K.H. Agus Shohib Khairon, Pembina Yayasan Mustaqilli, menjelaskan program Arabic Camp Mustaqili dan penguatan kemampuan bahasa Arab santri Al-Amin Mojokerto.

MOJOKERTO, SUPERSEMAR NEWS — Uji publik dan Haflatul Ikhtitam program Arabic Camp Mustaqilli di Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto menjadi momentum penting untuk melihat sejauh mana proses pembelajaran bahasa Arab mampu diterapkan santri secara langsung.

Kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni penutup program. Di hadapan pengajar, pimpinan pesantren, dan wali santri, kemampuan peserta diuji secara terbuka melalui berbagai materi bahasa Arab, mulai dari hafalan kosakata atau mufradat, tata bahasa nahwu dan shorof, penyusunan kalimat, penerjemahan, hingga membaca serta memahami makna ayat Al-Qur’an.

Format uji publik itu sekaligus memperlihatkan bahwa pembelajaran bahasa tidak cukup berhenti pada kemampuan menghafal teori. Santri harus mampu menggunakan pengetahuan tersebut secara aktif, terukur, dan komunikatif.

Kegiatan ini menjadi bagian akhir dari rangkaian matrikulasi dan intensif camp pembelajaran bahasa Arab dengan metode Mustaqilli yang diberikan selama kurang lebih satu bulan. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan percakapan atau muhadatsah bahasa Arab dengan pendekatan pembelajaran yang aplikatif.

Konteks tersebut sejalan dengan perhatian Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto terhadap penguatan bahasa asing. Dalam profil resminya, Al-Amin menyebut bahasa sebagai salah satu dari tiga keunggulan pesantren, bersama kajian kitab kuning dan kepemimpinan.

Uji Publik Menjadi Cermin Hasil Pembelajaran

Ada hal penting dari penyelenggaraan uji publik tersebut. Peserta tidak hanya diminta menjawab pertanyaan di ruang kelas, tetapi harus menunjukkan kemampuan bahasa Arab dalam situasi terbuka.

Pemilihan santri dan santriwati serta materi ujian dilakukan secara acak. Pola tersebut memberikan gambaran bahwa peserta dituntut memiliki kesiapan yang relatif menyeluruh, bukan sekadar menghafal materi yang sudah diprediksi sebelumnya.

Materi ujian juga menunjukkan cakupan pembelajaran yang cukup luas. Peserta berhadapan dengan kosakata, tata bahasa, pembentukan kalimat, penerjemahan, membaca teks Arab, sampai memahami kandungan bahasa dalam ayat Al-Qur’an.

Dengan demikian, Arabic Camp Mustaqilli tidak hanya dapat dibaca sebagai program kursus bahasa Arab dalam waktu singkat. Lebih jauh, kegiatan itu menjadi ruang evaluasi untuk mengukur kemampuan santri setelah menjalani pembelajaran intensif.

Di sinilah uji publik memiliki nilai pendidikan yang penting. Kemampuan yang sebelumnya dipelajari secara bertahap di kelas harus dibuktikan melalui praktik.

Bagi wali santri, kegiatan tersebut juga memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung perkembangan anak mereka. Sementara bagi pengajar, hasil uji publik dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan aspek yang masih perlu diperkuat.

K.H. Agus Shohib Khairon: Lima Level Menuju Kemampuan Bahasa Arab

Pembina Yayasan Mustaqilli, K.H. Agus Shohib Khairon, S.Ag., Lc., menjelaskan bahwa metode Mustaqilli memiliki lima level pembelajaran.

Menurut KH. Agus, jenjang tersebut dimulai dari level nol besar, yakni peserta yang belum mampu membaca dan menulis bahasa Arab, hingga level lima yang diarahkan untuk mencapai kemampuan lebih tinggi.

“Iya, di Mustaqilli ini ada lima level, dari nol besar, belum mampu membaca, belum mampu menulis, sampai di level lima itu nanti siap kuliah ke luar negeri.”

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa konsep pembelajaran Mustaqilli yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada kemampuan percakapan sehari-hari. Program itu juga diarahkan untuk membangun fondasi bahasa yang dapat digunakan peserta dalam melanjutkan pendidikan.

