tersimpan pesan yang jauh lebih strategis, yakni bagaimana organisasi petani dapat membangun kekuatan berbasis wilayah, memperkuat sinergi antardaerah, serta mendorong transformasi petani melalui pendidikan, teknologi, dan penguatan nilai tambah hasil pertanian.

Dalam kunjungan tersebut, Rifay Marzuki, CEO Faytastic Pro sekaligus Dewan Pembina Supersemar News, melakukan wawancara khusus dengan Ketua Umum HIPMAPI H. M. Gunther Gemparalam. Wawancara juga menghadirkan H. Didin Hatta selaku Dewan Penasehat HIPMAPI Majalengka dan Drs. H. Ali Surahman sebagai Ketua HIPMAPI Majalengka.

Rangkaian wawancara itu memperlihatkan satu benang merah yang cukup kuat. HIPMAPI tidak ingin berhenti sebagai organisasi yang hanya berbicara mengenai petani. Organisasi tersebut diarahkan untuk menjadi ruang konsolidasi, pendidikan, pendampingan, dan penguatan posisi petani di tengah perubahan sektor pertanian yang semakin cepat.

Pernyataan Gunther Gemparalam menjadi penting karena ia menempatkan tiga kata sebagai fondasi gerakan, yakni tangguh, unggul, dan bermartabat. Tiga prinsip tersebut bukan sekadar slogan organisasi. Jika diterjemahkan ke dalam kerja nyata, ketiganya harus diwujudkan melalui peningkatan kemampuan petani, pemanfaatan teknologi, penguatan kelembagaan, akses terhadap pasar, serta kemampuan mengelola hasil produksi agar memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Gunther Gemparalam: Cirebon dan Majalengka Harus Saling Menguatkan

Dalam wawancara khusus tersebut, H. M. Gunther Gemparalam menegaskan bahwa Korwil HIPMAPI Cirebon yang dipimpin Profesor Dr. Sugianto masih tergolong baru. Karena itu, proses konsolidasi dan pemahaman terhadap misi organisasi menjadi bagian penting dalam tahap awal penguatan kelembagaan.

Menurut Gunther, pesan utama yang harus ditanamkan kepada jajaran HIPMAPI di daerah adalah membangun petani yang tangguh, unggul, dan bermartabat.

Pernyataan tersebut memiliki konsekuensi besar. Sebab, persoalan petani tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan jumlah produksi. Petani juga harus memiliki kemampuan mengelola produksi, memahami teknologi, membaca kebutuhan pasar, mengembangkan komoditas lokal, dan memperoleh nilai tambah yang layak.

Di sinilah sinergi Cirebon dan Majalengka menjadi relevan.

Gunther melihat kedekatan geografis kedua wilayah sebagai modal sosial yang seharusnya dimanfaatkan. Cirebon dan Majalengka memang merupakan dua wilayah administratif yang berbeda, tetapi hubungan ekonomi, sosial, distribusi barang, serta aktivitas masyarakat tidak berhenti pada batas administratif.

Dengan demikian, menurut perspektif tersebut, HIPMAPI dapat memainkan peran sebagai jembatan antardaerah.

Gagasan ini sejalan dengan kebutuhan pembangunan pertanian modern yang semakin menuntut keterhubungan antara petani, teknologi, kelembagaan, dan pasar. Pemerintah melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) sendiri menempatkan modernisasi, mekanisasi, digitalisasi, inovasi, produktivitas, efisiensi, dan daya saing sebagai bagian penting transformasi pertanian. Rujukan BRMP mengenai modernisasi pertanian memperlihatkan bahwa modernisasi tidak semata-mata berarti penggunaan mesin, tetapi juga perubahan sistem pengelolaan pertanian.

Karena itu, konsolidasi HIPMAPI di Cirebon dan Majalengka berpotensi menjadi lebih bermakna apabila diarahkan pada program yang konkret dan terukur.

Ketua Umum HIPMAPI H. M. Gunther Gemparalam, Rifay Marzuki Dewan Pembina Supersemar News bersama jajaran HIPMAPI Majalengka dalam agenda konsolidasi dan penguatan petani.

Jawa Barat dan Potensi Pertanian yang Tidak Bisa Diabaikan

Gunther juga menyinggung posisi Jawa Barat sebagai salah satu kawasan penting dalam sektor pertanian nasional.

Pernyataan mengenai Jawa Barat sebagai wilayah pertanian harus dilihat secara lebih luas. Kekuatan pertanian daerah tidak hanya berada pada komoditas pangan, tetapi juga pada keragaman komoditas hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, hingga produk olahan.

Majalengka, misalnya, memiliki karakter pertanian yang berbeda dengan daerah lain. Komoditas seperti mangga telah menjadi bagian dari identitas ekonomi masyarakat setempat. Karena itu, pengembangan pertanian seharusnya tidak menggunakan satu pendekatan yang seragam.

Kearifan lokal justru harus menjadi kekuatan.

Dalam konteks tersebut, HIPMAPI dapat mendorong agar komoditas unggulan daerah tidak berhenti sebagai produk primer. Mangga, jagung, padi, maupun komoditas lainnya perlu didorong menuju pengolahan, pengemasan, standardisasi, pemasaran digital, dan penguatan merek.

Dengan cara itu, petani tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga dapat mengambil posisi lebih kuat dalam rantai nilai agribisnis.

H. Didin Hatta: Ali Surahman Dinilai Mampu Memimpin HIPMAPI Majalengka

Sementara itu, H. Didin Hatta sebagai Dewan Penasehat HIPMAPI Majalengka memberikan penilaian terhadap sosok Drs. H. Ali Surahman yang dipercaya memimpin HIPMAPI Kabupaten Majalengka.

Didin terlebih dahulu menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Ali Surahman. Menurutnya, Ali dinilai memiliki kemampuan untuk mengembangkan HIPMAPI di tengah masyarakat, khususnya dalam menampung aspirasi petani.

Penilaian tersebut menarik karena keberhasilan organisasi petani pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas kepemimpinan di tingkat daerah.

Ketua cabang tidak cukup hanya memiliki posisi formal. Ia harus mampu membangun komunikasi dengan petani, memahami persoalan lapangan, menjembatani kepentingan masyarakat dengan pemangku kebijakan, serta memastikan program organisasi benar-benar menyentuh kebutuhan petani.

Karena itu, pernyataan Didin mengenai potensi Ali Surahman sebagai sosok yang mampu membangun kepemimpinan HIPMAPI Majalengka menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab.

Ali kini memiliki pekerjaan rumah yang tidak sederhana.

Ia harus membuktikan bahwa HIPMAPI dapat hadir bukan hanya ketika terjadi persoalan, tetapi juga ketika petani membutuhkan pengetahuan, akses teknologi, jaringan pemasaran, pendampingan, dan penguatan kapasitas usaha.

Ali Surahman Membawa Agenda Modernisasi Pertanian

Drs. H. Ali Surahman dalam wawancara tersebut menyampaikan gagasan yang lebih konkret. Ia menempatkan pendidikan dan pelatihan petani sebagai salah satu agenda yang perlu segera dijalankan.

Gagasan tersebut patut mendapat perhatian.

Ali menilai modernisasi pertanian harus dimulai dari peningkatan pengetahuan petani. Artinya, teknologi tidak boleh sekadar diberikan dalam bentuk alat, tetapi harus disertai kemampuan mengoperasikan, memelihara, mengevaluasi, dan mengembangkan teknologi tersebut sesuai kebutuhan lapangan.

Pandangan itu sejalan dengan arah modernisasi pertanian nasional. BRMP menjelaskan bahwa penerapan teknologi modern mencakup mekanisasi, digitalisasi, inovasi proses budi daya, serta pengembangan teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.

Dengan demikian, pendidikan dan pelatihan yang direncanakan HIPMAPI Majalengka dapat menjadi pintu masuk untuk membangun petani yang lebih adaptif.

Petani perlu memahami perubahan iklim, efisiensi penggunaan air dan pupuk, pengendalian hama, penggunaan alat mesin pertanian, pengelolaan pascapanen, pemasaran digital, hingga pencatatan biaya produksi.

Lebih jauh lagi, pelatihan harus diarahkan pada peningkatan pendapatan.

