
Ketika Trump meniru Mao: dari kultus pribadi hingga revolusi ala populis.
SUPERSEMAR NEWS BOGOR – Hong Kong, CNN – Seorang mantan Pengawal Merah Tiongkok, Ding Xueliang, mengaku melihat bayangan Revolusi Kebudayaan Mao pada kebijakan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat.
Pada usia 13 tahun, Ding mengikuti gerakan radikal Mao yang menghancurkan struktur lama demi ideologi baru. Kini, sebagai pakar politik di Hong Kong, ia mencermati kemiripan antara gaya pemerintahan Trump dan Mao.
“Bukan identik, tapi ada kesamaan,” ujar Ding.
Trump dan Kemarahan Populis
Trump menghancurkan birokrasi federal, memangkas pegawai negeri, dan menyerang kampus elite seperti Harvard. Ia mengusung slogan anti-“woke”, seraya menyerukan kebijakan proteksionis dan nasionalisme ekonomi.
Gaya Trump mencerminkan Mao: anti-intelektual, anti-birokrat, dan populis. Netizen Tiongkok bahkan menyebut Trump sebagai “Chuan Jianguo” alias “Trump sang pembangun bangsa,” karena dinilai melemahkan Amerika dan memperkuat Tiongkok.

Mao Zedong, sang arsitek Revolusi Kebudayaan, kini jadi cermin bagi gaya kepemimpinan Trump di mata sebagian orang Tiongkok.
‘Meniru Mao’ dan Simbolisme Baru
Di masa Mao, rakyat menyanyikan lagu “Sailing the seas depends on the helmsman.” Kini, warga Tiongkok menyindir Trump dengan menyebutnya sebagai “matahari Amerika,” mengacu pada gelar Mao sebagai “matahari merah Tiongkok.”
Trump juga diduga membangun kultus pribadi. Saat Brendan Carr mengenakan pin emas bergambar wajah Trump, akademisi Tiongkok melihat kemiripan dengan lencana Mao di masa lalu.
‘Revolusi Kebudayaan Gaya Amerika’
Menurut Zhang Qianfan, pakar hukum Tiongkok, kebijakan Trump menyerupai Revolusi Kebudayaan Amerika. Seperti Mao, Trump memusuhi lembaga hukum dan membawa loyalis non-establishment seperti Elon Musk ke lingkaran kekuasaan.
“Trump membongkar sistem lama agar loyalisnya masuk,” ujar Zhang.
Simbolisme dan Kekuasaan Tak Terbatas
Trump bahkan bercanda soal menjabat tiga periode, mengutip langkah Presiden Xi Jinping yang menghapus batas masa jabatan pada 2018. Trump menyebutnya “hebat” dan mungkin ingin “mencoba sendiri.”
Dampak Global dan Harapan Baru
Meski berbeda konteks, Trump tetap mengubah tatanan dunia. Ia merusak aliansi transatlantik dan memaksa sekutu Asia membayar lebih untuk perlindungan AS.
Namun, akademisi seperti Wu Qiang melihat dukungan besar bagi Trump di Tiongkok — dari intelektual hingga rakyat biasa. Mereka berharap munculnya “Trump versi Tiongkok” sebagai pemicu perubahan politik dalam negeri.

Dengan ‘Buku Merah Kecil’ di tangan, para pemuda Revolusi Kebudayaan berdiri di bawah bayang Mao Zedong, simbol kekuasaan mutlak dan loyalitas ideologis.
Penutup: Harapan Demokrasi
Zhang menilai, Trump mencerminkan krisis demokrasi di AS, tetapi masih ada peluang pemulihan.
“Yang penting adalah kemampuan Amerika memperbaiki kontrak sosial sebelum kerusakan jadi permanen,” katanya.
Jika berhasil, kata Zhang, AS tetap bisa menjadi beacon of democracy seperti dulu.
SanggaBuana
Sumber: CNN World