KH. Agus menyebut sejumlah tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada level tersebut, termasuk kesiapan melanjutkan studi ke Makkah, Madinah, Kairo, Mesir, Yordania, serta lingkungan pendidikan lain yang membutuhkan kemampuan bahasa Arab.

Dalam wawancaranya, KH. Agus juga menyampaikan target penguasaan sekitar 6.500 mufradat. Selain kosakata, keterampilan yang diprioritaskan mencakup percakapan bahasa Arab, kemampuan mengarang dalam bahasa Arab, membaca serta memahami teks Arab tanpa harakat, dan penguasaan kaidah bahasa.

Pernyataan itu memperlihatkan satu persoalan penting dalam pembelajaran bahasa asing: penguasaan bahasa membutuhkan lebih dari sekadar hafalan kosakata.

Kosakata menjadi fondasi, tetapi kemampuan berbahasa akan semakin kuat apabila peserta mampu menggunakannya dalam percakapan, menyusun kalimat, memahami struktur bahasa, membaca teks, dan menangkap maknanya.

Karena itu, lima level yang dijelaskan KH. Agus dapat dipahami sebagai upaya membangun kemampuan secara bertahap. Peserta tidak langsung ditempatkan pada kemampuan lanjutan, tetapi diarahkan dari kemampuan dasar menuju tingkat yang lebih kompleks.

Dari Muhadatsah hingga Memahami Teks Tanpa Harakat

Salah satu aspek penting dalam pembelajaran bahasa Arab adalah kemampuan muhadatsah atau percakapan.

Kemampuan berbicara membuat bahasa tidak berhenti sebagai pengetahuan pasif. Santri dituntut menggunakan kosakata dan struktur bahasa untuk menyampaikan gagasan secara langsung.

Namun, pembelajaran bahasa Arab di lingkungan pesantren memiliki tantangan yang lebih luas. Santri tidak hanya membutuhkan kemampuan berbicara, tetapi juga perlu memahami teks keagamaan dan literatur berbahasa Arab.

Karena itu, kemampuan membaca teks tanpa harakat menjadi salah satu bagian yang memiliki tingkat kompleksitas tersendiri. Pembaca harus mengenali struktur kalimat, memahami perubahan bentuk kata, serta menentukan makna berdasarkan konteks.

Pada titik inilah pembelajaran nahwu dan shorof menjadi penting.

Nahwu membantu peserta memahami struktur kalimat, sedangkan shorof berkaitan dengan perubahan bentuk kata. Keduanya menjadi instrumen untuk memahami bagaimana sebuah kalimat Arab dibentuk dan bagaimana sebuah kata dapat berubah sesuai konteks.

Uji publik yang menggabungkan mufradat, nahwu, shorof, penerjemahan, membaca, serta pemaknaan ayat menunjukkan bahwa kemampuan bahasa Arab yang diuji tidak berdiri dalam satu dimensi.

Peserta ditantang menghubungkan berbagai kemampuan tersebut dalam satu proses pembelajaran.

K.H. Akhmad Jazuli Aziz: Bahasa Arab dan Wawasan Global

K.H. Akhmad Jazuli Aziz, Ketua Dewan Pengasuh Ponpes Al-Amin Mojokerto, menegaskan pentingnya Arabic Camp Mustaqilli untuk meningkatkan kemampuan bahasa Arab dan wawasan global santri.

Sementara itu, K.H. Akhmad Jazuli Aziz, S.H., M.Si., Ketua Dewan Pengasuh Ponpes Al-Amin, melihat penguasaan bahasa Arab sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan santri.

Menurut KH. Akhmad Jazuli, santri yang telah memiliki kemampuan bahasa Arab melalui pembinaan Mustaqilli diharapkan dapat melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

“Harapan kami ke depannya, santri-santri yang sudah mahir bahasa Arab dari pembinaan Mustaqilli ini, ke depan anak-anak bisa melakukan ke luar negeri, misal ke Al Azhar.”

Ia kemudian menyebut bahwa sebelumnya sudah ada dua santri yang melanjutkan pendidikan ke Al-Azhar.

Harapan tersebut menjadi bagian penting dalam melihat arah pendidikan bahasa Arab di Pondok Pesantren Al-Amin. Penguasaan bahasa tidak ditempatkan semata sebagai keterampilan tambahan, tetapi sebagai salah satu modal untuk membuka akses terhadap lingkungan pendidikan yang lebih luas.

KH. Akhmad Jazuli juga menyampaikan harapan agar santri dapat melanjutkan pendidikan ke berbagai wilayah, termasuk Timur Tengah.

Menurutnya, wawasan santri diharapkan tidak hanya terbatas pada Indonesia, tetapi dapat berkembang menjadi wawasan global.

Pesan tersebut sekaligus memperlihatkan hubungan antara bahasa dan mobilitas pendidikan. Ketika seseorang menguasai bahasa yang digunakan dalam lingkungan akademik tertentu, akses terhadap literatur, komunikasi, dan proses pembelajaran juga menjadi lebih terbuka.

Karena itu, penguatan bahasa Arab sejak di pesantren dapat menjadi salah satu bagian dari persiapan akademik bagi santri yang memiliki rencana melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

“Bahasa adalah Jendela Dunia”

KH. Akhmad Jazuli juga mengajak wali santri untuk memberikan dukungan terhadap proses belajar anak.

Ia menekankan pentingnya gairah dan semangat belajar bahasa Arab karena bahasa dipandang sebagai jendela dunia.

Pesan tersebut memiliki relevansi kuat dengan tantangan pendidikan saat ini. Dunia pendidikan semakin terbuka dan interaksi antarnegara semakin intensif. Penguasaan bahasa asing dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses terhadap pengetahuan.

Namun, dukungan keluarga tetap menjadi faktor penting. Program intensif selama satu bulan tidak otomatis menjamin penguasaan bahasa apabila proses pembelajaran berhenti setelah program berakhir.

Justru, keberlanjutan menjadi tantangan berikutnya.

Santri membutuhkan ruang untuk terus menggunakan bahasa Arab dalam percakapan sehari-hari, membaca teks, menulis, serta mengikuti kegiatan akademik yang mendorong penggunaan bahasa secara aktif.

Dengan kata lain, keberhasilan Arabic Camp Mustaqili tidak hanya dapat diukur dari hasil uji publik. Ukuran yang lebih panjang adalah apakah kemampuan tersebut bertahan dan berkembang setelah program selesai.

Al-Amin dan Penguatan Pendidikan Bahasa

Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto sendiri memiliki sejarah kelembagaan yang panjang. Profil resmi pesantren mencatat Al-Amin berdiri pada 16 Juli 2000 dan mengembangkan pendidikan dengan perpaduan kurikulum pendidikan nasional serta kurikulum pesantren.

Pesantren tersebut juga secara resmi menempatkan bahasa sebagai salah satu keunggulan pendidikannya. Pembiasaan bahasa Arab dan Inggris menjadi bagian dari lingkungan pendidikan yang dibangun di pesantren.

Karena itu, kehadiran program Arabic Camp Mustaqili dapat ditempatkan dalam konteks penguatan ekosistem bahasa yang sudah menjadi perhatian lembaga.

Program intensif memberikan ruang tambahan bagi santri untuk meningkatkan kemampuan secara terstruktur. Sementara itu, lingkungan pesantren menyediakan ruang untuk mempertahankan penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Model seperti ini penting karena bahasa pada dasarnya membutuhkan praktik berulang.

Tantangan Setelah Uji Publik

Arabic Camp Mustaqilli di Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto — Santri mengikuti Uji Publik dan Haflatul Ikhtitam sebagai bagian dari pembelajaran bahasa Arab intensif untuk meningkatkan kemampuan muhadatsah dan mempersiapkan pendidikan global.

Uji publik dan Haflatul Ikhtitam memang menjadi titik akhir sebuah program, tetapi bukan akhir dari proses pembelajaran.

Justru setelah program selesai, tantangan berikutnya muncul: bagaimana menjaga kemampuan yang telah diperoleh.

Santri yang telah menguasai kosakata harus terus menggunakannya. Santri yang telah belajar nahwu dan shorof harus terus membaca teks. Kemampuan muhadatsah juga perlu dipraktikkan agar tidak kembali menjadi pengetahuan pasif.

Dengan demikian, kesinambungan program menjadi bagian penting dalam membaca keberhasilan pembelajaran.

Program satu bulan dapat menjadi pemicu. Namun, pembentukan kemampuan bahasa yang kuat membutuhkan proses berkelanjutan, lingkungan yang mendukung, evaluasi berkala, dan kesempatan praktik.

Dalam konteks ini, uji publik memiliki fungsi lain. Hasil yang terlihat di hadapan pengajar dan wali santri dapat menjadi titik awal untuk menentukan langkah pembelajaran berikutnya.

Dari Pesantren Menuju Pendidikan Global

Pernyataan K.H. Agus Shohib Khairon tentang lima level Mustaqilli dan harapan K.H. Akhmad Jazuli Aziz agar santri memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri memperlihatkan arah yang relatif jelas.

Bahasa Arab tidak hanya ditempatkan sebagai mata pelajaran. Bahasa diposisikan sebagai alat komunikasi, alat memahami teks, sekaligus pintu menuju lingkungan pendidikan yang lebih luas.

Namun, target tersebut membutuhkan proses yang konsisten.

Kemampuan menuju level mahir tidak dapat hanya dibangun melalui hafalan. Santri perlu mengembangkan empat kemampuan utama, yakni mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Keempatnya kemudian harus diperkuat dengan pemahaman tata bahasa dan kosakata.

Karena itu, metode pembelajaran yang aplikatif menjadi penting.

Uji publik di Al-Amin memperlihatkan bahwa pembelajaran tersebut diarahkan pada kemampuan yang dapat ditampilkan secara langsung. Santri tidak hanya belajar untuk mengetahui, tetapi juga belajar untuk menggunakan.

Bahasa Arab sebagai Bekal Masa Depan Santri

Arabic Camp Mustaqilli di Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto memperlihatkan bahwa pembelajaran bahasa Arab dapat dikembangkan melalui kombinasi antara pembelajaran intensif, praktik, evaluasi terbuka, dan dukungan lingkungan pesantren.

Wawancara K.H. Agus Shohib Khairon menegaskan struktur pembelajaran Mustaqili melalui lima level, mulai dari kemampuan dasar hingga tingkat yang diarahkan untuk mendukung kesiapan studi lebih lanjut.

Sementara itu, K.H. Akhmad Jazuli Aziz menekankan pentingnya orientasi global. Ia berharap santri Al-Amin tidak hanya memiliki wawasan nasional, tetapi juga mampu membuka akses pendidikan ke berbagai negara.

Dua pandangan tersebut bertemu pada satu titik: bahasa Arab harus menjadi keterampilan yang hidup, bukan sekadar materi pembelajaran.

Uji publik menjadi pembuktian awal. Haflatul Ikhtitam menjadi penanda berakhirnya satu tahapan. Namun, perjalanan santri untuk benar-benar menguasai bahasa Arab masih panjang.

Jika kemampuan tersebut terus dipraktikkan, dikembangkan, dan dievaluasi, bahasa Arab dapat menjadi salah satu bekal penting bagi santri untuk memahami khazanah keislaman sekaligus memperluas akses terhadap pendidikan global.

Pada akhirnya, pendidikan bahasa bukan hanya tentang seberapa banyak kosakata yang berhasil dihafalkan. Lebih dari itu, pendidikan bahasa menyangkut kemampuan memahami, berkomunikasi, membaca pengetahuan, menyampaikan gagasan, dan membangun jembatan dengan dunia yang lebih luas.

Dari ruang belajar pesantren di Mojokerto, cita-cita tersebut mulai diuji secara terbuka.

SUPERSEMAR NEWS mencatat, keberanian santri berbicara dan menunjukkan kemampuan bahasa Arab di hadapan publik merupakan bagian dari proses pendidikan yang patut terus dikembangkan secara konsisten, terukur, dan berkelanjutan.***(SB)

SupersemarNewsTeam
Reporter : R/Rifay Marzuki
Editor : Sangga Buana
Sumber Berita : Wawancara langsung dengan K.H. Agus Shohib Khairon, S.Ag., Lc., Pembina Yayasan Mustaqilli, dan K.H. Akhmad Jazuli Aziz, S.H., M.Si., Ketua Dewan Pengasuh Ponpes Al-Amin, serta informasi resmi Pondok Pesantren Al-Amin Mojokerto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *