Retakan besar di dinding, balkon yang terbelah, dan puing-puing beton yang menggantung di udara pada gedung apartemen di kawasan Dahieh ini memperlihatkan kedahsyatan serangan udara Israel yang menghancurkan bangunan warga Beirut. Dari sisa-sisa struktur yang nyaris roboh inilah tampak betapa kerasnya ledakan yang menewaskan seorang komandan senior Hezbollah dan mengguncang jantung permukiman padat penduduk, menghidupkan kembali ketakutan warga akan pecahnya perang besar di Lebanon.

SUPERSEMAR NEWS – INTERNASIONAL — Serangan udara Israel ke kawasan Dahieh, selatan Beirut, kembali mengguncang stabilitas keamanan Lebanon setelah seorang pejabat senior Hezbollah, yang diidentifikasi sebagai Ali Tabtai, tewas dalam operasi militer yang dilakukan meski gencatan senjata internasional masih berlaku. Serangan ini memicu gelombang kecaman, kekhawatiran eskalasi, dan tekanan diplomatik dari berbagai negara, terutama yang terlibat dalam upaya de-eskalasi konflik di Timur Tengah.

Dalam laporan resmi yang dirilis militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF)—yang dapat diakses melalui kanal informasi pertahanan (lihat profil IDF)—Israel menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan operasi presisi dan merupakan bagian dari kampanye untuk menghancurkan jaringan senior Hezbollah yang dituding tengah membangun kembali kekuatan militernya.

Namun, yang menjadi sorotan utama: serangan ini dilancarkan di tengah gencatan senjata yang difasilitasi oleh Amerika Serikat dan Prancis. Aksi ini dianggap sebagai pukulan diplomatik bagi proses perdamaian yang sedang berjalan sejak November tahun lalu.

1. Serangan Udara yang Menghancurkan: “Target Spesifik di Kawasan Padat”

Serangan pada dini hari di wilayah Dahieh, kawasan padat penduduk dan markas historis Hezbollah, menghantam sebuah gedung apartemen bertingkat. Laporan awal dari Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan bahwa setidaknya lima warga sipil tewas dan 28 lainnya terluka, termasuk anak-anak dan perempuan yang saat itu sedang berada di dalam rumah.

Warga sekitar menggambarkan situasi sebagai “gelombang ledakan terbesar dalam beberapa bulan terakhir”. Kawasan tersebut telah mengalami serangan sporadis sejak 2023, tetapi serangan terbaru ini dianggap paling signifikan karena lokasinya berada tepat di jantung basis Hezbollah dan menargetkan sosok berprofil tinggi.

Hezbollah mengonfirmasi bahwa serangan itu menewaskan “seorang komandan senior”, namun memilih untuk tidak mengungkapkan identitas langsung. Meski demikian, sejumlah pejabat keamanan Lebanon memastikan bahwa pola serangan, lokasi target, dan laporan intelijen Israel selaras dengan profil Ali Tabtai.

2. Siapa Ali Tabtai? Tokoh Senior, Komandan Operasi, dan Target Bernilai Tinggi

Ali Tabtai bukan nama asing dalam dunia intelijen dan keamanan regional. Menurut data yang dirilis oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat tahun 2016 (lihat daftar sanksi AS), Tabtai disebut sebagai:

  • Kepala Staf Hezbollah,
  • mantan komandan unit operasi khusus,
  • arsitek koordinasi jaringan militer Hezbollah di Suriah dan Yaman,
  • tokoh sentral dalam pelatihan, logistik, transfer senjata, dan pengiriman personel milisi,
  • serta salah satu tokoh penting dalam upaya memperluas pengaruh Iran melalui jaringan proxy.

AS juga menempatkannya dalam daftar target prioritas dan menawarkan imbalan 5 juta dolar bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi akurat tentang pergerakan atau aktivitas operasionalnya.

Di kalangan analis keamanan, Tabtai dikenal sebagai “bayangan pergerakan Hezbollah”, tokoh yang jarang tampil di publik tetapi memiliki pengaruh strategis dalam operasi lintas negara.

Dengan terbunuhnya Tabtai, banyak pihak menilai bahwa Israel sengaja mengirimkan pesan keras bahwa mereka siap meningkatkan operasi, bahkan jika itu berarti melanggar kesepakatan gencatan senjata.

3. Gencatan Senjata yang Mulai Rapuh: Israel Teruskan Operasi Militer

Gencatan senjata yang disepakati antara Israel dan Hezbollah bukanlah perjanjian formal, tetapi merupakan kesepakatan teknis yang difasilitasi oleh Amerika Serikat dan Prancis. Perjanjian tersebut bertujuan menghentikan eskalasi pasca perang Gaza yang meletus sejak 7 Oktober 2023.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, Israel menilai bahwa Hezbollah:

  • mulai membangun kembali gudang senjata,
  • melakukan penyelundupan senjata melalui Suriah,
  • mempercepat produksi drone kamikaze sebagai alternatif misil,
  • dan memperluas infrastruktur militer hingga ke wilayah sipil.

Menurut analis militer Israel, kondisi ini menjadi ancaman langsung, terutama karena drone dianggap sebagai “senjata murah namun sangat mematikan”.

Israel memandang bahwa serangan terhadap Tabtai sangat strategis, karena dapat memperlambat struktur komando Hezbollah.

Tetapi bagi komunitas internasional, serangan ini justru menandai keruntuhan gencatan senjata dan mengancam konflik regional yang lebih besar.

4. Kepanikan Warga Lebanon: Ketakutan Terulangnya Konflik Besar

Serangan udara Israel otomatis menghidupkan kembali memori kelam warga Lebanon yang pernah mengalami konflik 33 hari pada 2006 dan konflik panjang 13 bulan yang berakhir tahun lalu.

Warga Dahieh menggambarkan situasi sebagai:

  • “langit yang kembali dipenuhi suara pesawat tempur”,
  • “ledakan memecah malam seperti perang telah kembali”,
  • “ketakutan bahwa perang besar hanya tinggal hitungan hari”.

Lebih dari 1,2 juta warga Lebanon sebelumnya telah mengungsi akibat rentetan serangan sejak 2023. Rumah-rumah hancur, infrastruktur terdampak, dan banyak keluarga kehilangan sumber penghidupan.

Serangan terbaru memperkuat kekhawatiran bahwa gelombang pengungsian baru akan terjadi, terutama jika Hezbollah merespons dengan operasi balasan skala besar.

5. Kecaman Presiden Lebanon dan Tuntutan Internasional

Presiden Lebanon Joseph Aoun mengutuk serangan Israel sebagai pelanggaran berat hukum internasional dan meminta Dewan Keamanan PBB untuk:

  • menekan Israel menghentikan serangan,
  • memaksa Israel menarik pasukan dari lima titik perbatasan yang masih dikuasai,
  • dan mempercepat implementasi resolusi yang mengakhiri konflik 13 bulan lalu.

Menurut Presiden Aoun, tindakan Israel bukan hanya agresi militer, tetapi “upaya sistematis untuk memprovokasi perang baru di Lebanon”.

Pemerintah Lebanon selama ini terikat dalam kesepakatan jangka panjang untuk melakukan disarmament Hezbollah, namun Hezbollah menolak langkah tersebut hingga Israel mengakhiri pendudukan, menghentikan serangan, dan membebaskan sejumlah tahanan Lebanon.

Posisi ini membuat pemerintah Lebanon berada di tengah tekanan internal dan eksternal, terutama dari negara-negara Barat.

6. Tekanan dari Amerika Serikat: Target Hezbollah Harus “Dilenyapkan”

Menurut pejabat diplomatik Barat yang berbicara kepada BBC, pemerintah Lebanon sedang menghadapi tekanan keras dari pemerintahan Donald Trump yang mendesak langkah lebih cepat terhadap Hezbollah.

AS menilai:

  • Hezbollah harus dipreteli struktur militernya,
  • pemerintah Lebanon harus menunjukkan komitmen nyata dalam penegakan hukum,
  • dan Iran harus dibatasi pengaruhnya di kawasan.

Washington juga meningkatkan sanksi, termasuk pembekuan aset dan pembatasan aktivitas tokoh-tokoh yang terkait dengan Hezbollah.

Sementara itu, Inggris dan Australia mendukung langkah AS dalam menetapkan Hezbollah sebagai organisasi teroris penuh, tidak hanya sayap militernya.

Kondisi ini menempatkan Lebanon dalam posisi serba salah, karena Hezbollah memiliki dukungan signifikan di dalam negeri serta memiliki kemampuan militer yang lebih kuat dibandingkan angkatan bersenjata Lebanon sendiri.

7. Akar Konflik: Ketegangan yang Tak Kunjung Usai Sejak 7 Oktober 2023

Konflik Israel–Hezbollah kembali berkobar pasca serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Sehari kemudian, Hezbollah mulai menembakkan roket ke wilayah Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza.

Sejak saat itu:

  • Israel melancarkan ratusan serangan udara,
  • Hezbollah melakukan puluhan serangan roket,
  • perbatasan selatan Lebanon berubah menjadi zona konflik aktif,
  • ribuan warga sipil melarikan diri dari kedua sisi perbatasan.

Menurut data pemerintah Lebanon, serangan Israel sejak 2023 menewaskan sekitar:

  • 4.000 warga Lebanon,
  • termasuk ratusan anak-anak,
  • dan menyebabkan kerusakan infrastruktur senilai miliaran dolar.

Sementara Israel melaporkan:

  • 80 tentara tewas,
  • 47 warga sipil meninggal,
  • dan sejumlah kota utara harus dievakuasi.

8. Analisis Strategis: Apa yang Diinginkan Israel?

Serangan terhadap Tabtai bukan sekadar operasi biasa. Banyak analis meyakini bahwa Israel memiliki beberapa tujuan strategis:

(1) Melemahkan Komando Hezbollah

Tabtai adalah figur penting dalam struktur komando. Kematian tokoh seperti ini dapat mengacaukan alur operasi Hezbollah.

(2) Mengirim Pesan ke Iran

Iran dianggap sebagai penyokong utama Hezbollah. Penargetan tokoh senior adalah sinyal keras bahwa Israel berani mengambil langkah lebih jauh.

(3) Menguji Batas Gencatan Senjata

Israel ingin melihat sampai sejauh mana Hezbollah akan merespons. Jika Hezbollah bereaksi besar, Israel dapat mengklaim gencatan senjata telah dilanggar.

(4) Mendapat Dukungan Domestik

Pemerintah Israel saat ini berada di bawah tekanan politik internal. Serangan terhadap tokoh penting dapat memperkuat posisi politik pemerintah.

9. Ancaman Eskalasi: Apakah Perang Besar Akan Terjadi?

Dengan tewasnya Ali Tabtai, banyak pihak khawatir Hezbollah akan membalas. Meski hingga kini belum ada pernyataan resmi mengenai langkah balasan, pola historis Hezbollah menunjukkan:

  • balasan mereka biasanya berupa operasi presisi terhadap militer Israel,
  • atau serangan balistik ke wilayah strategis,
  • dan bisa berlangsung dalam hitungan hari.

Jika Hezbollah melakukan serangan besar, maka:

  • Israel bisa merespons dengan invasi terbatas atau operasi darat,
  • konflik dapat meluas ke Suriah, Gaza, bahkan Irak,
  • dan Iran berpotensi terlibat lebih jauh.

Hal inilah yang dikhawatirkan oleh Uni Eropa dan PBB, mengingat Timur Tengah saat ini sudah dilanda ketegangan di banyak front.

10. Dampak Terhadap Stabilitas Regional dan Geopolitik Dunia

Kematian Tabtai bukan hanya isu lokal Lebanon–Israel. Serangan ini memiliki dampak geopolitik global:

(1) Keterlibatan Iran dan Negara Teluk

Iran, sebagai pendukung utama Hezbollah, dapat meningkatkan bantuan militer, yang kemudian memicu ketegangan baru dengan Arab Saudi dan UEA.

(2) Posisi Amerika Serikat

AS berada dalam situasi dilematis:

  • mereka mendorong stabilitas regional,
  • tetapi juga mendukung Israel secara militer.

(3) Dampak Ekonomi Global

Setiap eskalasi konflik di Timur Tengah biasanya berdampak pada:

  • kenaikan harga minyak,
  • gangguan perdagangan internasional,
  • volatilitas pasar global.

11. Penutup: Ancaman Perang Baru di Timur Tengah

Serangan Israel yang menewaskan Ali Tabtai dapat menjadi titik balik baru dalam konflik panjang Israel–Hezbollah. Meski gencatan senjata masih berlaku, aksi Israel menunjukkan bahwa situasi di lapangan dapat berubah sewaktu-waktu.

Sementara itu, masyarakat internasional mendesak semua pihak untuk menahan diri. Namun, sejarah menunjukkan bahwa serangan terhadap tokoh penting Hezbollah hampir selalu memicu reaksi besar.

Dunia kini menunggu:
Apakah Hezbollah akan membalas?
Apakah Israel siap menghadapi eskalasi lebih besar?
Dan apakah Lebanon kembali akan menjadi medan perang proxy?

Semua pihak berharap konflik tidak kembali meluas. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan hanya meningkat, dan situasi semakin sulit dikendalikan.***(SB)

SupersemarNewsTeam