Sebab, ukuran keberhasilan modernisasi pertanian bukan hanya sawah yang menggunakan teknologi atau petani yang memiliki alat modern. Ukuran yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut mampu menurunkan biaya produksi, meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas produk, memperluas pasar, dan meningkatkan pendapatan petani.

Dari Petani Produsen Menjadi Pelaku Agribisnis

Inilah tantangan terbesar yang perlu dijawab HIPMAPI Majalengka.

Selama ini, petani sering berada pada posisi paling lemah dalam rantai pasok. Mereka menghasilkan produk, tetapi belum tentu memiliki kendali terhadap harga, distribusi, pengolahan, dan pemasaran.

Karena itu, pendidikan pertanian harus diperluas menjadi pendidikan agribisnis.

Petani perlu memahami bahwa hasil panen memiliki nilai ekonomi yang berbeda pada setiap tahap rantai produksi. Produk yang dijual dalam bentuk mentah tentu memiliki nilai berbeda dibandingkan produk yang sudah melalui proses sortasi, pengemasan, pengolahan, sertifikasi, dan pemasaran dengan merek yang kuat.

Di sinilah organisasi petani dapat mengambil peran strategis.

HIPMAPI dapat membangun kelompok usaha, koperasi, pusat distribusi, jaringan pemasaran, atau kemitraan dengan pelaku industri. Namun, semua itu membutuhkan tata kelola yang transparan dan kemampuan manajemen yang profesional.

Tanpa tata kelola yang kuat, organisasi petani berisiko hanya menjadi tempat berkumpul tanpa menghasilkan perubahan ekonomi yang nyata.

Cirebon-Majalengka: Momentum Membangun Ekosistem Petani

Pesan Gunther Gemparalam mengenai hubungan Cirebon dan Majalengka juga harus diterjemahkan menjadi agenda lintas wilayah.

Kedua daerah dapat saling melengkapi melalui pertukaran pengetahuan, distribusi komoditas, jaringan pasar, pengembangan produk unggulan, hingga pelatihan petani.

Jika HIPMAPI mampu membangun model tersebut, organisasi tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi pertanian.

Model ini penting karena persoalan pertanian semakin kompleks. Petani menghadapi perubahan harga, biaya produksi, perubahan iklim, keterbatasan tenaga kerja, tuntutan kualitas produk, serta perubahan pola konsumsi masyarakat.

Karena itu, organisasi petani harus bergerak lebih cepat.

Supersemar News sebelumnya juga menyoroti pentingnya modernisasi dan digitalisasi pertanian dalam konteks peningkatan produktivitas serta ketahanan pangan. Baca kanal teknologi Supersemar News. Perspektif tersebut memperkuat argumen bahwa pertanian masa depan membutuhkan kombinasi antara sumber daya manusia, teknologi, kelembagaan, dan inovasi.

Tiga Tokoh, Satu Tantangan Besar

Jika disarikan, wawancara Rifay Marzuki dengan tiga tokoh tersebut memperlihatkan tiga lapisan agenda.

H. M. Gunther Gemparalam berbicara pada level arah organisasi. Ia menekankan pentingnya konsolidasi, sinergi wilayah, dan pembentukan petani yang tangguh, unggul, sDerta bermartabat.

H. Didin Hatta berbicara pada level kepemimpinan daerah. Ia memberikan dukungan terhadap Ali Surahman dan melihat adanya potensi kepemimpinan yang dapat membawa HIPMAPI Majalengka lebih dekat dengan masyarakat.

Sementara itu, Drs. H. Ali Surahman berbicara pada level implementasi. Ia membawa agenda pendidikan, pelatihan, modernisasi, teknologi tepat guna, serta peningkatan nilai tambah hasil pertanian.

Ketiganya sebenarnya saling melengkapi.

Arah organisasi membutuhkan pemimpin. Pemimpin membutuhkan legitimasi dan pengawasan. Sementara program membutuhkan kemampuan teknis serta keterlibatan langsung masyarakat.

Karena itu, keberhasilan HIPMAPI Majalengka ke depan tidak cukup diukur dari banyaknya struktur organisasi yang terbentuk.

Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak petani yang memperoleh manfaat.

Saatnya Program HIPMAPI Diukur dari Dampaknya

HIPMAPI Majalengka kini memiliki momentum untuk membuktikan gagasan tersebut.

Program pendidikan dan pelatihan dapat dibuat secara bertahap. Pertama, organisasi dapat memetakan kebutuhan petani berdasarkan komoditas dan wilayah. Kedua, menentukan materi pelatihan yang benar-benar dibutuhkan. Ketiga, menghadirkan tenaga ahli dan praktisi. Keempat, melakukan pendampingan setelah pelatihan. Kelima, mengukur dampaknya terhadap produktivitas dan pendapatan.

Pendekatan semacam itu lebih efektif daripada sekadar menyelenggarakan pelatihan satu hari tanpa tindak lanjut.

Teknologi pun harus dipilih berdasarkan kebutuhan.

BRMP menekankan pentingnya teknologi yang tepat guna, pengelolaan berkelanjutan, rekomendasi berbasis kebutuhan wilayah, serta standardisasi mutu. Karena itu, HIPMAPI dapat menjadikan prinsip tersebut sebagai referensi dalam menyusun program di tingkat daerah.

Pada akhirnya, petani tidak membutuhkan janji yang terlalu besar. Petani membutuhkan solusi yang dapat dirasakan.

Mereka membutuhkan akses terhadap pengetahuan, teknologi, modal, pasar, infrastruktur, perlindungan usaha, dan jaringan yang dapat memperkuat posisi mereka.

HIPMAPI Harus Hadir di Tengah Petani

Kunjungan Gunther Gemparalam ke Cirebon dan Majalengka dengan demikian harus dibaca sebagai awal dari pekerjaan yang lebih besar.

Konsolidasi organisasi merupakan langkah pertama. Setelah itu, program harus turun ke sawah, kebun, peternakan, perikanan, dan sentra produksi masyarakat.

Pesan petani tangguh, unggul, dan bermartabat harus memiliki indikator yang jelas.

Petani disebut tangguh ketika mampu menghadapi perubahan dan memiliki kapasitas usaha yang kuat. Petani disebut unggul ketika mampu meningkatkan produktivitas, kualitas, inovasi, dan daya saing. Sementara petani disebut bermartabat ketika memperoleh penghargaan yang layak atas pekerjaannya dan mendapatkan posisi yang lebih adil dalam rantai ekonomi pertanian.

Di titik inilah kepemimpinan H. M. Gunther Gemparalam, peran penasihat H. Didin Hatta, serta kepemimpinan Drs. H. Ali Surahman di Majalengka akan diuji oleh waktu.

Masyarakat tidak hanya akan melihat apa yang dikatakan para pemimpin HIPMAPI. Masyarakat akan melihat apa yang benar-benar dilakukan.

Jika pendidikan berubah menjadi kompetensi, kompetensi berubah menjadi produktivitas, produktivitas berubah menjadi nilai tambah, dan nilai tambah akhirnya meningkatkan pendapatan petani, maka HIPMAPI memiliki alasan kuat untuk disebut sebagai organisasi yang benar-benar bekerja.

Namun, jika konsolidasi hanya berhenti pada seremoni dan struktur kepengurusan, maka pesan tentang petani tangguh, unggul, dan bermartabat akan kehilangan makna.

Karena itu, momentum Cirebon-Majalengka harus menjadi titik awal.

Bukan sekadar kunjungan.

Bukan sekadar wawancara.

Melainkan langkah awal untuk membangun ekosistem pertanian yang lebih kuat, modern, berpengetahuan, berbasis teknologi, serta mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih besar kepada petani.

SUPERSEMAR NEWS – Pada akhirnya, masa depan petani tidak hanya ditentukan oleh luas lahan dan besarnya produksi, tetapi juga oleh kemampuan petani menguasai pengetahuan, teknologi, organisasi, dan pasar. Di situlah HIPMAPI dituntut membuktikan bahwa gerakannya benar-benar berpihak kepada petani.***(SB)

SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
Editor : Sangga Buana
Sumber : Supersemar News — Wawancara dan dokumentasi langsung agenda kunjungan Ketua Umum HIPMAPI H. M. Gunther Gemparalam bersama jajaran HIPMAPI Majalengka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *